Sunday, September 29, 2013

You, In My Eyes


Kakek. Sosok yang kukenal sejak aku lahir. Ia sudah kuanggap seolah ayahku. Karena di hari lahirku, beliaulah orang yang menunggu kelahiranku. Ia juga yang melantunkan iqamah di telingaku. Ia pun bernyanyi untukku seharian agar aku berhenti menangis. Ia sangat menyayangiku. Tidak hanya aku, tetapi semua cucunya.
Mungkin, apa yang kutulis hanya sedikit serpihan kenangan yang kuingat darinya. Dari Kakek. Ia selalu meluangkan waktu untuk mengunjungi cucu-cucunya, termasuk aku yang tinggal jauh darinya. Semasa kecil, hampir setiap bulan ia berkunjung ke rumah. Membawa banyak oleh-oleh, bercerita tentang banyak hal, bernyanyi dan berdoa untuk kami.
Kakek adalah orang yang hanif. Beliau menghabiskan waktunya dengan buku yang mendekatnya dengan Rabbnya. Setiap hari ia meluangkan waktu untuk membaca. Masih kuingat jelas saat aku iseng mengambil kacamata yang sering ia pakai untuk membaca. Tidak hanya itu, aku selalu duduk di pangkuannya dan tidak sadar diri bahwa semakin lama aku semakin besar dan berat. Tapi beliau tidak pernah mengeluh. Beliau masih suka menggendongku, bernyanyi lagu Jepang dan bercerita tentang banyak hal.
Kakek juga adalah orang yang sangat sederhana. Padahal, beliau adalah tokoh masyarakat. Jika kami pergi kemana-mana dan orang-orang tahu kami adalah cucu Kakek, mereka akan sangat takjub. Tapi aku tidak pernah melihat Kakek tinggi hati. Kakek tetaplah Kakek. Kakek yang menyayangi cucu-cucunya.
Hal yang selalu kutunggu dari Kakek adalah cerita, nyanyian dan sholat berjamaah. Setelah selesai sholat, saat kami mencium tangannya selaksa doa tercurah untuk kami. Aku sangat senang didoakan oleh Kakek. Bukan hanya karena artikulasinya yang lucu, tetapi aku bisa merasakan betapa Kakek sangat menyayangi kami. Bahkan mungkin setiap detik doanya adalah untuk kami. Selain itu, Kakek juga sering datang pada saat kami menerima raport. Beliau datang hanya sekedar ingin tahu prestasi cucunya. Jika kami mendapat juara pertama, beliau pasti akan memberi kami hadiah. Sehingga itu merupakan hal yang sangat ditunggu oleh sebagian besar sepupuku. Tidak bisa kupungkiri aku pun menunggu hal itu tetapi itu tidak lebih menarik dari nyanyian Kakek tentang Momotaro, sholat berjamaah dan cerita dongengnya.
Kepergian Kakek bisa dibilang tiba-tiba. Beliau tidak sakit. Tetapi, begitulah ajal. Tidak bisa dimajukan pun tak bisa diundur. Ajal bisa datang kapan saja. Untuk beberapa saat akhirnya aku menyadari bahwa aku telah kehilangan seseorang yang berharga.
Terima kasih, Kek. Karena doa Kakek, aku mampu menemukan jalan yang kucari. Jalan kebenaran. Aku tidak tahu doa yang Kakek panjatkan untukku, tapi aku yakin karena doa itulah aku menjadi seperti sekarang. Dari Kakek aku banyak belajar, meski kenangan Kakek hanya sedikit di benakku, aku tidak akan pernah melupakan Kakek. You still here, in my heart forever. Love you in Allah as always, Grandpa <3

No comments:

Post a Comment