Kakek. Sosok yang kukenal sejak aku
lahir. Ia sudah kuanggap seolah ayahku. Karena di hari lahirku, beliaulah orang
yang menunggu kelahiranku. Ia juga yang melantunkan iqamah di telingaku. Ia pun
bernyanyi untukku seharian agar aku berhenti menangis. Ia sangat menyayangiku.
Tidak hanya aku, tetapi semua cucunya.
Mungkin, apa yang kutulis hanya sedikit
serpihan kenangan yang kuingat darinya. Dari Kakek. Ia selalu meluangkan waktu
untuk mengunjungi cucu-cucunya, termasuk aku yang tinggal jauh darinya. Semasa
kecil, hampir setiap bulan ia berkunjung ke rumah. Membawa banyak oleh-oleh,
bercerita tentang banyak hal, bernyanyi dan berdoa untuk kami.
Kakek adalah orang yang hanif. Beliau
menghabiskan waktunya dengan buku yang mendekatnya dengan Rabbnya. Setiap hari
ia meluangkan waktu untuk membaca. Masih kuingat jelas saat aku iseng mengambil
kacamata yang sering ia pakai untuk membaca. Tidak hanya itu, aku selalu duduk
di pangkuannya dan tidak sadar diri bahwa semakin lama aku semakin besar dan
berat. Tapi beliau tidak pernah mengeluh. Beliau masih suka menggendongku,
bernyanyi lagu Jepang dan bercerita tentang banyak hal.
Kakek juga adalah orang yang sangat
sederhana. Padahal, beliau adalah tokoh masyarakat. Jika kami pergi kemana-mana
dan orang-orang tahu kami adalah cucu Kakek, mereka akan sangat takjub. Tapi
aku tidak pernah melihat Kakek tinggi hati. Kakek tetaplah Kakek. Kakek yang
menyayangi cucu-cucunya.
Hal yang selalu kutunggu dari Kakek
adalah cerita, nyanyian dan sholat berjamaah. Setelah selesai sholat, saat kami
mencium tangannya selaksa doa tercurah untuk kami. Aku sangat senang didoakan
oleh Kakek. Bukan hanya karena artikulasinya yang lucu, tetapi aku bisa
merasakan betapa Kakek sangat menyayangi kami. Bahkan mungkin setiap detik
doanya adalah untuk kami. Selain itu, Kakek juga sering datang pada saat kami
menerima raport. Beliau datang hanya sekedar ingin tahu prestasi cucunya. Jika
kami mendapat juara pertama, beliau pasti akan memberi kami hadiah. Sehingga
itu merupakan hal yang sangat ditunggu oleh sebagian besar sepupuku. Tidak bisa
kupungkiri aku pun menunggu hal itu tetapi itu tidak lebih menarik dari
nyanyian Kakek tentang Momotaro, sholat berjamaah dan cerita dongengnya.
Kepergian Kakek bisa dibilang
tiba-tiba. Beliau tidak sakit. Tetapi, begitulah ajal. Tidak bisa dimajukan pun
tak bisa diundur. Ajal bisa datang kapan saja. Untuk beberapa saat akhirnya aku
menyadari bahwa aku telah kehilangan seseorang yang berharga.
Terima kasih, Kek. Karena doa Kakek,
aku mampu menemukan jalan yang kucari. Jalan kebenaran. Aku tidak tahu doa yang
Kakek panjatkan untukku, tapi aku yakin karena doa itulah aku menjadi seperti
sekarang. Dari Kakek aku banyak belajar, meski kenangan Kakek hanya sedikit di
benakku, aku tidak akan pernah melupakan Kakek. You still here, in my heart
forever. Love you in Allah as always, Grandpa <3
No comments:
Post a Comment