Saturday, November 27, 2010

Untitled

Ini tentang aku. Tentang kegilaanku. Tentang pikiranku yang berhamburan seperti kerikil di jalanan. Tentang waktuku yang terlalu berharga untuk kusia-siakan. Tentang perjalananku yang mungkin saja akan berakhir sebelum aku bisa menebaknya. Tentang dunia yang kubangun di dalam kepalaku. Tentang segala hal indah yang menjadi harapan dalam mimpi-mimpiku. Aah, rasanya kepalaku nyaris pecah. Semua ini membuatku seperti tenggelam. Aku tenggelam dalam pikiran-pikiranku sendiri. Ya Allah, kurasa aku sudah terlalu jauh berjalan. Berjalan jauh dari sisiMu. Keegoisanku semakin membuncah. Keegoisan yang selama ini kusangkali. Keegoisan yang seringkali muncul tanpa kusadari. Ya Allah, terlambatkah jika aku ingin kembali ke sisiMu?! Berjalan di jalan yang telah kau tentukan untuk kami?!

Jika kata-kata itu benar bahwa bersamaMu semua akan baik-baik saja, izinkan aku untuk selalu ada di dekatMu. Izinkan aku bersandar padaMu. Izinkan aku mengadu dan menangis di hadapanMu. Izinkan aku memperbaiki keadaanku. Izinkan aku berpegang pada aturanMu.

Aku sudah lelah hidup seperti ini. Hidup tanpaMu. Aku mohon izinkan aku mendekatiMu. Izinkan aku selalu bersamaMu di sepanjang hidupku dan izinkan aku beristirahat di tempat yang Engkau janjikan untuk hambaMu yang istimewa.

Tuesday, November 16, 2010

For The Sake of Love??? *Yang bener aja*

Cinta. Tentu kita tidak asing lagi dengan kata yang satu itu. Dalam dunia remaja, cinta adalah hal yang paling banyak dibahas. Bagi sebagian besar remaja, cinta sama posisinya dengan oksigen. Tanpa cinta, nafas akan terasa sesak. Namun, banyak dari mereka yang salah memaknai arti cinta tersebut. Akhirnya, cinta dijadikan sesuatu yang murah. Padahal, dia diciptakan bukan untuk dicampur bersama hawa nafsu.
Pacaran. Sebuah aktivitas yang diidentikkan dengan kata "Cinta" dan "Sayang". Bagi siapapun yang sedang merasakannya, pacaran adalah solusinya. Sehingga muncullah slogan, Cinta adalah Pacaran, tidak ada Cinta tanpa Pacaran. Naudzubillah. Padahal, dengan tegas Allah berfirman dalam kitabNya, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk". (Q.S. al Israa :32)
Bagi mereka yang hatinya sedang "flowering" atau berbunga-bunga, tentu pacaran akan sangat memuaskan keinginan mereka. Tetapi, sesungguhnya itu bukanlah cinta yang sebenarnya. Itu hanyalah cinta sesaat. Cinta yang didasari oleh hawa nafsu yang bisa hilang kapan saja. Hari ini kita bisa menyukai pasangan kita, tetapi besok belum tentu dan tidak ada satupun yang bisa menjamin bahwa pacar kita sekarang adalah jodoh kita nantinya.
Lalu, bagaimana cinta yang sebenarnya? Cinta yang sebenarnya adalah cinta yang dipupuk melalui ikatan pernikahan. Itulah jalan yang diridhoi oleh Allah azza wa jalla. Namun, jika kita belum mampu melaksanakannya, tidak perlu stres. Karena cinta bisa dipendam. Cinta bisa ditempatkan di tempat yang aman. Cinta hanyalah naluri, bukan kebutuhan jasmani. Cinta bukanlah oksigen yang harus kita hirup. Tanpa perasaan cinta kepada lawan jenis, kita tidak akan mati apalagi membuat dunia sampai kiamat. Kita bisa mengalihkannya kepada hal-hal positif. Lagipula, kita masih bisa berharap kepadaNya, Sang Pemilik Cinta, Allah azza wa jalla. Sudah sepantasnya kita menempatkan cinta tertinggi kita kepadaNya dan RasulNya, bukan kepada yang lain. Dengan begitu, kita akan mencintai yang lain dengan bijaksana.
Jadi, apapun yang kita anggap sebagai cinta, ketika tidak diekspresikan dengan jalan yang diridhoi Allah, maka itu bukanlah cinta yang sebenarnya.

My Contemplation

Kita lahir di dunia ini bersih bagai kertas putih yang masih bersih. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, perlahan-lahan kita mulai ditulisi dengan segala macam tulisan. Entah itu bagus atau jelek, entah itu benar atau salah. Semua tergantung kepada lingkungan tempat kita dibesarkan. Tapi, dibalik semua itu ada beberapa hal yang tergantung pada pilihan yang akan kita ambil, apakah kita tetap ingin seperti yang lalu-lalu ataukah kita menginginkan sebuah perubahan yang sudah lama tidak kita lihat dalam hidup kita yang monoton. Yup, setiap hari kegiatan kita hanya itu-itu saja sehingga tak jarang kita berpikir untuk membuat hidup kita lebih dinamis. Namun sayangnya, kita terlalu cepat menetapkan pilihan sehingga kita tidak memilah untuk melakukan aktivitas dinamis seperti apa. Jadilah kita kembali terbawa arus dunia yang sungguh sangat melenakan. Tak peduli lagi sama seruan Sang Pencipta. Apa saja boleh, yang benar dianggap asing dan aneh, sedang yang salah diupayakan untuk menjadi benar dan semua itu dipaksa untuk benar. Semua sah-sah saja yang penting tidak mengganggu dan melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Padahal, kita sama sekali tidak tahu standard benar dan salah itu seperti apa. Sok pintar dan selalu ingin supaya semuanya dibolehkan. Bantahan dan manuver terus dilancarkan ketika seruan kebenaran diteriakkan. Setiap kali diseru, sepertinya masih ada pilihan lain bagi kita dan kita masih selalu meragukannya. Padahal, kita tidak pernah tahu kapan hidup kita akan berakhir. Bisa saja besok, lusa, tahun depan, atau detik ini juga. Lantas, apa yang akan kita pertanggungjawabkan? Mengaku manusia modern dan berpendidikan, tapi kenapa masih sombong dan tak mengakui Sang Pencipta? Apakah kita ini keluar begitu saja dari sebuah mesin pencipta? Layakkah kita hanya menghabiskan waktu dengan sesuatu yang tidak berguna dan justru akan melenakan kita untuk menuju perubahan? Jawabannya adalah TIDAK. SAMA SEKALI TIDAK. Justru sebaliknya, kita harus mencari cara yang benar agar hidup kita tidak statis. Tantangan bukan sesuatu yang patut menjadi momok menakutkan untuk kita. Karena, kebenaran takkan pernah memihak dan selamanya kebenaran itu hanya ada satu, yaitu kebenaran yang bersumber dari SANG PENCIPTA alam semesta ini, yaitu Allah SWT. Tapi, banyak dari kita yang tidak menyadarinya. Sama sekali tidak pernah menyadarinya saking kita terlena dengan keindahan dunia ini. Astaghfirullah, patutlah kita memohon ampun hanya kepada Allah swt. Kita selalu saja memiliki banyak pertimbangan untuk menerima kebenaran, sementara untuk menerima kesesatan kita tak pernah sama sekali mempertimbangkannya. Sungguh ironis sekali makhluk-makhluk ini. Terlalu banyak kompromi oleh kita untuk menerima sebuah kebenaran. Kita terlalu sibuk memikirkan kepentingan diri kita sendiri. Padahal, Allah telah menunjukkan kebenaran-kebenaran itu dalam kitabNya. Namun, tak sedikit dari kita yang menolak kebenaran itu. Astaghfirullah. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita.
Sungguh, kebenaran akan selalu menampakkan cahanya meski seluruh manusia di bumi menolak kehadirannya.