Tuesday, November 16, 2010

For The Sake of Love??? *Yang bener aja*

Cinta. Tentu kita tidak asing lagi dengan kata yang satu itu. Dalam dunia remaja, cinta adalah hal yang paling banyak dibahas. Bagi sebagian besar remaja, cinta sama posisinya dengan oksigen. Tanpa cinta, nafas akan terasa sesak. Namun, banyak dari mereka yang salah memaknai arti cinta tersebut. Akhirnya, cinta dijadikan sesuatu yang murah. Padahal, dia diciptakan bukan untuk dicampur bersama hawa nafsu.
Pacaran. Sebuah aktivitas yang diidentikkan dengan kata "Cinta" dan "Sayang". Bagi siapapun yang sedang merasakannya, pacaran adalah solusinya. Sehingga muncullah slogan, Cinta adalah Pacaran, tidak ada Cinta tanpa Pacaran. Naudzubillah. Padahal, dengan tegas Allah berfirman dalam kitabNya, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk". (Q.S. al Israa :32)
Bagi mereka yang hatinya sedang "flowering" atau berbunga-bunga, tentu pacaran akan sangat memuaskan keinginan mereka. Tetapi, sesungguhnya itu bukanlah cinta yang sebenarnya. Itu hanyalah cinta sesaat. Cinta yang didasari oleh hawa nafsu yang bisa hilang kapan saja. Hari ini kita bisa menyukai pasangan kita, tetapi besok belum tentu dan tidak ada satupun yang bisa menjamin bahwa pacar kita sekarang adalah jodoh kita nantinya.
Lalu, bagaimana cinta yang sebenarnya? Cinta yang sebenarnya adalah cinta yang dipupuk melalui ikatan pernikahan. Itulah jalan yang diridhoi oleh Allah azza wa jalla. Namun, jika kita belum mampu melaksanakannya, tidak perlu stres. Karena cinta bisa dipendam. Cinta bisa ditempatkan di tempat yang aman. Cinta hanyalah naluri, bukan kebutuhan jasmani. Cinta bukanlah oksigen yang harus kita hirup. Tanpa perasaan cinta kepada lawan jenis, kita tidak akan mati apalagi membuat dunia sampai kiamat. Kita bisa mengalihkannya kepada hal-hal positif. Lagipula, kita masih bisa berharap kepadaNya, Sang Pemilik Cinta, Allah azza wa jalla. Sudah sepantasnya kita menempatkan cinta tertinggi kita kepadaNya dan RasulNya, bukan kepada yang lain. Dengan begitu, kita akan mencintai yang lain dengan bijaksana.
Jadi, apapun yang kita anggap sebagai cinta, ketika tidak diekspresikan dengan jalan yang diridhoi Allah, maka itu bukanlah cinta yang sebenarnya.

No comments:

Post a Comment