Saturday, July 27, 2013

Menunjukkan Cinta Kepada Sesama Muslim = Lebay…???


Hadits dari Abû Hurairah yang disepakati oleh al-Bukhâri dan Muslim, dari Nabi saw. beliau bersabda:
“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu Pemimpin yang adil; Pemuda yang senantiasa beribadah kepada Allah semasa hidupnya; Seseorang yang hatinya senantiasa terpaut dengan Masjid; Dua  orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah kerena Allah; Seorang lelaki yang  diajak  oleh  seorang  perempuan  yang  cantik  dan berkedudukan untuk berzina tetapi dia berkata, “Aku takut kepada Allah!”;  Seorang  yang  memberi  sedekah  tetapi  dia merahasiakannya seolah-olah tangan kanannya tidak mengetahui”
Hadits dari Abû Hurairah riwayat Muslim, Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya kelak di hari kiamat Allah akan berfirman, “Di mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan memberikan naungan kepadanya dalam naungan-Ku disaat tidak ada naungan kecuali naungan-Ku”
Hadits dari Anas bin Mâlik yang dikeluarkan oleh al-Bukhâri, Rasulullah saw. bersabda:
“Siapa  pun tidak  akan merasakan manisnya iman,  hingga  ia mencintai seseorang tidak karena yang lain kecuali karena Allah semata”.
***
Ini cerita gue *lagi* Gue masih inget waktu itu sama mbak To. Entah mungkin saking gak terbiasa mengungkapkan perasaan bahkan hanya sekedar menyatakan cinta, akhirnya pas dibilangin salah satu bukti cinta adalah dengan mengucapkannya, rasanya lebay banget. Apalagi gue emang bukan orang yang suka dengan hal-hal kayak gituan. Menurut gue, itu lebay luar biasa. Dulu gue masih berpikir kayak gitu. Sampai suatu hari gue ditegur sama mbak To.
“Mit, yang kayak gitu bukan lebay. Itu tuh perintah Allah. Gak lebay kalo ngomong cinta ke saudara sendiri,” gitu kata mbak To.
Sempat bikin mikir juga. Akhirnya iseng nyoba. Meskipun awalnya malu banget harus ngomong “uhibbuki fillah” atau “love you in Allah” yang artinya aku mencintaimu karena Allah. Mending disuruh nyelam deh *lebay*
“Syif…,” kataku suatu hari pada seorang teman.
“Apa, Za?, katanya.
“Uhibbuki fillah,” kataku singkat. Sumpah itu persis kayak adegan sinetron. Meskipun malu banget sebenarnya mau ngomong kayak gitu.
“Apa? Gak salah? Gak mau jawab aku,” katanya.
Aaaa!!! Gue ditolak. Tapi emang gak gampang sih. Wajarlah kalo ditolak. Orang gak biasa. Si Syifa juga malu sebenarnya. Setelah itu, gue gak bilang kayak gitu lagi selama beberapa waktu ke dia.  Akhirnya, gue ngadu ke mbak To.
“Mbak To, aku ditolak Syifa,” kata gue ke mbak To.
“Sabar, Sum. Insya Allah tetap berpahala kok,” kata mbak To. *Jiah, nama gue diganti lagi -_-*
Yah, itu cerita gue tentang cinta. Cinta bukan kayak sekarang. Ini cinta yang beda. Cintanya bermula dari akidah. Sehingga gak ada istilah lebay. Yah, namanya juga cinta, harus ada bukti. Meskipun hanya sekedar mengungkapkan rasa cinta kita. Begitulah Islam mengajarkan kepada kita cara mencintai. Bukan ke lawan jenis lho ya. Kalo soal itu beda lagi pembahasannya.
Mencintai seseorang karena Allah itu berarti mencintai karena keimanannya kepada Allah. Begitu juga dengan membenci. Jadi, semua didasarkan pada ketaatan kepada Allah. Ketika kita mencintai Allah dan RasulNya, maka kita pun akan mencintai saudara kita karena Allah dan RasulNya. Jadi, gak ada ceritanya kita selamanya benci kepada saudara kita. Ketika ia bermaksiat, kita membenci perbuatan maksiatnya sembari mengingatkan agar ia berubah. Ketika ia taat kepada Allah maka kita akan mencintainya tidak peduli seburuk apa ia di masa lalu. Mengatakan bahwa kita mencintai saudara kita karena Allah adalah salah satu bukti cinta kita kepadanya. Selain itu, disunnahkan juga mengunjungi, mendoakan, memberi hadiah, mengucapkan salam dan tersenyum kepada saudara sesama Muslim. Jadi, menunjukkan rasa cinta kepada saudara sesama Muslim bukanlah sesuatu yang lebay.
Beruntung, gue adalah seorang Muslim. Ini adalah pelajaran yang gak akan gue dapatkan dimanapun. Hanya di sini, hanya ketika gue menjadi seorang Muslim dan hanya ketika gue mengkaji Islam secara kaffah. Tapi, gue sadar bahwa itu gak cukup. Gak cukup hanya diri gue yang tahu bagaimana luar biasanya Islam. Seharusnya seluruh kaum Muslimin tahu dan paham. Makanya gue nulis ini. Dan yang pasti ini gak bakalan terwujud kalo Islam hanya diambil setengah-setengah. Hanya dipilih yang enak-enaknya aja. Hal yang kayak gini bakalan terwujud ketika Islam diterapkan secara sempurna dalam seluruh aspek kehidupan dalam naungan Daulah Khilafah.
Wallahu ‘alam bi ash shawaab.
 *Special Thanks to Mbak Toreni, Syaza Maryam, Namila Assyifa, Dian Pertiwi, Fitri Inda, Fitriani Thamrin, Nur Mala Sari, Arisa Sativa, Miftahul Jannah, Rohis SMADA 2007-2010 dan semua syabah UB. Gak lupa penghuni tetap dan penghuni nomaden Khairunnisa 1453, Mbak Sari, Nurul, Lani, Arin, Ami, Puput. I’ll gonna miss y’all. Ntar ngariyeung lagi ya ^^


Saturday, July 13, 2013

Let’s MOVE ON

Saya gak tau ini jenis tulisan model apa. Mau dibilang artikel, gak memenuhi kriteria. Dan saya gak mau tulisan ini disebut tulisan curcol karena itu kelewat lebay buat saya *siapa juga yang nyebut. Kegeeran* Yah, apapun tulisannya minumnya teh botol sosro #eh Sebenarnya sih mau dikirim kemanaa gitu. Tapi, kayaknya gak ada yang mau nerima deh, saking kacaunya nih tulisan. Tapi gapapalah.. Sekedar pengen berbagi aja. Kali aja ada yang baca *ngarep

Daripada terus-menerus ngawur kita sudahi saja kekacauan ini *lu yang bikin kacau* Dalam kesempatan yang berbahagia ini, saya ingin menyampaikan *jiaah, modelnya udah kayak orang mau khutbah jumat aja* 

Baiklah, seperti judulnya, saya ingin sedikit membahas tentang move on. Ngomong-ngomong soal move on nih, setiap orang pasti punya masa lalu, entah itu masa lalu yang menyenangkan untuk dikenang ataupun sebaliknya. Saya, Anda dan kita semua juga pasti punya yang namanya masa lalu. Kadang, masa lalu itu jadi obat untuk menapaki masa depan. Tapi, seringkali ia jadi racun karena terlalu disesali. Bahkan, kadang sudah diganti pun masih juga nyesel. Lucunya, seringkali kita selalu teringat dengan masa lalu yang kelam dan bikin kita jadi sulit move on. Contoh, takut jatuh cinta karena udah sering patah hati. Saking seringnya sampai udah gak ada lagi air mata yang menetes *alah, lebay* Tapi, ada episode lain tuh. Ada semboyan yang menyatakan, “Cinta Ditolak, Dukun Bertindak” *gubrakz* Atau takut ta’arufan karena udah seringkali berakhir di tengah jalan. Atau malah takut menikah karena trauma dengan tragedi dalam keluarga atau yang lebih tragis malah memilih suka sama yang sejenis biar gak sakit hati lagi *naudzubillah min dzalik deh sama yang kayak gitu* Nah, itu cuma beberapa cuplikan racun masa lalu yang bikin ogah move on. Dan itu juga menjangkiti kaum muslimin abad 21 ini. Saking putus asanya, mereka jadi apatis dan ogah untuk move on.

Saat ini, kaum muslimin dilanda musibah bertubi-tubi dari berbagai penjuru. Dari semua sisi pokoknya. Aqidah, ekonomi, politik, sosial, budaya, pendidikan, pokoknya di semua sendi kehidupan. Kaum muslimin jadi yang paling bawah. Yang jelek-jelek semua ditujukan ke kaum muslimin. Ibaratnya, semua mata tertuju padamu tapi yang dilihat semua kekuranganmu saking parah banget dirimu *lebay lagi* Sebenarnya, hal itu bukan tanpa permulaan. Yah, ntar silahkan baca aja sendiri. Saya kasihtau judul bukunya tapi di belakang layar ya ^_^ *silahkan add fb saya atau follow twitter saya. Jiaaah -_-* Oke, lanjut. Nah, permasalahan kompleks yang menimpa kaum muslimin saat ini gak bisa disederhanain hanya konteks Indonesia aja. Karena pada faktanya, kaum muslimin itu gak terpisahkan meski sekarang negeri kaum muslimin terpecah-pecah menjadi lebih dari 50 negara. Semua bermula pada 28 Rajab 1342 H/3 Maret 1924 M. Hari itu adalah hari paling bersejarah sekaligus hari paling keramat di dunia Islam. Kenapa? Pasalnya, pada hari itu, jantung kekuatan politik-spiritual kaum Muslimin, Daulah Khilafah Islamiyah telah diruntuhkan oleh seorang Yahudi keturunan Inggris penganut Freemasonry bernama Mustafa Kemal *la’natullah alaih* Sejak saat itulah musibah datang menimpa kaum muslimin tanpa henti layaknya hujan duren eh hujan asam atau apalah namanya. Hingga detik saya menulis tulisan ini pun, kaum Muslimin masih saja belum keluar dari masalah. Di luar masih terdengar hiruk-pikuk akibat kenaikan harga BBM.Bahkan sebelum kenaikannya, di parlemen pun, hal itu masih jadi kontroversi. Pertanyaannya, sampai kapan mau kayak gini terus? Oke, semua sepakat bahwa sekarang kondisi sedang tidak baik-baik saja. Masalah terjadi dimana-mana dan solusinya hanya solusi tambal-sulam itupun solusi yang sudah basi dan saking basinya bau busuknya tercium sampai ke luar galaksi *ealaahh* Dan yang paling parah, masih mau aja ditawarin solusi yang sama. Sama orang yang sudah nyata-nyata menjajah pula *tepok jidat deh*

Lalu, dari arah yang lain datang suara-suara lantang menyerukan kebangkitan hakiki. Kebangkitan yang tidak hanya sekedar menawarkan BLT, BLSM atau apapun namanya. Kebangkitan yang bermuara pada yang satu. Bersatunya kaum Muslimin di seluruh dunia di bawah naungan Islam dengan penerapan aturan Islam secara sempurna dalam bingkai sebuah Negara bernama Khilafah. Seruan tersebut adalah seruan untuk mengganti sistem yang sudah sekarat ini. Seruan untuk kembali bersatu di bawah panji Rasulullah SAW. Tapi, ternyata tidak semua menyambut seruan itu. Meski sekarang sudah banyak yang menoleh ke arah sumber suara tersebut, tapi masih ada juga yang terpasung dalam jeruji masa lalu. Masa ketika hukum Islam melenceng dari manhaj kenabian. Akhirnya, muncullah suara-suara sumbang.

Apa mungkin, Khilafah bisa diterapkan di Indonesia? Kita kan bersuku-suku dan beragam alias multikultur.
Atau
Oke kalo mau menegakkan Khilafah. Tapi, Khilafah model dinasti mana yang mau ditegakkan?
Atau lagi
Apa sih yang kalian cari dengan melakukan pergerakan seperti itu? Emang bisa mengubah sistem tapi gak masuk dalam sistem (parlemen)?
Atau
Khilafah itu hanya impian orang-orang idealis saja. Khilafah itu mustahil, utopis.

Dan masih banyak lagi pernyataan-pernyataan miris yang bahkan keluar dari lisan seorang yang berpendidikan dan mereka muslim. Itulah jeruji masa lalu. Banyak diantara kaum Muslimin yang melihat Islam yang diterapkan di masa lalu hanya yang buruk-buruknya saja. Akhirnya mereka hampir tidak sudi untuk move on. Kaum Muslimin bahkan masih ada yang ridho dengan sistem kufur Demokrasi serta hukum thagut buah Kapitalisme-Sekuler yang dibuat oleh para penjajah ketimbang hukum yang berasal dari Rabb mereka, Rabb yang mereka percaya telah menciptakan mereka dan seluruh jagad raya ini.Maka, wajarlah jika Allah menegur kita dalam firmanNya :
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar”.(QS. Ar Ruum [30] : 41)
Dalam ayat lain Allah juga berfirman :
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.
(QS. Thahaa [20] : 124)

Kesimpulannya, saat ini yang bermasalah gak hanya sekedar pemimpinnya tapi lebih parah dari itu.Sistemlah yang menjerumuskan orang-orang ke dalam kubangan lumpur kejahatan.Dan semua itu terjadi karena kaum Muslimin berlepas diri dari syariat Allah Yang Maha Sempurna.Karena itu, gak ada cara lain untuk keluar dari masalah ini selain kembali menerapkan aturan Allah dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah. Masa lalu bukanlah untuk diratapi sehingga menjadi racun untuk melangkah ke masa depan yang lebih baik. Masa lalu justru akan menjadi obat mujarab untuk menjalani masa depan yang lebih baik ketika ia dijadikan sebuah pelajaran. Dan sesungguhnya tegaknya kembali Khilafah bukanlah khayalan yang utopis tapi ia ada janji yang sudah ditetapkan oleh Allah dan bisyarah dari RasulNya.
Allah SWT berfirman :
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” (QS. An Nuur [24] : 55)

Rasulullah SAW bersabda :
“Kenabian akan terjadi di tengah-tengah kalian dan berlangsung selama Allah menghendaki. Kemudian Allah akan mencabut jika berkehendak untuk mencabut. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian dan berlangsung selama Allah menghendaki. Kemudian Allah akan mencabut jika menghendaki untuk mencabut. Kemudian akan kekuasaan yang menggigit (zhalim) dan berlangsung selama Allah menghendaki. Kemudian Allah akan mencabut jika Allah berkehendak mencabut. Kemudian akan kekuasaan diktator dan berlangsung selama Allah menghendaki. Kemudian Allah akan mencabut jika berkehendak untuk mencabut. Kemudian akan Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Kemudian beliau diam”.(H.R. Ahmad)

So, let’s move on to create a brighter future with Khilafah! Allahu Akbar!



Lihat Lebih Dekat, Lihat Lebih Cermat

Awalnya kita tidak begitu dekat. Tapi, beberapa waktu lalu dia selalu SMS setiap kali butuh tumpangan untuk menyegarkan pikiran. Entah untuk belajar karena dia selalu ngantuk kalo misal harus baca buku atau belajar biar bisa konsentrasi. Soalnya, di rumah jarang ada orang, jadi sepi. Pas banget buat menenangkan pikiran. Senyap, lengang. Mantap dah pokoknya. Asal gak ada suara horror aja *ups

Singkat cerita,kami selalu ke kampus untuk mencari orang yang bisa diajak diskusi tentang Islam. Yah, syukur-syukur ada yang mau. Biasalah, mahasiswa sekarang kebanyakan kerjaan. Diajak ngomong Islam semua pada ogah. Padahal, katanya pengen masuk surga.

Oke, balik lagi tentang dia. Suatu sore di kampus, kami jalan-jalan di sepanjang taman rektorat. Di sana selalu ramai dengan orang-orang yang berkumpul, entah sedang rapat atau hanya sekedar ngumpul-ngumpul gak jelas. Si dia ngeliatin orang-orang di sana dengan pandangan lekat.
“Dek, jangan ngeliatin gitu napa? Dikirain kita mau ngapain,” kataku padanya.
“Hhe, aku emang suka ngeliatin orang-orang mbak,” jawabnya sambil nyengir.
“Aneh banget. Kenapa suka ngeliatin orang?,” tanyaku padanya.
“Yah, ngeliatnya gak sekedar ngeliatin kali mbak. Aku tuh merhatiin. Beda lho ngeliatin sama merhatiin,” jawabnya.
“Tapi sama-sama diliat aneh sama orang lain, dek,” kataku.
“Aku merhatiin biar bisa mencermati mbak. Semua orang bisa kalo hanya sekedar ngeliatin. Tapi, gak semua orang bisa melihat lebih dekat untuk mencermati. Itu namanya merhatiin,” katanya.

Aku kemudian berpikir. Hmm, benar juga katanya. Seringkali kita hanya sekedar melihat fakta di hadapan kita tapi kita hampir tidak pernah mencoba mencermati fakta tersebut. Akhirnya, kebanyakan orang tertipu oleh fakta dan berujung pada pragmatisme. Banyak hal yang kemudian salah disikapi hanya gara-gara tidak bisa membedakan antara melihat dengan mencermati.

Banyak sekali permasalahan yang seharusnya bisa diselesaikan tetapi ketika hanya dilihat sebagai masalah akhirnya yang disentuh hanya bagian cabang, bukan akarnya. Misalnya, saat ini lagi rame-ramenya dan heboh-hebohnya soal kenaikan BBM. Orang-orang yang hanya sekedar melihat, tetapi tidak cermat akan dengan gampangnya mengatakan setuju dengan kenaikan BBM karena melihat selama ini subsidi BBM membebani pemerintah sehingga jika subsidinya dicabut maka subsidinya akan digunakan di sektor yang lain. Tapi, pernah gak sih ada yang nyoba merhatiin dan bertanya. Kenapa kita harus subsidi BBM? Bukannya kita yang punya ratusan sumur minyak? Kenapa kita harus bayar mahal untuk BBM? Pernah gak sih ada yang bertanya, kenapa harus BLSM? Emang Cuma rakyat miskin aja yang kena dampaknya? Kenapa bantuannya gak merata? Kenapa harus berdasarkan kelas sosial? Tanya kenapa. Kenapa Tanya? Itu contoh pertama. Selanjutnya, tentang Miss World yang bakal diadakan di Indonesia, negeri muslim terbesar di dunia. Jika hanya sekedar melihat, semua orang akan mengatakan ajang ini sangat bagus untuk mempromosikan Indonesia di mata dunia. Tapi, pernah ada yang nanya gak, kenapa kok harus di Indonesia? Emang promosi pariwisata Cuma dari Miss World doang? Emang bisa ngukur kepribadian hanya dalam waktu singkat dengan slogan Brain, Beauty and Behavior? Itu contoh kedua. Nah, yang paling sering dipromosikan oleh orang kebanyakan adalah Demokrasi. Menurut sebagian besar orang, Demokrasi adalah sistem pemerintahan terbaik meskipun pada faktanya Demokrasi tidak mampu memberikan apa yang diharapkan oleh semua orang. Jika hanya sekedar melihat, tentu semua itu adalah hal yang baik-baik saja. Tapi, cermatilah. Lihat lebih dekat, lihat lebih cermat. Apalagi kita adalah seorang Muslim dimana seluruh perbuatan kita terikat oleh hukum syara’. Apapun yang kita lakukan haruslah senantiasa berstandar dari aturan Allah.

Maka, jangan buru-buru mengatakan ini baik atau ini buruk hanya dengan melihat tanpa mencermati. Karena penglihatan semata tidak akan membawa kepada kesimpulan yang benar. 

Thanks to Dian Pertiwi. Meskipun kita selalu ribut, tapi kalo kamu gak ada rasanya sepi banget. Selamat dakwah keluarga ya dek.. Ditunggu ceritanya :)

130713

-Rafiqah Dhiya Farzana-


Friday, July 12, 2013

Mixing Melody

Seseorang yang berarti untuk kita setelah keluarga adalah sahabat. Percaya atau gak. Orang terdekat kedua yang membuat hidup kita seperti musim semi. Setiap kita pasti memiliki orang-orang istimewa yang kita sebut sebagai sahabat. Rasulullah SAW pun memiliki sahabat yang menemani perjuangan beliau.

Sahabat, seiring hari berlalu kebersamaan yang kita lewati terabadikan dalam kenangan. Namun, kita hanya manusia yang memiliki batas waktu. Jika sampai saatnya, kita akan kembali ke sisiNya, Pencipta dan pengatur kita, Allah SWT. Di sanalah kita akan mempertanggungjawabkan seluruh amalan kita. Aku tak sempurna dan takkan pernah menjadi sempurna. Dan aku tak tahu siapa yang akan pergi lebih dulu diantara kita. Tapi, ketahuilah bahwa aku selalu mencintaimu sampai kapanpun. Aku mencintaimu karenaNya.


Ini cuma iseng nyampurin lirik sana-sini *peace* 


Disini kita pernah bertemu
Mencari warna seindah pelangi
Ketika kau mengulurkan tanganmu
Membawaku ke daerah yang baru
Dan hidupku kini ceria

Cinta amat mendalam, tidak kesampaian
Dikau kini di awangan tak tercapai tangan
Detik-detik yang manis kekal diingatan
Sebagai manisan bunga bersemi di dalam impian

Kini berlalu semua kenangan
Sepi berlagu membelai perasaan
Tanpa kusadari, kau menghilang bersama bayangan
Air mataku menjadi saksi kerinduan

Mengapa kita ditemukan
dan akhirnya kita dipisahkan
Mungkinkah menguji kesetiaan
Kejujuran dan kemanisan iman
Tuhan berikan aku kekuatan

Kini dengarkanlah dendangan lagu
tanda ingatanku kepadamu teman
agar ikatan ukhuwah kan bersimpul padu

Kenangan bersamamu takkan kulupa
walau badai datang melanda
walau bercerai jasad dan nyawa

Mungkinkah kita terlupa
Tuhan ada janjinya
Bertemu berpisah kita
adalah rahmat dan kasihNya

Andai ini ujian
terangilah kamar kesabaran
Pergilah gelita
Hadirlah cahaya


*Untuknya yang telah lama pergi. Aku tidak tahu seberapa berartinya ia untukmu. Tapi aku yakin, pastilah ia sangat berarti. Meski aku berdiri di sini dan kau melihatku, aku tidak akan pernah bisa menempati tempatnya di sana. Kita semua pasti memiliki seseorang yang berarti bagi kita. Mereka mengisi tempat yang istimewa di hati kita yang tidak bisa di tempati oleh yang lain. Itulah ia untukmu dan mereka untukku. Meskipun begitu, aku tetap ingin menjadi seseorang yang nantinya akan kau kenang sebagai salah seorang teman bagimu.



120713

-Rafiqah Dhiya Farzana-



Wednesday, July 10, 2013

Quotes from Syaikh Abdul Qadim Zallum

Api itu ketika menjalar di atas jerami, maka api itu akan menjalar dan membesar dengan cepat dan tampak begitu terang apinya, namun juga akan dengan cepat mengecil dan padam. Sedangkan api yang menjalar di kayu bakar, apinya akan lambat menjalar dan lambat membesar, dia baru membesar dengan susah payah. Itulah bedanya perekrutan yang bersifat (berdasarkan) pemikiran dengan perekrutan yang bersifat (berdasarkan) perasaan/semangat. Kita menginginkan syabab yang yakin secara pemikiran bukan secara perasaan. Karena yang kedua (yakin secara perasaan) tidak tegar dalam menghadapi masalah. Buah tidak berguna pada suatu pohon yang tidak bisa matang dan dia pasti akan jatuh. Kita tinggal menunggu dan akan melihat bahwa angin yang tidak terlalu besar sudah akan menggugurkannya. Dan mungkin pula menggugurkan buah itu dengan menggoyang pohon itu tidak terlalu keras untuk menggugurkan semua buah yang tidak bisa matang dan akan tersisa buah yang memang bisa matang saja.[]”