Bapak. Begitulah aku memanggilnya. Banyak orang yang mengatakan bahwa aku mirip Bapak. Bapak orang yang unik. Bapak orang yang tidak banyak berbicara. Bapak juga punya cara yang berbeda untuk menunjukkan rasa sayangnya pada kami. Aku bisa dibilang lumayan dekat dengan beliau meski kami tidak selalu cocok.
Kadang Bapak marah, tetapi jarang. Dan lucunya Bapak selalu marah di saat yang tidak tepat. Ketika tidak harus marah, beliau marah. Ketika harusnya marah, beliau tidak marah. Saat Bapak marah di tempat yang tidak pas, saat itulah aku akan menggugatnya. Beradu argumen hingga berujung pada jalan buntu. Tetapi, itu juga yang sering membuatku sedih ketika mengingat beliau. Meski Bapak sudah berbeda dengan yang dulu ketika kami kecil, tetapi rasa itu tidak pernah berubah untuk Bapak.
Bapak sangat suka kopi. Beliau juga adalah perokok aktif dan tak jarang aku mengomel kepada beliau karena aku asma dan beliau suka merokok. Setiap pagi Bapak selalu bangun lebih pagi dari kami. Mungkin karena kebiasaan beliau saat masih jadi TNI. Setelah sholat subuh beliau akan ke dapur dan membuat kopi. Setelah itu beliau akan bersih-bersih halaman rumah. Bapak melakukan itu beberapa waktu sampai aku sadar bahwa aku yang seharusnya membantu beliau minimal membuatkan kopi untuk beliau. Tak jarang, Bapak malah membangunkan kami kala kami tidur selepas sholat subuh. Jadi malu rasanya, padahal kami anak perempuan.
Aku masih ingat saat SMP aku selalu diantar Bapak ke sekolah meski harus bertengkar dulu dengan adikku yang juga selalu ingin diantar ke sekolah padahal, sekolahnya tidak begitu jauh. Ketika Mama melarangku untuk belajar mengendarai motor, Bapak yang selalu mengizinkanku untuk latihan bahkan setelah kecelakaan pun Bapak masih percaya padaku. Setiap aku bilang, Pak, pinjem motor ya. Mau ke rumah teman. Bapak hanya menjawab, boleh. Tapi hati-hati. Sangat berbeda dengan Mama yang selalu punya 1001 alasan agar aku tidak mengendarai sepeda motor. Mama lebih percaya pada Adik daripada aku. Tapi, tidak dengan Bapak. Karena Bapak aku berani dan jadi lebih mandiri.
Saat aku patah hati, Bapaklah tempatku bersandar pertama kali meski dulu aku tidak mengatakannya. Bapak juga yang selalu hadir saat penerimaan raport di sekolah. Terkadang aku malu. Namun, Bapak selalu menunjukkan kebanggaannya padaku saat mengambilkan raportku meski aku tidak selalu jadi 3 teratas. Waktu aku harus bimbingan belajar menjelang UN SMA, Bapak juga yang menungguku dan menjemputku. Pernah sekali aku membuat Bapak menunggu. Aku tidak tahu Bapak menungguku, aku akhirnya pulang sendiri. Ternyata, Bapak masih menungguku dan Bapak tidak punya hp jadi aku tidak bisa menghubunginya. Sesampai di rumah, Mama marah-marah. Aku hanya bisa menangis menyesali kenapa aku tidak menunggu Bapak saja. Namun, saat Bapak datang Bapak sama sekali tidak marah. Bapak malah memintaku untuk berhenti menangis. Ketika mengingat saat itu, aku tidak akan bisa menahan rasa haru karena Bapak.
Bapak. Beliau tidak pernah mengatakan bahwa beliau menyayangi kami. Beliau juga menunjukkan cara yang menurutku harus kami definisikan sendiri untuk sebuah rasa sayang. Bapak. Perlahan waktu mengambil usianya. Allah bisa menjemputnya kapan saja. Dan sekarang keadaannya sudah tidak sama lagi. Ingin rasanya aku pulang dan merawat Bapak serta membuatkan kopi untuknya. Ya Allah, jagalah Bapak. Berkahilah hidupnya. Tunjukkanlah ia kepada hidayahMu. Aku percaya Bapak adalah orang baik. Meski tidak seperti itu di mata Mama. Maafkan anakmu, Pak. Aku belum bisa menjadi anak yang sepenuhnya berbakti. Hanya doa yang bisa kukirimkan untuk Bapak. Semoga Allah menyertai Bapak dan semoga hari-hari terakhir Bapak diisi dengan amalan shalih. Aku hanya berusaha menjadi anak yang shalihah untuk bisa mendoakan Bapak ketika Bapak telah tiada. Karena akulah harta Bapak. Kakak dan Adik juga. Aku selalu menyayangi Bapak karena Allah.
Rabbanaghfir warhamhuma kamaa robbayani shaghiraa..
Khairunnisa, August 26th 2013. 10.45 PM.
No comments:
Post a Comment