Sunday, September 29, 2013

Mereka Merindukan Surga


Saat perang Badar, Khaitsumah bin Harits dan putranya, Saad membuat undian. Akhirnya undian Saat keluar. Ayahnya berkata
"Nak, mengalahlah untuk Ayah kali ini"
Saad membalas
"Yah, andai untuk selain surga, tentu aku mau mengalah"
Akhirnya Saad pun pergi ke Badar dan di sana ia terbunuh.
Ayahnya, Khaitsumah terus menanti-nantikan surga hingga perang Uhud dan akhirnya ia pun terbunuh di sana.
Semoga Allah meridhoi keduanya. aamiin
Bagaimana dengan kita?

Copas dari Musyrifah, Ustadzah Lola.

Stop Walking, Starts Running

Jalan panjang dan berliku itu bernama dakwah
Tidak semua orang memilih untuk melewatinya
Namun, ia tak pernah sepi
Meski hanya satu atau dua orang yang melintasi

Terkadang, para pejuang satu per satu berlalu pergi
Berhenti atau menghilang untuk menenangkan diri
Atau mungkin terlalu lelah
Karena tak kunjung sampai ke penghujungnya

Perjalanan ini panjang
Dilalui bukan hanya dengan satu atau dua langkah
Namun, ia harus dilintasi dengan segenap usia
Hingga pada batas yang tidak terdefinisi
Ia akan berakhir

Jika lelah berjalan, berhentilah
Bukan untuk beristirahat
Bukan untuk bersembunyi
Apalagi untuk melarikan diri

Berhentilah untuk mengatur langkah
Menguatkan pijakan
Menyiapkan kekuatan
Mulailah berlari

Berlarilah menuju kebaikan
Kebaikan di sisiNya
Surga yang menantimu datang
Dengan penuh suka cita

Karena Allah menyukai mereka yang bersegera
Bersegera menuju ampunanNya
Bersegera menuju dekapanNya
Dalam cinta yang sempurna
Berlarilah
Hingga impian dan cita-cita tak memiliki batas
Hingga kalimatNya tegak
Bersama panji-panji tauhid yang berkibar gagah

So, stop walking
Starts running
And don’t stop
To be better and be faster

Al Khairat, September 29th 2013. 01.27 PM.


Strong


Sistem takkan peduli apa masalahmu
Sedalam apa kesedihanmu
Seberapa sulit kau menahan pedih
Seberapa keras tantangan yang harus kau taklukkan

Semakin kau menenggelamkan diri
Semakin kau terperosok
Be strong, you just have to be strong
Just be stronger

Umat takkan bisa mendengar jeritan hatimu
Takkan mampu merasakan kesakitanmu
Takkan sudi melihat kau dalam lemah
Karena mereka pun sudah terlalu sibuk dengan dirinya

Semakin kau meninggalkan mereka
Semakin mereka jauh terbelakang
Be strong, you just have to be strong
Just be stronger

Karena iman
Kan runtuhkan segala halangan
Kan hapus segala rintangan
Kan mudahkan segala kesulitan
Percayalah
Selagi Allah ada
Kau tak berjuang sendirian
Meski sistem terus mengekangmu
Mengekangmu untuk bergerak

Kesempitan yang menjeratmu
Kesedihan yang menerormu
Kepedihan yang menelusup dalam jiwamu
Kalahkan dengan imanmu

Karena ia adalah bara yang takkan pernah padam
Be strong, you just have to be strong
Just be stronger
With your iman

Khairunnisa, September 27th 2013. 12.38 AM


You, In My Eyes


Kakek. Sosok yang kukenal sejak aku lahir. Ia sudah kuanggap seolah ayahku. Karena di hari lahirku, beliaulah orang yang menunggu kelahiranku. Ia juga yang melantunkan iqamah di telingaku. Ia pun bernyanyi untukku seharian agar aku berhenti menangis. Ia sangat menyayangiku. Tidak hanya aku, tetapi semua cucunya.
Mungkin, apa yang kutulis hanya sedikit serpihan kenangan yang kuingat darinya. Dari Kakek. Ia selalu meluangkan waktu untuk mengunjungi cucu-cucunya, termasuk aku yang tinggal jauh darinya. Semasa kecil, hampir setiap bulan ia berkunjung ke rumah. Membawa banyak oleh-oleh, bercerita tentang banyak hal, bernyanyi dan berdoa untuk kami.
Kakek adalah orang yang hanif. Beliau menghabiskan waktunya dengan buku yang mendekatnya dengan Rabbnya. Setiap hari ia meluangkan waktu untuk membaca. Masih kuingat jelas saat aku iseng mengambil kacamata yang sering ia pakai untuk membaca. Tidak hanya itu, aku selalu duduk di pangkuannya dan tidak sadar diri bahwa semakin lama aku semakin besar dan berat. Tapi beliau tidak pernah mengeluh. Beliau masih suka menggendongku, bernyanyi lagu Jepang dan bercerita tentang banyak hal.
Kakek juga adalah orang yang sangat sederhana. Padahal, beliau adalah tokoh masyarakat. Jika kami pergi kemana-mana dan orang-orang tahu kami adalah cucu Kakek, mereka akan sangat takjub. Tapi aku tidak pernah melihat Kakek tinggi hati. Kakek tetaplah Kakek. Kakek yang menyayangi cucu-cucunya.
Hal yang selalu kutunggu dari Kakek adalah cerita, nyanyian dan sholat berjamaah. Setelah selesai sholat, saat kami mencium tangannya selaksa doa tercurah untuk kami. Aku sangat senang didoakan oleh Kakek. Bukan hanya karena artikulasinya yang lucu, tetapi aku bisa merasakan betapa Kakek sangat menyayangi kami. Bahkan mungkin setiap detik doanya adalah untuk kami. Selain itu, Kakek juga sering datang pada saat kami menerima raport. Beliau datang hanya sekedar ingin tahu prestasi cucunya. Jika kami mendapat juara pertama, beliau pasti akan memberi kami hadiah. Sehingga itu merupakan hal yang sangat ditunggu oleh sebagian besar sepupuku. Tidak bisa kupungkiri aku pun menunggu hal itu tetapi itu tidak lebih menarik dari nyanyian Kakek tentang Momotaro, sholat berjamaah dan cerita dongengnya.
Kepergian Kakek bisa dibilang tiba-tiba. Beliau tidak sakit. Tetapi, begitulah ajal. Tidak bisa dimajukan pun tak bisa diundur. Ajal bisa datang kapan saja. Untuk beberapa saat akhirnya aku menyadari bahwa aku telah kehilangan seseorang yang berharga.
Terima kasih, Kek. Karena doa Kakek, aku mampu menemukan jalan yang kucari. Jalan kebenaran. Aku tidak tahu doa yang Kakek panjatkan untukku, tapi aku yakin karena doa itulah aku menjadi seperti sekarang. Dari Kakek aku banyak belajar, meski kenangan Kakek hanya sedikit di benakku, aku tidak akan pernah melupakan Kakek. You still here, in my heart forever. Love you in Allah as always, Grandpa <3

Sunday, September 15, 2013

Bersih-Bersih untuk Kesekian Kali

Welcome home. Welcome to this blog. Berasa udah lama sekali saya ninggalin blog ini. Padahal, terakhir posting minggu lalu. Mungkin karena udah jarang nulis saking sulitnya menyempatkan waktu. Hmm, mikir-mikir tentang apa yang perlu ditulis, sebenarnya banyak hal yang bisa ditulis. Bahkan saat kepala kacau sekalipun saat menulis semua bisa terurai perlahan.

Ketika tinta bercerita, ada saja yang tertoreh. Semoga segala jerih payah ini terlihat olehNya, Sang Pemilik Kehidupan Kekal nan Abadi. Karena sejatinya dunia ini hanyalah persinggahan sementara yang setiap kali tertapaki akan membawa menuju titik akhir.

Selamat menapaki jalan pulang, Ditri. Tetaplah berjalan sesuai dengan jalan yang sudah Digariskan olehNya. Ikutilah apa yang menjadi perintahNya dan jauhilah apa-apa yang dilarangNya. Karena sejatinya, tiadalah apapun yang engkau tuju selain ridhoNya.

Rumah Pintar, Perjalanan mengukir Sejarah.

15 September 2013


Monday, September 02, 2013

Life is Choice

Mungkin judulnya udah terlalu pasaran. Banyak orang tahu, tapi sedikit orang yang tahu, begitu kata Ustadz Felix Siauw. Hmm, emang sih, ngmg itu selalu lebih gampang daripada berbuat. 
Ngomong-ngomong soal life is choice, kemarin, setelah sekian lama akhirnya bisa nonton tivi *halaah lebay deh* Karena hari Minggu, banyak kartun yang disiarkan. Nah, kemarin itu aku nonton Teenage Mutant Ninja Turtle atau biasa dibilang Kura-kura Ninja. Trus, apa hubungan kura-kura ninja dengan life is choice? Eh, sabar. Habis ini dijawab kok :)
Kemarin itu episode Kura-kura Ninjanya tentang si Kura-kura ninja yang topengnya merah. Si Rafael. Dia itu super temperamen. Dikit-dikit marah. Dan gara-gara marahnya itu, dia gak fokus sama siapa yang harus dia lawan. Tiga temannya yang lain sampai pusing gara-gara dia. Akhirnya, Rafael disidang sama gurunya. 
Gurunya cerita, waktu mudanya gurunya itu pernah marah gara-gara dihina sama rivalnya. Awalnya si guru gak peduli, tapi lama kelamaan gurunya emosi juga. Akhirnya dia mukulin temannya itu. Singkat cerita, si temannya malah jadi musuhnya. Dan gara-gara kemarahan gurunya semua jadi tragedi. Temannya jadi jahat dan menghancurkan hidup gurunya.
"Wajar dong, Guru marah. Dia kan udah keterlaluan. Guru gak ada pilihan lain", kata Rafael.
"Kamu salah, Rafael. Guru punya pilihan untuk ngebiarin dia ngehina Guru. Gara-gara kemarahan Guru, dia jadi jahat dan menghancurkan semuanya. Kita semua punya pilihan. Dan kamu juga punya pilihan untuk itu", kata gurunya Rafael.
Begitulah, akan selalu ada pilihan dalam hidup kita. Kita bisa memilih kita akan berjalan seperti apa dalam hidup ini. Hidup ibarat kanvas yang bisa kita lukis dengan bentuk dan warna apapun. Pertanyaannya, akan kita lukis seperti apa hidup kita? Semua itu ada di tangan kita. Meski memang terkadang ada hal-hal yang hanya bisa kita terima karena itu merupakan qadha (ketetapan) dari Allah SWT. 
Tetapi, Allah berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka" (QS. Ar Ra’du : 11)
Dan setiap pilihan pasti punya resiko. Bad mood ada resikonya, kelewat senang juga punya resiko bahkan jatuh cinta juga punya resiko. Dakwah apalagi. Kalo hidup gak punya resiko, neraka gak mungkin ada. 
Apapun pilihannya, pasti ada resikonya. Namun, apapun resikonya, Allah berfirman :
"Sesungguhnya Allah tidak akan membebankan sesuatu melainkan dengan kesanggupan hambaNya"
Seberat apapun resiko karena pilihan kita, insya Allah akan bisa kita pikul. Jangan minta bebannya dikurangi, mintalah pundak yang kuat untuk bisa memikulnya. Jangan menyalahkan keadaan, tapi mintalah jiwa yang kuat untuk menghadapinya. 
Life still goes on. Stop blaming, keep walking. Because the light is waiting for you. 
Karena badai pasti berlalu. Fastabiqul Khairaat.
Ujian itu datangnya dari Allah, maka bersandarlah kepadaNya dan serahkan ia kepada pemiliknya.

Khairunnisa, 2 September 2013.
Putaran ke-21.

Ditri Ayu R.A.L.