Hadits dari Abû Hurairah yang disepakati oleh al-Bukhâri dan Muslim, dari Nabi saw. beliau bersabda:
“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu Pemimpin yang adil; Pemuda yang senantiasa beribadah kepada Allah semasa hidupnya; Seseorang yang hatinya senantiasa terpaut dengan Masjid; Dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah kerena Allah; Seorang lelaki yang diajak oleh seorang perempuan yang cantik dan berkedudukan untuk berzina tetapi dia berkata, “Aku takut kepada Allah!”; Seorang yang memberi sedekah tetapi dia merahasiakannya seolah-olah tangan kanannya tidak mengetahui”
Hadits dari Abû Hurairah riwayat Muslim, Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya kelak di hari kiamat Allah akan berfirman, “Di mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan memberikan naungan kepadanya dalam naungan-Ku disaat tidak ada naungan kecuali naungan-Ku”
Hadits dari Anas bin Mâlik yang dikeluarkan oleh al-Bukhâri, Rasulullah saw. bersabda:
“Siapa pun tidak akan merasakan manisnya iman, hingga ia mencintai seseorang tidak karena yang lain kecuali karena Allah semata”.
***
Ini cerita gue *lagi* Gue masih inget waktu itu sama mbak To. Entah mungkin saking gak terbiasa mengungkapkan perasaan bahkan hanya sekedar menyatakan cinta, akhirnya pas dibilangin salah satu bukti cinta adalah dengan mengucapkannya, rasanya lebay banget. Apalagi gue emang bukan orang yang suka dengan hal-hal kayak gituan. Menurut gue, itu lebay luar biasa. Dulu gue masih berpikir kayak gitu. Sampai suatu hari gue ditegur sama mbak To.
“Mit, yang kayak gitu bukan lebay. Itu tuh perintah Allah. Gak lebay kalo ngomong cinta ke saudara sendiri,” gitu kata mbak To.
Sempat bikin mikir juga. Akhirnya iseng nyoba. Meskipun awalnya malu banget harus ngomong “uhibbuki fillah” atau “love you in Allah” yang artinya aku mencintaimu karena Allah. Mending disuruh nyelam deh *lebay*
“Syif…,” kataku suatu hari pada seorang teman.
“Apa, Za?, katanya.
“Uhibbuki fillah,” kataku singkat. Sumpah itu persis kayak adegan sinetron. Meskipun malu banget sebenarnya mau ngomong kayak gitu.
“Apa? Gak salah? Gak mau jawab aku,” katanya.
Aaaa!!! Gue ditolak. Tapi emang gak gampang sih. Wajarlah kalo ditolak. Orang gak biasa. Si Syifa juga malu sebenarnya. Setelah itu, gue gak bilang kayak gitu lagi selama beberapa waktu ke dia. Akhirnya, gue ngadu ke mbak To.
“Mbak To, aku ditolak Syifa,” kata gue ke mbak To.
“Sabar, Sum. Insya Allah tetap berpahala kok,” kata mbak To. *Jiah, nama gue diganti lagi -_-*
Yah, itu cerita gue tentang cinta. Cinta bukan kayak sekarang. Ini cinta yang beda. Cintanya bermula dari akidah. Sehingga gak ada istilah lebay. Yah, namanya juga cinta, harus ada bukti. Meskipun hanya sekedar mengungkapkan rasa cinta kita. Begitulah Islam mengajarkan kepada kita cara mencintai. Bukan ke lawan jenis lho ya. Kalo soal itu beda lagi pembahasannya.
Mencintai seseorang karena Allah itu berarti mencintai karena keimanannya kepada Allah. Begitu juga dengan membenci. Jadi, semua didasarkan pada ketaatan kepada Allah. Ketika kita mencintai Allah dan RasulNya, maka kita pun akan mencintai saudara kita karena Allah dan RasulNya. Jadi, gak ada ceritanya kita selamanya benci kepada saudara kita. Ketika ia bermaksiat, kita membenci perbuatan maksiatnya sembari mengingatkan agar ia berubah. Ketika ia taat kepada Allah maka kita akan mencintainya tidak peduli seburuk apa ia di masa lalu. Mengatakan bahwa kita mencintai saudara kita karena Allah adalah salah satu bukti cinta kita kepadanya. Selain itu, disunnahkan juga mengunjungi, mendoakan, memberi hadiah, mengucapkan salam dan tersenyum kepada saudara sesama Muslim. Jadi, menunjukkan rasa cinta kepada saudara sesama Muslim bukanlah sesuatu yang lebay.
Beruntung, gue adalah seorang Muslim. Ini adalah pelajaran yang gak akan gue dapatkan dimanapun. Hanya di sini, hanya ketika gue menjadi seorang Muslim dan hanya ketika gue mengkaji Islam secara kaffah. Tapi, gue sadar bahwa itu gak cukup. Gak cukup hanya diri gue yang tahu bagaimana luar biasanya Islam. Seharusnya seluruh kaum Muslimin tahu dan paham. Makanya gue nulis ini. Dan yang pasti ini gak bakalan terwujud kalo Islam hanya diambil setengah-setengah. Hanya dipilih yang enak-enaknya aja. Hal yang kayak gini bakalan terwujud ketika Islam diterapkan secara sempurna dalam seluruh aspek kehidupan dalam naungan Daulah Khilafah.
Wallahu ‘alam bi ash shawaab.
*Special Thanks to Mbak Toreni, Syaza Maryam, Namila Assyifa, Dian Pertiwi, Fitri Inda, Fitriani Thamrin, Nur Mala Sari, Arisa Sativa, Miftahul Jannah, Rohis SMADA 2007-2010 dan semua syabah UB. Gak lupa penghuni tetap dan penghuni nomaden Khairunnisa 1453, Mbak Sari, Nurul, Lani, Arin, Ami, Puput. I’ll gonna miss y’all. Ntar ngariyeung lagi ya ^^