Awalnya kita tidak begitu dekat. Tapi, beberapa waktu lalu dia selalu SMS setiap kali butuh tumpangan untuk menyegarkan pikiran. Entah untuk belajar karena dia selalu ngantuk kalo misal harus baca buku atau belajar biar bisa konsentrasi. Soalnya, di rumah jarang ada orang, jadi sepi. Pas banget buat menenangkan pikiran. Senyap, lengang. Mantap dah pokoknya. Asal gak ada suara horror aja *ups
Singkat cerita,kami selalu ke kampus untuk mencari orang yang bisa diajak diskusi tentang Islam. Yah, syukur-syukur ada yang mau. Biasalah, mahasiswa sekarang kebanyakan kerjaan. Diajak ngomong Islam semua pada ogah. Padahal, katanya pengen masuk surga.
Oke, balik lagi tentang dia. Suatu sore di kampus, kami jalan-jalan di sepanjang taman rektorat. Di sana selalu ramai dengan orang-orang yang berkumpul, entah sedang rapat atau hanya sekedar ngumpul-ngumpul gak jelas. Si dia ngeliatin orang-orang di sana dengan pandangan lekat.
“Dek, jangan ngeliatin gitu napa? Dikirain kita mau ngapain,” kataku padanya.
“Hhe, aku emang suka ngeliatin orang-orang mbak,” jawabnya sambil nyengir.
“Aneh banget. Kenapa suka ngeliatin orang?,” tanyaku padanya.
“Yah, ngeliatnya gak sekedar ngeliatin kali mbak. Aku tuh merhatiin. Beda lho ngeliatin sama merhatiin,” jawabnya.
“Tapi sama-sama diliat aneh sama orang lain, dek,” kataku.
“Aku merhatiin biar bisa mencermati mbak. Semua orang bisa kalo hanya sekedar ngeliatin. Tapi, gak semua orang bisa melihat lebih dekat untuk mencermati. Itu namanya merhatiin,” katanya.
Aku kemudian berpikir. Hmm, benar juga katanya. Seringkali kita hanya sekedar melihat fakta di hadapan kita tapi kita hampir tidak pernah mencoba mencermati fakta tersebut. Akhirnya, kebanyakan orang tertipu oleh fakta dan berujung pada pragmatisme. Banyak hal yang kemudian salah disikapi hanya gara-gara tidak bisa membedakan antara melihat dengan mencermati.
Banyak sekali permasalahan yang seharusnya bisa diselesaikan tetapi ketika hanya dilihat sebagai masalah akhirnya yang disentuh hanya bagian cabang, bukan akarnya. Misalnya, saat ini lagi rame-ramenya dan heboh-hebohnya soal kenaikan BBM. Orang-orang yang hanya sekedar melihat, tetapi tidak cermat akan dengan gampangnya mengatakan setuju dengan kenaikan BBM karena melihat selama ini subsidi BBM membebani pemerintah sehingga jika subsidinya dicabut maka subsidinya akan digunakan di sektor yang lain. Tapi, pernah gak sih ada yang nyoba merhatiin dan bertanya. Kenapa kita harus subsidi BBM? Bukannya kita yang punya ratusan sumur minyak? Kenapa kita harus bayar mahal untuk BBM? Pernah gak sih ada yang bertanya, kenapa harus BLSM? Emang Cuma rakyat miskin aja yang kena dampaknya? Kenapa bantuannya gak merata? Kenapa harus berdasarkan kelas sosial? Tanya kenapa. Kenapa Tanya? Itu contoh pertama. Selanjutnya, tentang Miss World yang bakal diadakan di Indonesia, negeri muslim terbesar di dunia. Jika hanya sekedar melihat, semua orang akan mengatakan ajang ini sangat bagus untuk mempromosikan Indonesia di mata dunia. Tapi, pernah ada yang nanya gak, kenapa kok harus di Indonesia? Emang promosi pariwisata Cuma dari Miss World doang? Emang bisa ngukur kepribadian hanya dalam waktu singkat dengan slogan Brain, Beauty and Behavior? Itu contoh kedua. Nah, yang paling sering dipromosikan oleh orang kebanyakan adalah Demokrasi. Menurut sebagian besar orang, Demokrasi adalah sistem pemerintahan terbaik meskipun pada faktanya Demokrasi tidak mampu memberikan apa yang diharapkan oleh semua orang. Jika hanya sekedar melihat, tentu semua itu adalah hal yang baik-baik saja. Tapi, cermatilah. Lihat lebih dekat, lihat lebih cermat. Apalagi kita adalah seorang Muslim dimana seluruh perbuatan kita terikat oleh hukum syara’. Apapun yang kita lakukan haruslah senantiasa berstandar dari aturan Allah.
Maka, jangan buru-buru mengatakan ini baik atau ini buruk hanya dengan melihat tanpa mencermati. Karena penglihatan semata tidak akan membawa kepada kesimpulan yang benar.
Thanks to Dian Pertiwi. Meskipun kita selalu ribut, tapi kalo kamu gak ada rasanya sepi banget. Selamat dakwah keluarga ya dek.. Ditunggu ceritanya :)
130713
-Rafiqah Dhiya Farzana-
No comments:
Post a Comment