Saya gak tau ini jenis tulisan model apa. Mau dibilang
artikel, gak memenuhi kriteria. Dan saya gak mau tulisan ini disebut tulisan curcol karena itu kelewat lebay buat
saya *siapa juga yang nyebut. Kegeeran* Yah, apapun tulisannya minumnya teh
botol sosro #eh Sebenarnya sih mau dikirim kemanaa gitu. Tapi, kayaknya gak ada yang mau nerima deh, saking kacaunya nih tulisan. Tapi gapapalah.. Sekedar pengen berbagi aja. Kali aja ada yang baca *ngarep
Daripada
terus-menerus ngawur kita sudahi saja
kekacauan ini *lu yang bikin kacau* Dalam kesempatan yang berbahagia ini, saya ingin menyampaikan *jiaah,
modelnya udah kayak orang mau khutbah jumat aja*
Baiklah,
seperti judulnya, saya ingin sedikit membahas tentang move on. Ngomong-ngomong
soal move on nih, setiap orang pasti punya masa lalu, entah itu masa lalu yang
menyenangkan untuk dikenang ataupun sebaliknya. Saya, Anda dan kita semua juga
pasti punya yang namanya masa lalu. Kadang, masa lalu itu jadi obat untuk
menapaki masa depan. Tapi, seringkali ia jadi racun karena terlalu disesali. Bahkan,
kadang sudah diganti pun masih juga nyesel. Lucunya, seringkali kita selalu
teringat dengan masa lalu yang kelam dan bikin kita jadi sulit move on. Contoh,
takut jatuh cinta karena udah sering patah hati. Saking seringnya sampai udah
gak ada lagi air mata yang menetes *alah, lebay* Tapi, ada episode lain tuh.
Ada semboyan yang menyatakan, “Cinta Ditolak, Dukun Bertindak” *gubrakz* Atau
takut ta’arufan karena udah seringkali berakhir di tengah jalan. Atau malah
takut menikah karena trauma dengan tragedi dalam keluarga atau yang lebih
tragis malah memilih suka sama yang sejenis biar gak sakit hati lagi *naudzubillah
min dzalik deh sama yang kayak gitu* Nah, itu cuma beberapa cuplikan racun masa
lalu yang bikin ogah move on. Dan itu juga menjangkiti kaum muslimin abad 21
ini. Saking putus asanya, mereka jadi apatis dan ogah untuk move on.
Saat
ini, kaum muslimin dilanda musibah bertubi-tubi dari berbagai penjuru. Dari
semua sisi pokoknya. Aqidah, ekonomi, politik, sosial, budaya, pendidikan,
pokoknya di semua sendi kehidupan. Kaum muslimin jadi yang paling bawah. Yang
jelek-jelek semua ditujukan ke kaum muslimin. Ibaratnya, semua mata tertuju
padamu tapi yang dilihat semua kekuranganmu saking parah banget dirimu *lebay
lagi* Sebenarnya, hal itu bukan tanpa permulaan. Yah, ntar silahkan baca aja sendiri. Saya kasihtau
judul bukunya tapi di belakang layar ya ^_^ *silahkan add fb saya atau follow
twitter saya. Jiaaah -_-* Oke, lanjut. Nah, permasalahan kompleks yang menimpa
kaum muslimin saat ini gak bisa disederhanain hanya konteks Indonesia aja. Karena
pada faktanya, kaum muslimin itu gak terpisahkan meski sekarang negeri kaum
muslimin terpecah-pecah menjadi lebih dari 50 negara. Semua bermula pada 28
Rajab 1342 H/3 Maret 1924 M. Hari itu adalah hari paling bersejarah sekaligus
hari paling keramat di dunia Islam. Kenapa? Pasalnya, pada hari itu, jantung
kekuatan politik-spiritual kaum Muslimin, Daulah Khilafah Islamiyah telah
diruntuhkan oleh seorang Yahudi keturunan Inggris penganut Freemasonry bernama
Mustafa Kemal *la’natullah alaih* Sejak saat itulah musibah datang menimpa kaum
muslimin tanpa henti layaknya hujan duren eh hujan asam atau apalah namanya. Hingga
detik saya menulis tulisan ini pun, kaum Muslimin masih saja belum keluar dari
masalah. Di luar masih terdengar hiruk-pikuk akibat kenaikan harga BBM.Bahkan
sebelum kenaikannya, di parlemen pun, hal itu masih jadi kontroversi.
Pertanyaannya, sampai kapan mau kayak gini terus? Oke, semua sepakat bahwa
sekarang kondisi sedang tidak baik-baik saja. Masalah terjadi dimana-mana dan
solusinya hanya solusi tambal-sulam itupun solusi yang sudah basi dan saking
basinya bau busuknya tercium sampai ke luar galaksi *ealaahh* Dan yang paling
parah, masih mau aja ditawarin solusi yang sama. Sama orang yang sudah
nyata-nyata menjajah pula *tepok jidat deh*
Lalu,
dari arah yang lain datang suara-suara lantang menyerukan kebangkitan hakiki.
Kebangkitan yang tidak hanya sekedar menawarkan BLT, BLSM atau apapun namanya.
Kebangkitan yang bermuara pada yang satu. Bersatunya kaum Muslimin di seluruh
dunia di bawah naungan Islam dengan penerapan aturan Islam secara sempurna
dalam bingkai sebuah Negara bernama Khilafah. Seruan tersebut adalah seruan
untuk mengganti sistem yang sudah sekarat ini. Seruan untuk kembali bersatu di
bawah panji Rasulullah SAW. Tapi, ternyata tidak semua menyambut seruan itu. Meski
sekarang sudah banyak yang menoleh ke arah sumber suara tersebut, tapi masih
ada juga yang terpasung dalam jeruji masa lalu. Masa ketika hukum Islam
melenceng dari manhaj kenabian. Akhirnya, muncullah suara-suara sumbang.
Apa mungkin, Khilafah
bisa diterapkan di Indonesia? Kita kan bersuku-suku dan beragam alias
multikultur.
Atau
Oke kalo mau menegakkan
Khilafah. Tapi, Khilafah model dinasti mana yang mau ditegakkan?
Atau
lagi
Apa sih yang kalian
cari dengan melakukan pergerakan seperti itu? Emang bisa mengubah sistem tapi
gak masuk dalam sistem (parlemen)?
Atau
Khilafah itu hanya
impian orang-orang idealis saja. Khilafah itu mustahil, utopis.
Dan
masih banyak lagi pernyataan-pernyataan miris yang bahkan keluar dari lisan
seorang yang berpendidikan dan mereka muslim. Itulah jeruji masa lalu. Banyak
diantara kaum Muslimin yang melihat Islam yang diterapkan di masa lalu hanya
yang buruk-buruknya saja. Akhirnya mereka hampir tidak sudi untuk move on. Kaum
Muslimin bahkan masih ada yang ridho dengan sistem kufur Demokrasi serta hukum thagut
buah Kapitalisme-Sekuler yang dibuat oleh para penjajah ketimbang hukum yang
berasal dari Rabb mereka, Rabb yang mereka percaya telah menciptakan mereka dan
seluruh jagad raya ini.Maka, wajarlah jika Allah menegur kita dalam firmanNya :
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena
perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari
(akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar”.(QS.
Ar Ruum [30] : 41)
Dalam
ayat lain Allah juga berfirman :
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thahaa [20] : 124)
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thahaa [20] : 124)
Kesimpulannya, saat ini yang bermasalah
gak hanya sekedar pemimpinnya tapi lebih parah dari itu.Sistemlah yang
menjerumuskan orang-orang ke dalam kubangan lumpur kejahatan.Dan semua itu
terjadi karena kaum Muslimin berlepas diri dari syariat Allah Yang Maha
Sempurna.Karena itu, gak ada cara lain untuk keluar dari masalah ini selain
kembali menerapkan aturan Allah dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah. Masa
lalu bukanlah untuk diratapi sehingga menjadi racun untuk melangkah ke masa
depan yang lebih baik. Masa lalu justru akan menjadi obat mujarab untuk
menjalani masa depan yang lebih baik ketika ia dijadikan sebuah pelajaran. Dan
sesungguhnya tegaknya kembali Khilafah bukanlah khayalan yang utopis tapi ia
ada janji yang sudah ditetapkan oleh Allah dan bisyarah dari RasulNya.
Allah SWT berfirman :
“Dan Allah telah berjanji kepada
orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh
bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi,
sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan
sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk
mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam
ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada
mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.Dan barangsiapa yang (tetap) kafir
sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” (QS.
An Nuur [24] : 55)
Rasulullah SAW bersabda :
“Kenabian
akan terjadi di tengah-tengah kalian dan berlangsung selama Allah menghendaki.
Kemudian Allah akan mencabut jika berkehendak untuk mencabut. Kemudian akan ada
Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian dan berlangsung selama Allah
menghendaki. Kemudian Allah akan mencabut jika menghendaki untuk mencabut.
Kemudian akan kekuasaan yang menggigit (zhalim) dan berlangsung selama Allah
menghendaki. Kemudian Allah akan mencabut jika Allah berkehendak mencabut.
Kemudian akan kekuasaan diktator dan berlangsung selama Allah menghendaki.
Kemudian Allah akan mencabut jika berkehendak untuk mencabut. Kemudian akan
Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Kemudian beliau diam”.(H.R.
Ahmad)
So,
let’s move on to create a brighter future with Khilafah! Allahu Akbar!
No comments:
Post a Comment