Wednesday, August 29, 2012

Love is Dakwah, Dakwah is Love

Saya teringat sebuah SMS yang pernah saya terima dari seorang teman. SMS yang senantiasa membuat saya selalu tergerak untuk introspeksi, sejauh mana komitmen saya untuk terus berada di jalan ini.

“Dakwah adalah cinta. Cinta akan meminta semua perhatianmu pikiranmu, jalanmu, dudukmu, bahkan ditengah lelapmu. Mimpimu pun tentang dakwah, tentang umat yang kau cintai. Dakwah akan menyedot energi terbaikmu. Dakwah bukan tidak melelahkan, bukan tidak menyakitkan, bahkan pejuang-pejuang dijalan ini tak sepi dari godaan kefuturan, hingga hasrat untuk mengeluh tak lagi menggoda, hingga mereka berseri-seri saat menemui Rabb-Nya, saat mata mendapati indahnya jannah-Nya”.


*jazakillah khair untuk mb Zakiya El Karima*

TAHRIR!

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarokatuh

Radical Notion - adalah sebuah gagasan yang mampu menciptakan habit dan tindakan. dan gagasan adalah inti dari sebuah karunia yang Allah berikan kepada manusia untuk mengamati, berpikir dan memprosesnya untuk menjadikan perubahan pada umat.
-D.R.Prawedha

Gagasan seperti apa yang diperlukan untuk mengatasi problematika umat saat ini. Apakah itu gagasan yang menyangkut Kapitalisme, Yang sebentar lagi menuai keruntuhan. ataukah akan dikembalikannya kejayaan kaum sosialis yang menganggap dirinya tercipta dari materi. tidak juga. saat ini yang umat tunggu adalah sebuah gagasan yang berasal dari Rabb nya, yang menciptakan seluruh pola perilaku makhluk-makhlukNya. yang mengatur pola perilaku makhlukNya baik dalam Ibadah, Akhlaq maupun Muamalah. dan semua sudah ada dalam buku petunjuk yang benar untuk menjadikan manusia menjadi makhluk yang mulia. yaitu adalah mukjizat Rosulullah saw yang disebut Al-Qur’an.

Sudah seharusnya umat menjadikan Al-Qur’an dan Al Hadits sebagai pedomannya. Agar tak lagi ada kekacauan didunia. Karena semua hukum yang tertera itu bersumber dari Allah dan Rosulnya. Lantas, masih percayakah kita dengan demokrasi, yang jelas2 merampas hak legislatif Allah sebagai pemilik mutlak hak tersebut. dimana ”Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah (TQS Yusuf [12]: 40)”. maka..
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah,maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir (TQS al Maaidah [5] : 44)
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang dzalim (TQS al Maaidah [5] : 45)
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik (TQS al Maaidah [5] : 47)
Mari kita Renungkan, Berapa kali Syahadat kita batal karena sistem Demokrasi ini..
Sudah saatnya Dunia kembali kepada peraturan Rabb nya, yaitu kembali pada Al-Qur’an dan Al-Hadits. Allahu Akbar. []

Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarokatuh.
Wrote   : 4 Syawal 1433 H
Shared  : 11 Syawal 1433 H 

Source
http://drprawedha.tumblr.com/post/29925067025/tahrir 

Urbanisasi dan Buruknya Ri’ayah Oleh Negara

Meskipun belum terbit, gak ada salahnya di share :)

 

Al-Islam edisi 620, 31 Agustus 2012 – 13 Syawal 1433 H

Rakyat negeri ini masih terus merasakan buruknya ri’ayah atas kepentingan dan urusan mereka. Hal itu tercermin dari masalah kecelakaan lalu lintas selama mudik, masalah urbanisasi dan ketimpangan pembangunan, dan sebagainya.
Ditlantas Polri mencatat selama mudik 2012 terjadi 5.233 kecelakaan lalu lintas, 908 orang meninggal, 1.505 orang luka berat, dan 5.139 orang luka ringan. Kerugian materi akibat ini diperkirakan Rp 11,815 miliar.
Semua itu tetap tidak bisa dilepaskan dari ri’ayah yang masih buruk. Mengapa tingkat kecelakaan justru meningkat cukup besar. Semestinya bisa diantisipasi sebab mudik itu rutinitas yang terjadi tiap tahun.
Selain itu, arus balik mudik lebaran selalu membawa persoalan kependudukan bagi sejumlah kota-kota besar. DKI Jakarta misalnya, diperkirakan dimasuki sekitar 50 ribu pendatang baru. Sementara Tangerang Selatan diperkirakan diserbu 13 ribu warga pendatang.
Pertambahan jumlah warga menambah persoalan baru bagi daerah bersangkutan seperti tempat tinggal, lapangan kerja, kesehatan dan yang dikhawatirkan akan mendorong naiknya angka kriminalitas akibat tekanan ekonomi. Apalagi tidak sedikit warga pendatang bukan tenaga terdidik yang memiliki ketrampilan bekerja.

Ketimpangan Pembangunan
Pembangunan dan pelayanan terhadap rakyat negeri ini masih timpang. Pembangunan belum merata khususnya di wilayah pedesaan dan wilayah tertentu terutama wilayah timur. Hal itu membuat warga khususnya di pedesaan kurang menikmati hasil pembangunan dan kemiskinan pun merebak di pedesaan. Data Badan Pusat Statistika (BPS) Maret 2011, 63,2 % penduduk miskin berada di pedesaan, dan 57,78% penduduk miskin bekerja di sektor pertanian. Nasib para nelayan juga tidak berbeda. Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat jumlah nelayan miskin mencapai 7,87 juta orang atau 25,14 % dari jumlah penduduk miskin nasional.
Akibat ketimpangan pembangunan itu pertumbuhan ekonomi tidak merata. Daerah perkotaan terus menjadi sentra perekonomian meninggalkan pedesaan yang kian terpuruk. Putaran uang di Ibukota DKI Jakarta saja mencapai 70 persen dari uang nasional. Itulah yang menyebabkan setiap harinya Jakarta didatangi 4 juta orang dari luar kota yang bekerja mencari nafkah di ibukota.
Hal inilah yang menjadi penyebab terjadinya urbanisasi penduduk. Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Diah Anggraeni menyebutkan jumlah pemukim di perkotaan terus meningkat. Pada tahun 1995 pemukim di kota sebanyak 40% dan meningkat menjadi 52 % pada tahun 2010. Pada 2025 diperkirakan jumlah pemukim di perkotaan mencapai 195 juta setara 65 % jumlah penduduk. Tentu saja kondisi ini akan menambah persoalan umum di kota-kota besar seperti pengangguran, pemukiman, kesehatan dan potensi kriminalitas.

Kapitalisme Penyebabnya
Buruknya ri’ayah oleh negara disebabkan oleh sejumlah faktor yang berujung pada sistem kapitalisme. Pembangunan tidak didasari paradigma pemeliharaan urusan rakyat (ri’ayah syu’unil ummah). Dalam kapitalisme negara harus seminim mungkin menangani urusan rakyat secara langsung, sebaiknya penanganan semua diserahkan kepada swasta. Itulah yang membuat dan terlihat dalam bentuk kemitraan pemerintah dengan swasta (KPS) dalam pembangunan berbagai infrastruktur seperti jalan, jembatan, pasar, terminal, pelabuhan, bandara, dan penanganan berbagai urusan.
Dengan pola seperti itu, keuntungan tidak dinikmati rakyat, tetapi dinikmati swasta yang sudah berinvestasi pada beragam sektor strategis. Alih-alih melayani masyarakat, kemitraan ini justru menempatkan rakat sebagai konsumen.
Sumber kekayaan pun juga diserahkan kepada swasta. Akibatnya rakyat sebagai pemiliknya justru tidak menikmati hasilnya. Negara juga kehilangan sumber pendapatan sehingga kesulitan untuk membiayai pembangunan dan pelayananan untuk rakyat.
Pola pembangunan turut memperumit masalah. Dalam pola otonomi daerah sekarang, daerah harus mencari sendiri dana pembangunan daerahnya. Dalam PP No. 104 tahun 2000 tentang Dana Perimbangan, untuk pendapatan pajak daerah, mayoritas diberikan kepada pemda yaitu PBB sebesar 90% dan BPHTB 80%. Demikian pula dengan pertambangan umum, kehutanan dan perikanan, jatah pemerintah daerah sebesar 80% dari total penerimaan dari sektor tersebut. Sementara untuk minyak (85%) dan gas (70%) dikuasai oleh pemerintah pusat.
Kenyataannya kondisi alam dan potensi tiap daerah amat beragam sehingga mempengaruhi pendapatan asli daerah (PAD). Dengan pola tersebut, maka hanya daerah yang kaya yang berpotensi maju. Daerah miskin akan tetap miskin dan terbelakang. Hal itu diperparah oleh alokasi APBD yang sangat minim untuk pembangunan. Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) memperkirakan ada 124 daerah di Indonesia memiliki anggaran belanja pegawai lebih besar dibandingkan dengan belanja modal. Ke-124 daerah ini menganggarkan belanja pegawai hingga diatas 60 persen dari APBD-nya sehingga mereka terancam bangkrut.
Semua itu masih diperparah oleh maraknya korupsi dan berkeliarannya pungutan siluman khususnya pada berbagai proyek pembangunan. Untuk mendapatkan anggaran, tak jarang daerah harus menyuap. Kasus suap Dana Penyesuaian Infrastruktur Daerah yang melibatkan anggota Badan Anggaran DPR RI salah satu buktinya. Hal itu menambah timpang pembangunan di daerah. Selain itu, akibat suap anggaran proyek pembangunan banyak yang menguap untuk suap dan meminimkan jumlah biaya yang benar-benar untuk pembangunan. Akibatnya kualitas berbagai sarana dan fasilitas untuk rakyat pun buruk dan cepat rusak. Lagi-lagi rakyat yang harus menderita. Ironisnya, semua itu diantaranya karena sistem politik demokrasi yang mahal, baik untuk operasional parpol, politisi, pemilu, pencalonan dan pemilihan wakil rakyat, pemilu kada dan proses-proses politik lainnya. Akibatnya pemberantasan korupsi seakan menemui jalan buntu.

Syariah Islam Solusinya
Semua kenyataan di atas sungguh bertolak belakang dengan kenyataan ketika syariah Islam diterapkan. Dalam Islam, negara memang ada untuk melakukan pelayanan kepada masyarakat. Memelihara urusan rakyat adalah kewajiban negara. Prinsip dasar pembangunan dalam syariah Islam adalah untuk melakukan ri’ayatusy syu’unil ummat, memelihara urusan dan kepentingan rakyat. Hal itu menjadi tugas dan kewajiban penguasa, pejabat dan seluruh aparatur negara. Dalam Islam penguasa harus bertindak layaknya pelayan yang siap melayani rakyat dengan sebaik-baiknya.
Pemahaman atas paradigma itu tercermin dalam nasihat Imam Hasan al-Bashri kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz; Pemimpin adil itu wahai Amirul Mukminin, seperti seorang ibu yang penuh kasih sayang terhadap anaknya, mengandungnya dengan susah payah, menjaganya saat kecil, terjaga ketika anaknya terjaga, diam ketika anaknya sudah terlelap. Sesekali ia menyusuinya dan lain waktu menyapihnya. Bergembira akan kesihatan anaknya dan berduka ketika anaknya sakit.”
Dengan paradigma itu, seluruh rakyat dan semua daerah harus diperhatikan. Tidak boleh terjadi konsetrasi perhatian dan pembangunan pada sejumlah daerah saja. Negara dalam Islam wajib membangun dan menyediakan seluruh infrastruktur yang dibutuhkan oleh masyarakat, tanpa memandang perbedaan tingkat pendapatan daerah. Kaedahnya adalah setiap daerah diberi dana pembangunan sesuai kebutuhannya tanpa memperhatikan besar kecilnya pendapatan daerah tersebut. Dengan begitu semua daerah memiliki peluang yang sama untuk maju. Pembangunan pun bisa merata di seluruh daerah. Kesenjangan pembangunan dan perekonomian tidak akan terjadi seperti saat ini. Sehingga daerah memiliki daya saing yang relatif sama dengan perkotaan. Dengan mekanisme seperti ini urbanisasi akan dapat diredam karena penduduk daerah juga memiliki lapangan pekerjaan yang layak. Semua itu masih ditambah lagi adanya jaminan pemenuhan kebutuhan pokok (sandang, pangan dan papan) dan kebutuhan dasar masayrakat (pendidikan, kesehatan dan keamanan) melalui mekanisme yang telah ditetapkan oleh syariah.
Islam menjamin hal itu bisa direalisasikan. Islam menetapkan berbagai kekayaan alam sebagai milik umum, milik seluruh rakyat, yang tidak boleh diserahkan kepada swasta. Negara haus mengelolanya mewakili rakyat dan seluruh hasilnya dikembalikan kepada rakyat.
Semua itu dijalankan oleh penguasa, pejabat dan aparat yang baik. Kekuatan ruhiyah menjadi pendorong mereka untuk menjalankan kekuasaan dan tugas dengan amanah. Korupsi atau penyalahgunaan wewenang dalam pembangunan pun bisa diminimalkan seminimal mungkin. Sebab mereka akan terus terngiang oleh peringatan Nabi saw:
« مَا مِنْ وَالٍ يَلِى رَعِيَّةً مِنَ الْمُسْلِمِينَ ، فَيَمُوتُ وَهْوَ غَاشٌّ لَهُمْ ، إِلاَّ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ »
Tidaklah seorang wali mengurusi urusan kaum muslimin kemudian dia mati dan dia berbuat curang, kecuali Allah haramkan baginya surga. (HR. Al-Bukhari)

Korupsi, suap dan sejenisnya, akan bisa dibasmi dengan hukum-hukum syariah, termasuk pencatatan kekayaan penguasa, pejabat dan aparat, jika ada kekayaan mencurigaan yang bersangkutan diharuskan membuktikan asalnya yang halal, dan penerapan sanksi yang menjerakan bagi pelaku dan orang lain.

Wahai kaum Muslimin!
Belum cukupkah kezaliman sistem kapitalisme terhadap kita? Masih perlukah kita biarkan terus menimpa kita? Tentu saja tidak. Untuk itu yang harus kita lakukan adalah segera mengakhiri sistem kapitalisme di tengah kita. Sebagai gantinya kita segera terapkan Syariah Islam secara total dan menyeluruh, tentu saja hanya bisa kita wujudkan di bawah sistem al-Khilafah ar-Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Kapan kita perjuangkan kalau bukan sekarang. Wallâh a’am bi ash-shawâb. []

Source
http://hizbut-tahrir.or.id/2012/08/29/urbanisasi-dan-buruknya-riayah-oleh-negara/

Renungan Akhir Ramadhan: Kokohkan Iman, Tegakkan Syariah dan Khilafah

Semoga belum terlambat untuk share tentang ini :)

 

[Al Islam 619] Segala puji hanya bagi Allah SWT yang telah memberi kita kesempatan menikmati keberkahan bulan Ramadhan dan menyampaikan kita ke sepuluh hari terakhirnya. Semoga Allah SWT izinkan kita menyempurnakan Ramadhan ini dengan shaum dan segenap amalan ibadah dan ketaatan di dalamnya serta meraih derajat takwa. Hingga tiba saatnya nanti gema takbîr, tahlîl, dan tahmîd kita kumandangkan sebagai wujud kesadaran kita bahwa kita adalah kecil dan hanya Dia yang Maha Agung, sebagai bukti ketundukan kita kepada-Nya bahwa tidak ada ilâh yang wajib disembah kecuali Dia, dan sebagai pernyataan syukur kita bahwa segenap kenikmatan yang kita rasakan hanyalah berasal dari-Nya.

Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa(TQS. al-Baqarah [2]: 183).
Ayat tersebut menegaskan bahwa yang diseru untuk melaksanakan shaum adalah orang-orang beriman. Artinya, iman merupakan landasan dalam pelaksanaan shaum tersebut. Rasulullah Muhammad SAW juga bersabda:
«مَنْ صاَمَ رَمَضاَنَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»
Barangsiapa shaum bulan Ramadhan dengan iman dan semata mengharap ridha Allah maka ia diampuni dosanya yang telah lewat(HR. Bukhari dan Muslim).
Sabda Nabi ini menegaskan bahwa keimanan harus dijadikan landasan dalam menjalankan shaum Ramadhan. Jadi Ramadhan sejatinya adalah momentum untuk mengokohkan keimanan kita semua. Sehingga, seusai Ramadhan, kita sebagai umat Islam akan memiliki keimanan yang tangguh, dan merasakan betapa manisnya keimanan tersebut.
Sayang, sebagian kalangan umat terbaik (khairu ummah) ini belum merasakan kokoh dan manisnya iman. Buktinya, masih ada di antara umat Islam yang menolak penerapan syariat Islam sebagai pengatur kehidupan. Masih ada kaum Muslimin yang menjadikan hukum dan tata nilai buatan manusia seperti demokrasi, hak asasi manusia, pluralisme, sekulerisme, dan kapitalisme sebagai landasan dan sistem kehidupan. Padahal, bukankah keimanan kita menyatakan bahwa hanya Allah SWT sajalah yang berhak menentukan hukum? Allah SWT berfirman:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (TQS. al-Maidah [5]: 50).
Sungguh mengherankan bila masih ada di antara umat Islam ini yang masih mencari-cari dalih untuk menolak hukum al-Quran. Di manakah letak pengakuan mereka bahwa mereka beriman kepada al-Quran? Mengapa mereka rela menerapkan syariat Islam dalam shalat, shaum, haji, zakat, dan nikah; namun belum rela menerapkan Islam dalam masalah hudud, jinayat, perekonomian, pemerintahan, dsb? Padahal, Allah SWT berfirman:
أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
Apakah kalian beriman kepada sebagian kitab dan kufur terhadap sebagian. Maka tidak ada balasan bagi orang yang melakukan hal itu di antara kalian kecuali kenestapaan pada kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka akan dikembalikan ke dalam siksa yang amat pedih. Dan Allah tidak lalai terhadap apa yang kalian lakukan(TQS. al-Baqarah [2]: 85).
Saat ini pemerintah Amerika Serikat berencana membangun kedutaan besarnya di Jakarta menjadi 10 lantai, dengan luas 3,6 hektar. Gedung sebesar itu akan dijadikan sebagai markas intelijen dan militer sebagaimana di Irak dan Pakistan. Gedung itu akan dijadikan fasilitas Marine Security Guard Quarters (MSGQ) yakni markas garda keamanan laut. Namun, pemerintah justru mengizinkan. Dan kebanyakan kaum Muslimin diam. Bukankah ini merupakan jalan bagi orang-orang kafir untuk menguasai kaum Muslimin? Seharusnya orang-orang beriman tidak boleh melakukan hal itu, sebagaimana firman-Nya:
]وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلاً[
"Dan Allah tidak akan pernah memberikan jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai kaum mukminin" (TQS. an-Nisa: 141).
Menteri Kesehatan membuat program kondomisasi, termasuk di kalangan remaja. Tindakan ini merupakan legalisasi pelacuran dan seks bebas di kalangan remaja. Orang-orang beriman tentu akan menolak kondomisasi ini, sebab mereka mengimani firman Allah SWT yang mengharamkan zina:
]وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً[
"Dan janganlah kalian mendekati zina sesungguhnya zina itu berbuatan keji dan seburuk-buruknya jalan" (TQS. al-Isra` [17]:32).
Hingga hari ini, kaum musyrik di Myanmar membantai kaum Muslimin Rohingya. Mereka diusir. Mereka terpaksa hidup dalam pengungsian dengan kondisi yang sangat mengerikan. Namun, para penguasa Muslim tak berbuat apa-apa. Padahal, orang-orang beriman seharusnya berupaya untuk membantu mereka, sebab mereka beriman pada firman Allah SWT:
]وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ [
"Jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan" (TQS. al-Anfâl [8]: 72).
Demikianlah, kita harus terus mengokohkan keimanan kita. Dengan keimanan ini, kita akan amar merindukan ampunan dan surga Allah SWT dan takut akan azab-Nya yang pedihnya tiada tara.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa keimanan harus dibarengi dengan keterikatan terhadap hukum syariah Islam. Banyak nash-nash yang mengaitkan iman dengan keterikatan terhadap hukum Islam, dan menghubungkan keimanan dengan amal salih. Di antaranya Allah SWT berfirman:
]فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[
"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima sepenuhnya" (TQS. an-Nisâ [4]: 65).
Ayat ini menegaskan, keimanan harus menyatu dengan penerapan dan perjuangan menegakkan syariat Islam. Kekokohan iman sejatinya harus makin mendorong kita semua untuk terikat dengan syariat Islam dan terus memperjuangkannya. Dan, syariat Islam tidak akan sempurna dilaksanakan secara kaffah tanpa adanya Khilafah. Karena itu, keimanan kita semestinya makin mendorong kita untuk terus berjuang menegakkan syariah dan Khilafah.
Boleh jadi, ada orang yang menganggap bahwa khilafah itu utopis. Namun, bagi orang yang beriman tegaknya syariah dan Khilafah itu merupakan wujud keyakinan dan keimanan yang nyata. Khilafah akan mengokohkan agama ini. Khilafah akan menegakkan tauhid. Bagaimana mungkin Khilafah disebut khayalan, padahal Khilafah itu merupakan janji Allah SWT, Zat yang tidak pernah mengingkari janji.
]وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لاَ يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ[
"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada menyekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik" (TQS. an-Nûr [24]: 55).
Ayat ini menegaskan janji Allah SWT akan kembalinya khilafah. Imam Ibnu Katsir menegaskan makna ayat ini: “Ini merupakan janji dari Allah SWT kepada Rasulullah SAW bahwa Dia akan menjadikan umatnya para khalifah di bumi” (Tafsîr al-Qurân al-‘Azhîm, hal. 357).
Wahai Kaum Muslimin
Saatnya kita makin mengokohkan keimanan kita. Dengan keimanan, segala keragu-raguan tentang syariat Islam dan Khilafah, yang dilontarkan oleh setan, baik dari kalangan jin dan manusia, insya Allah tak akan mampu menggoyahkan keimanan kita. Dengan iman pula, kita akan terus berjuang menegakkan syariah dan Khilafah. Kita tidak akan takut kepada siapapun selain Allah SWT. Kita tidak takut kehilangan rezeki, karena kita yakin rezeki itu berasal dari Allah Zat Maha Kaya. Kita tidak akan takut terhadap ancaman siapapun, sebab tidak ada siksaan yang pedih selain siksa neraka di akhirat kelak. Keimanan yang kokoh pun akan menjadikan kita rindu akan surga yang penuh kenikmatan. Kita pun tidak akan terbuai dengan kesenangan dunia, sebab dunia ini hanyalah perhiasan yang menipu. Dengan keimanan, kita akan menjadi orang-orang yang optimis dalam perjuangan. Sebab, kemenangan berupa tegaknya syariah dan Khilafah itu merupakan janji Allah SWT, hanya tinggal masalah waktu saja. Tugas kita adalah memperjuangkannya. Untuk itu, marilah kita bersama-sama mengokohkan iman dan berjuang menegakkan syariah dan Khilafah. Wallâh a’lam bi ash-shawâb.

Source
http://hizbut-tahrir.or.id/2012/08/08/renungan-akhir-ramadhan-kokohkan-iman-tegakkan-syariah-dan-khilafah/

Tuesday, August 28, 2012

Jadilah Orang Asing atau Hanya Sekedar Lewat

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh.
 
Beberapa hari yang lalu, seorang teman kembali membagi tulisannya kepada saya. Semoga bermanfaat :)


“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat”. (HR Bukhari)
Kita sama-sama tahu. Orang yang safar (dalam perjalanan) memahami betul bahwa Mereka tidak merasa senang dengan keadaan safarnya, Mereka memahami bahwa mereka pergi hanya sementara, Mereka menyadari bahwa semua akan mereka tinggalkan, Mereka merindukan berkumpul kembali pada tempat asalnya.
Begitu juga manusia. Manusia yang mengerti apa tujuan hidupnya.  Mereka dalam berjalanan menuju kampung halaman (Jannah). dan dunia ini adalah safar mereka. Lantas walaupun dalam safarnya, mereka hidup enak, mereka tidak akan betah berlama-lama hidup dalam safarnya. 
Kehidupan dunia adalah penjara bagi seorang mukmin dan surga bagi seorang kafir (HR. Muslim)

Mari kita analogikan : 
Seseorang dari kampung, lantas kemudian hidup di kota besar untuk mencari penghasilan. Dalam usahanya itu ia akan menetap sementara di suatu kota. sehingga ia memutuskan untuk menyewa kost. tiap bulan Ia menerima gaji yang lumayan besar. hingga berbulan-bulan. bertahun-tahun.  namun kemudian kita lihat kehidupannya. Hidupnya tetap juga tak berubah. begitupun keadaan kostnya. Hingga suatu saat, Orang tersebut berhenti dari pekerjaannya. Lantas Ia kembali ke kampung halamannya. Tebak, apakah keluarganya merasa kecewa. karena dia tak mampu merubah hidupnya walaupun bertahun-tahun hidup di kota besar?

Mari kita lihat keadaannya…
Walaupun bertahun-tahun hidup dikota. dengan gajji yang lumayan besar. Lantas tidak mengubah hidup orang tersebut. Apa kata orang itu?
“Mas, kenapa udah bertahun-tahun hidup di kota tapi kok hidupmu ga maju-maju mas?”
“Karena saya kirim gaji saya untuk bekal ketika saya kelak kembali ke kampung halaman saya”
“Kenapa ga buat rumah aja mas di Kota, kan enak”
“Begini, di kota itu saya hanya perantauan alias orang yang dalam safar. Saya yakin kelak, saya akan kembali ke kampung halaman, jadi saya mempersiapkan segala sesuatunya, agar kelak saya akan menikmati jerih payah saya selama bertahun-tahun. Karena saya Yakin, dan saya memahami bahwa saya pergi hanya sementara, saya menyadari bahwa semua akan saya tinggalkan, saya rindu akan berkumpul kembali pada tempat asalnya. 
Dan benar saja, jika di kota, Kost yang dia tinggali sangatlah kumuh. Lantas bertahun-tahun itu pula ia hidup disana. membuat ia tak senang dalam safarnya. hingga saat Ia pulang ke kampung halamannya. Ternyata Ia sudah membangun rumah yang mewah. yang didalamnya terdapat perabot-perabot yang harganya terbilang mahal. Dari sini kita dapat petik hikmah, bahwa..
Kita adalah Orang yang sedang dalam perjalanan. kita tahu betul bahwa hidup dalam perjalanan itu pasti susah. karena perjalanan adalah tempat mencari bekal. sehingga kita memahami betul bahwa kita tidak akan merasa senang dengan keadaan safar kita walaupun hidup kita dalam perjalanan itu enak. kita pasti tetap akan merindukan kampung halaman, Kita pergi hanya sementara, dan semua akan kita tinggalkan, karena kita merindukan berkumpul kembali pada tempat asalnya.
Manusia yang mengerti tujuan hidupnya. mengetahui jika dunia ini adalah Safarnya. dan Akhirat adalah kempung halamannya. Lantas orang yang sukses dalam perantauannya adalah orang yang mencari bekal sebanyak-banyaknya agar kelak saat kembali ke kampung halamannya, dia bisa menikmati jerih payahnya.  
Lantas muncul pertanyaan.. “Apakah kita sudah memiliki bekal yang banyak untuk kita nikmati di kampung halaman kita (Jannah)?”
Renungi dan Resapi, kita hidup tidaklah lama.. Jika Perjalanan hidup kita di dunia hanyalah kurang lebih 70 tahun. lantas Maksimal di Alam kubur 7000 tahun, di padang masyar. lebih kurang 50.000 tahun. menanti apa kita akan menerima hasil dari kanan atau belakang.. lantas kita akan kembali ke kampung halaman Akhirat.. Sudahkah kita mempersiapkan itu. Ataukah kita lupa? Renungilah..Wassalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh.
Surakarta, 7 Syawal 1433

source :
http://drprawedha.tumblr.com/post/30129407584/jadilah-orang-asing-atau-hanya-sekedar-lewat

Penghambat Revolusi

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarokatuh.
“PENGAHAMBAT REVOLUSI” menjadi Hantu bagi mereka yang mengaku menyatu dengan madsa padahal kosong dalam pergerakan. senantiasa menghantui mereka untuk sekedar merasa tersinggung dan terpanggil agar bergerak. Jikalau TIDAK maka bertampang tebalah dan bermetamorfosalah menjadi HANTU YANG BISU.
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka” (TQS. at-Taubah : 111)
Dalam busuknya kehidupan kapitalisme biadab yang tegak hari. tidak patut bagi kita yang memiliki mabda (Ideologi) Islam untuk berpangku tangan, mendiamkan diri untuk tenang membiarkan kapitalisme nayman disinggasana. Sungguh telah terjadi akad antara kita dengan sang khaliq, Allah ‘azza wa jalla, untuk menjual diri kepada-Nya.
Adalah sebuah kedustaan tatkala kita menyatakan “sah” untuk dibeli dengan surga Allah, namun bisu dalam mengemban risalah yang dibawa oleh kekasih-Nya. Membenturkan manisnya dunia yang menipu dengan tanggungjawab agung yang ada dipundak, atau merasa cukup dengan status aktifis pengkaji mabda. Camkan. []

Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarokatuh.

Source :
http://drprawedha.tumblr.com/

IT’S NOT ABOUT FATE, IT’S NOT ABOUT DESTINY, BUT IT’S ABOUT CHOICE

Beberapa waktu yang lalu saya mencari lagu yang sudah lama sekali tidak saya dengar. Lagu yang membuat saya akhirnya kembali berpikir tentang eksistensi saya di dunia ini. Membuat saya berpikir untuk mencari alasan kenapa saya ada di dunia ini dan kenapa saya memilih jalan ini.
Iman tak dapat diwarisi
dari seorang ayah yang bertakwa
Ia tak dapat dijual-beli
Ia tiada di tepian pantai
(Raihan – Iman Mutiara)
Setelah saya pikir-pikir, potongan lirik di atas benar adanya. Keimanan atau aqidah itu bukanlah sesuatu yang diwarisi. Ia diperoleh melalui sebuah proses. Ia adalah jawaban dari pertanyaan inti yang akan menjawab segala pertanyaan yang ada di dunia ini. Ia adalah fondasi yang melandasi perbuatan dan ia pula yang menciptakan tingkah laku yang terpancar dalam sebuah kepribadian. Tentu yang saya bahas di sini adalah keimanan dalam Islam.
Dulu, ketika masih kecil saat ditanya, “Kenapa kamu beragama Islam?” Saya hanya bisa menjawab dengan  polosnya, “Karena orang tua saya Islam”. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, saya kembali berpikir, di samping melihat banyak fenomena yang terjadi di sekitar saya, bahwa keimanan bukanlah hal yang bisa diwarisi. Tidak ada seorangpun yang bisa menjamin itu. Mungkin, contoh yang bisa saya indera waktu itu adalah seorang guru agama yang notabene­­-nya pasti tahu tentang Islam, namun ternyata anaknya masih belum mengerti bagaimana pakaian yang benar dalam Islam. Dan di sisi lain saya melihat, anak seorang pegawai negeri sipil biasa yang pengetahuan Islamnya mungkin tidak sebagus orang yang lulusan ilmu agama ternyata justru lebih paham bagaimana pakaian dalam Islam, bahkan lebih dari itu. Ada lagi, seorang yang dulunya lahir dari keluarga non Islam, bisa memutuskan untuk memeluk Islam bahkan menjadi orang yang ikut menyebarkan Islam. Akhirnya, saya sampai pada satu kesimpulan bahwa iman itu adalah sebuah pilihan. Pilihan yang diberikan Allah dalam hidup setiap manusia apapun latar belakangnya. Ia diperoleh melalui sebuah proses. Proses yang juga dipilih oleh manusia tanpa dipaksa. Keimanan bukanlah takdir. Karena setiap orang berhak masuk surga dan tidak ada jaminan bahwa seseorang yang sudah memeluk Islam tidak akan masuk neraka meski ada hadist yang menyatakan bahwa setiap Muslim pasti akan masuk surga, namun tidak menutup kemungkinan mereka masuk neraka dulu sebelum masuk surga.
Akhirnya saya memahami, tentunya setelah mengkaji lebih dalam bahwa keimanan diperoleh melalui proses berpikir yang didukung oleh bukti-bukti yang pasti kebenarannya, bukan sekedar doktrin atau ikut-ikutan semata karena keturunan, mencari ketenangan, keajaiban atau karena kebutuhan semata. Tetapi benar-benar menjadi sebuah keyakinan karena keimanan adalah landasan dalam kehidupan, terutama bagi seorang Muslim. Kebangkitannya ditentukan oleh seberapa kokoh keimanan atau aqidahnya.
Semua pasti tahu bahwa yang menjadikan manusia mulia karena manusia dianugerahkan akal oleh Allah. Tapi tidak semua orang memahami bahwa akal itulah yang digunakan untuk mendapatkan keimanan. Ketika seseorang mulai berpikir tentang alam semesta, manusia dan kehidupan maka ia akan mulai bertanya akan tiga hal, yakni:
·        Darimana ia berasal?
·        Untuk apa ia ada di dunia ini?
·        Mau kemana ia setelah kehidupan dunia ini?
Pertanyaan itulah yang berusaha ia jawab karena dengan terjawabnya 3 pertanyaan itu, maka terjawab pula seluruh pertanyaan yang akan muncul setelahnya. Tiga pertanyaan itulah yang akan membawa seseorang kepada keimanannya. Jika kita kembalikan kepada diri kita sebagai seorang Muslim, maka kita pasti akan meyakini bahwa dari Allah kita berasal. Karena kita yakin bahwa dunia ini tidak mungkin ada dengan sendirinya. Adanya sesuatu menunjukkan adanya Pencipta. Adanya ballpoint menunjukkan ada pabrik yang membuatnya. Begitu juga dengan dunia ini  (QS. Ali Imran [3] : 190).
Dan untuk mengetahui siapa Pencipta itu maka kita diyakinkan oleh al Qur’an yang merupakan firman Allah (QS. Al Baqarah [2] : 2). Di sana Allah memperkenalkan diriNya. Lebih dari itu, Allah tidak hanya sekedar memperkenalkan dirinya sebagai Pencipta, tetapi juga mempersembahkan sebuah aturan paripurna yang akan mengatur kehidupan ciptaanNya. Maka Allah adalah Pencipta sekaligus Pengatur (QS. Al A’raaf [7] : 54). Lalu, bagaimana Allah bisa mengatur manusia? Tentu Allah tidak mungkin mengatur manusia secara langsung. Oleh karena itu, Allah mengutus seorang Rasul dari kalangan manusia untuk bisa menyampaikan risalah yang sudah Allah tetapkan untuk manusia sehingga manusia mampu mengerti (QS. Al Anbiyaa [21] : 107). Apakah selesai sampai disitu? Tentu saja tidak. Karena ternyata setelah kehidupan dunia manusia akan kembali kepada Allah dan akan mempertanggungjawabkan segala perbuatannya selama di dunia (QS. Al Anbiyaa [21] : 35). Sampai pada akhirnya manusia akan sampai pada tujuan terakhirnya. Dan pilihan manusia selama di dunia akan menentukan kemana ia akan kembali, ke surga atau ke neraka (QS. Al Zalzalah [99] : 7-8).
Keimanan adalah pilihan. Maka taat adalah sebuah konsekuensi dari keimanan. Ketika Islam menjadi keputusan maka keterikatan terhadap aturan Allah secara sempurna merupakan sebuah keniscayaan yang harus dilakukan karena setiap diri kita pasti akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak dan kita pasti akan mendapatkan balasan atas apa yang kita kerjakan.
Wallahu ‘alam bi ash shawaab.