Sunday, May 11, 2014

Al Qur'an, Tak Sekedar Bacaan

photo by tumblr
Beberapa hari yang lalu, di kampus saya diselenggarakan MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an) tingkat Universitas. Namanya MTQ pasti yang diperlombakan adalah bacaan Al-Qur’an, hafalan, dsb. Selain itu, masih ada kaligrafi, debat Al Qur’an dan karya tulis. Acara ini emang rutin tiap tahun dilaksanakan oleh pihak kampus. UAKI (Unit Aktivitas Kerohanian Islam) universitas juga berperan dalam acara ini. Sebelum maju sebagai perwakilan fakultas di tingkat universitas, tiap fakultas mengadakan seleksi MTQ di fakultas masing-masing. Dari perwakilan inilah yang kemudian berlaga di kompetisi MTQ universitas. Namun sayangnya acara ini tidak terlalu banyak yang antusias. Yah, dimana-mana orang yang nonton konser mesti lebih banyak. Sedih juga sih karena mayoritas di kampus adalah kaum Muslimin. Tapi, partisipasi mereka untuk Islam hampir gak ada.
        Ngomong-ngomong soal Al Qur’an, Alhamdulillah sekarang makin banyak yang tertarik untuk membacanya. Apalagi para artis. Dan sekarang kampanye ke arah Islam semakin meluas. Misal aja nih ada ODOJ dan sebagainya. Mungkin selain ODOJ masih ada lagi. Di satu sisi, saya senang dan mengapresiasi. Adanya MTQ yang rutin dilaksanakan pun sebenarnya menunjukkan harapan kaum Muslimin terhadap Islam masih ada. Tapi, Al Qur’an kan diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia. Namanya petunjuk berarti tidak hanya dibaca tapi juga diamalkan. Sayangnya, sekarang banyak aturan dari Al Qur’an yang belum dilaksanakan. Seperti contoh ekonomi. Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Tapi, faktanya sistem ekonomi hari ini ditopang oleh riba. Misal lagi, pembunuh yang membunuh dengan sengaja harus di qishash. Tapi, faktanya tidak diterapkan. Padahal, hukumnya sama wajibnya dengan puasa pada bulan Ramadhan. Contoh lain, laki-laki dan perempuan yang berzina harus dirajam atau dicambuk. Faktanya, banyak sekali yang sudah berzina tapi bebas-bebas saja berjalan dalam kehidupan ini padahal zina adalah dosa besar. Sama halnya dengan riba. Contoh lain, mengurusi jenazah adalah fardhu kifayah tapi banyak sekali jenazah yang tidak diurusi akibat tidak dikenali kerabatnya siapa atau tidak ada yang mau bertanggung jawab karena harus bayar macam-macam. Padahal, fardhu kifayah itu jika tidak ada yang melaksanakan maka seluruh kaum Muslimin berdosa. Di dalam Al Qur’an sendiri jelas terdapat seluruh aturan di seluruh aspek kehidupan. Mulai dari hubungan dengan Allah, diri sendiri sampai kenegaraan. Namun, saat ini kaum Muslimin masih belum banyak yang sadar bahwa Al Qur’an adalah solusi atas seluruh permasalahan.
Di dalam Al Qur’an juga Allah berfirman bahwa membuat hukum hanyalah hak Allah, tapi hari ini hukum dibuat oleh manusia. Sistem yang memperbolehkan hal itu bernama Demokrasi. Dan kaum Muslimin (masih) mengamininya. Maka wajar jika hari ini kaum Muslimin hanya mengambil Al Qur’an seluruhnya untuk dibaca. Sementara hukumnya yang seharusnya dijalankan secara kaffah hanya diambil sebagian-sebagian saja. Al Qur’an begitu diagungkan namun hanya sebatas bacaan. Setelah dibaca, ia disimpan di lemari dan tidak direnungi serta dijadikan acuan ketika ada masalah. Untuk masalah negeri ini, para pemimpin negeri ini sekalipun Muslim, mereka hampir tidak pernah melirik Al Qur’an untuk dijadikan solusi. Sungguh ironis. Padahal, mereka meyakini Al Qur’an berasal dari Allah.
Namun, ada orang-orang yang tidak ingin Al Qur’an hanya sekedar menjadi bacaan. Mereka ingin menerapkannya. Tapi, ternyata hal tersebut tidak mudah. Karena orang-orang tersebut justru dilarang oleh mereka yang setiap harinya membaca Al Qur’an. Ya, orang-orang yang mengagungkan Al Qur’an dengan membacanya setiap hari justru menghalangi orang yang ingin menerapkan isi Al Qur’an dalam kehidupan. Apakah orang yang membaca Al Qur’an itu bukan Muslim? Tentu saja tidak. Mereka Muslim. Dan tidak sedikit yang memiliki ilmu tentang Islam. Namun, mereka membenci orang yang ingin menerapkan Al Qur’an.
Saya sendiri juga heran. Kenapa membaca Al Qur’an yang sunnah mengalahkan penerapan Al Qur’an yang sudah jelas-jelas wajib? MTQ selalu diselenggarakan. Tetapi, ketika isi Al Qur’an ingin diterapkan di seluruh penjuru dunia, mereka ramai-ramai melarang. Sebegitu menyeramkannyakah hukum yang berasal dari Tuhan Semesta Alam? Ataukah memang ada pemikiran lain yang menyebabkan kaum Muslimin menjadi hipokrit?
Ya, Sekulerisme itu nyata kawan. Dan untuk membunuhnya, lawanlah dengan pemikiran yang menjadikan Allah tidak hanya Pencipta tetapi juga Pengatur. Tidak lain dan tidak bukan adalah Islam. Islam Kaffah. Bukan Islam moderat. Karena Islam tidak mengenal kata kompromi.
Allah SWT berfirman
“Hai orang-orang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah ikut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagimu” (Al Baqarah : 208)
So, tidak ada gunanya masih menerapkan Demokrasi yang hanya menjadikan Al Qur’an sebagai bahan bacaan tanpa penerapan. Saatnya mengganti dengan Khilafah, sistem pemerintahan yang diwariskan Rasulullah dan para Shahabat, yang menjadikan Al Qur’an dan as Sunnah sebagai pilarnya.

Wallahu ‘alam bi ash shawwaab
Shelter, May 10th 2014. H-20 menuju KIP.

Sunday, May 04, 2014

Potret Buram Pendidikan Indonesia

Setiap tanggal 2 Mei diperingati sebagai hari Pendidikan Nasional. Dulu, jaman SMA, tiap tanggal 2 Mei, pasti kelas saya jadi grup paduan suara untuk upacara tingkat Provinsi di kantor Gubernur. Kenapa? Karena sekolah saya yang paling dekat dengan kantor Gubernur haha :D Sayangnya, semua acara tersebut tidak lebih dari ceremonial belaka. Kenapa? Karena ternyata saat ini potret pendidikan di Indonesia belum menemukan titik cerahnya.
Dalam pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa salah satu tujuan Negara ini adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Tapi, ternyata tujuan itu seperti pepatah jauh panggang dari api.
Seiring dengan berjalannya waktu saya banyak belajar dari kejadian yang terjadi di sekitar saya. Dulu, zaman saya SD-SMA, pendidikan masih terjangkau. Tapi, setelah saya masuk perguruan tinggi *padahal negeri* ternyata pendidikan tidak lagi menjadi kebutuhan primer tetapi tersier. Karena untuk sekolah itu perjuangannya luar biasa. Ngumpulin duit berjuta-juta. Mulai dari TK-kuliah. Miris sekali melihat banyak generasi muda yang harusnya duduk di bangku sekolah, tapi karena mereka tidak memiliki biaya maka berakhirlah semua impian mereka. Okelah ada beasiswa macam BOS atau Bidik Misi. Tapi, ternyata tidak semua orang *yang pantas menerima* bisa menikmatinya. Justru, orang yang sebenarnya mampu yang mendapatkan beasiswa untuk orang yang tidak mampu. Masya Allah. Ini namanya terlalu. Tapi, ini fakta. Pendidikan semakin lama semakin langka hingga muncul anekdot, “Orang miskin dilarang sekolah”. Dan ini pula yang menjadi salah satu lingkaran setan kemiskinan di negeri ini. Kenapa? Ketika ditanya, kenapa dia tidak bisa berobat? Dia miskin. Kenapa dia miskin? Tidak punya pekerjaan. Kenapa tidak punya pekerjaan? Tidak punya pendidikan. Kenapa tidak punya pendidikan? Karena dia miskin. Akan selalu seperti itu. Berputar di situ-situ saja. Seolah kemiskinan  adalah warisan dari orang tua. Semakin hari yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Memang di dunia ini takkan ada orang kaya saja, tapi kalo orang miskinnya itu beranak cucu, turun-temurun, itu namanya apa? Out of mind kan?
Belum lagi dari sisi output. Hari ini pendidikan mencetak generasi pragmatis bin materialistis. Karena memang masuknya saja mahal. Ini juga kali ya yang bikin orang korupsi. Kalo udah jadi wakil rakyat pada balik modal, karena pengorbanannya juga gak tanggung-tanggung. Sama kayak pendidikan hari ini. Dan yang paling parah akhirnya generasi ini gak ada lagi yang mikirin soal masa depan negerinya. Mereka sibuk ngejar mimpi-mimpi mereka sendiri. Bahkan mereka lebih bangga bekerja di perusahaan asing karena gajinya tinggi *padahal CEO-nya bisa puluhan kali lipat gajinya* dan imbasnya adalah generasi hari ini sangat susah diajak mikir permasalahan umat. Mereka bisanya kuliah, ngerjain laporan, tugas biar dapat IP perfect. Setelah itu kalo bosen, ikut ekskul yang having fun atau ikut dance cover, karaoke, dsb. Acara mahasiswa juga gak mencerminkan mahasiswa banget. Harusnya kalo mahasiswa itu penuh suasana panas forum-forum diskusi ilmiah, menelorkan ide untuk menyelesaikan permasalahan masyarakat. Tapi, hari ini justru sebaliknya. Jika pun ada forum-forum seperti itu, semua tidak lepas dari kepentingan-kepentingan kelompok tertentu tanpa sebuah tujuan jelas. Boro-boro mencerdaskan, yang ada malah menjerumuskan. Forum ideologis? Jangan ditanya. Jauh dari Allah? Biasa. Udah sampai tingkat parah generasi negeri yang katanya Zamrud Khatulistiwa ini.
Lalu, kenapa semua ini bisa terjadi? Ya, semua gak lepas dari atasnya. Apalagi kalo bukan kebijakan sistem yang diterapkan hari ini. Lewat kurikulum, pendidikan hari ini didesain super matre karena dalam sistem kapitalis, apa yang bisa dijual ya dijual termasuk jasa pendidikan. Saya juga sampai miris, ketika institusi pendidikan udah gak ada beda dengan convenient store macam Alfa Mart atau Indomaret. Padahal, pendidikan adalah ranah yang harusnya lebih mulia dari sekedar tempat berbelanja jasa pelayanan. Pendidikan adalah dunia dimana akan dicetak orang-orang yang membangun peradaban dunia. Pantas saja, kebijakan di negeri ini semua hasil dagang. Pendidikannya aja gitu. Wajar jika outputnya adalah orang-orang yang sangat oportunis. Asal ada manfaat materi, semua halal. Ya, sistem Demokrasi-Kapitalis yang diterapkan hari ini meniscayakan semua hal itu. Padahal, negeri ini dihuni hampir 60% oleh usia produktif termasuk anak-anak usia sekolah. Tidak hanya itu, negeri ini mayoritas Muslim, tapi justru kaum Muslimin di negeri ini bener-bener terpuruk. 11-12 sama kaum Muslimin di belahan dunia lainnya.
Sejak Khilafah –sistem pemerintahan Islam- runtuh pada tahun 1924 di Turki, keadaan kaum Muslimin sangat jauh dari kata “baik”. Lihat saja, penjajahan dihadapi dimana-mana, mulai dari fisik sampai penjajahan pemikiran lewat invasi politik dan budaya. Dan semua ini kerap datang melalui dunia pendidikan. Saya pun pernah menjadi korban. Apalagi saya juga berada di Fakultas Ilmu Budaya. Dan setiap hari saya melihat bagaimana kagumnya teman-teman saya terhadap budaya dari luar negeri. Tidak hanya fakultas saya, tapi juga semua fakultas mendambakan untuk bisa mengecap pendidikan di luar negeri. Tapi, setelah pulang mereka justru menjadi agen asing. Ya, beginilah kondisi kaum Muslimin tanpa Khilafah.
Sangat berbeda ketika Khilafah ada. Dalam Daulah Khilafah, pendidikan adalah salah satu dari 3 kebutuhan dasar manusia. Kebutuhan dasar yang juga harus dipenuhi selain kebutuhan pokok. Sehingga Negara wajib memenuhi kebutuhan dasar tersebut untuk seluruh warga Negara, baik Muslim maupun Non Muslim, baik miskin maupun kaya. Semua diperlakukan dengan cara yang sama. Pendidikan diberikan secara murah bahkan gratis kepada seluruh warga Negara. Sehingga tidak ada lagi orang yang berpikir bahwa pendidikan adalah alat untuk mencari uang. Tetapi sebaliknya, pendidikan adalah untuk mencerdaskan. Sehingga sejarah mencatat bahwa peradaban di bawah naungan Islam adalah peradaban yang agung dan mulia. Banyak ilmuwan dan para ahli yang lahir dari sistem pendidikan Islam di bawah naungan Khilafah, sehingga adalah sebuah kebodohan yang mengatakan bahwa Khilafah adalah utopia belaka. Justru Demokrasilah yang utopia. Demokrasilah Pemberi Harapan Palsu karena sejak diterapkan, Demokrasi tidak membawa perubahan apapun selain perubahan kepada kehancuran umat manusia.
Sudah saatnya berjuang bersama kelompok yang konsisten memperjuangkan tegaknya kembali Khilafah Rasyidah. Bukan untuk satu atau dua orang, pun untuk kelompok tertentu tapi untuk seluruh umat manusia. Saatnya ganti rezim, ganti sistem. Kick Democracy, struggle for Khilafah. Allahu Akbar!
Wallahu ‘alam bi ash shawaab

Shelter, May 4th 2014. Teringat demo di depan rektorat hari Jumat.
Backsound : Trust in Allah by Saif Adam.

Friday, May 02, 2014

Hajimeyou!

Ketika kebenaran dikembalikan kepada persepsi masing-masing orang, tentu caranya akan berbeda-beda dan bisa jadi satu dengan yang lain akan saling menghabisi atas nama kebenaran yang diusung kepala masing-masing. 

Uchiha Madara ngebet banget pengen nguasain dunia untuk perdamaian dengan rencana Tsuki no Me. Tapi, dia gak nyadar kalo cara yang dia lakukan untuk mencapai perdamaian (versi kepalanya Madara) itu justru menimbulkan kekacauan dengan adanya Perang Dunia Shinobi IV.

Begitu juga dengan hari ini. Orang-orang senantiasa berkonotasi dengan hal-hal yang menurut perasaan mereka adalah baik. Seperti kata perdamaian. Konotasinya baik. Tapi, untuk mencapai hal itu digunakan cara yang merusak. Dengan penerapan Demokrasi yang justru membuat orang lain tanpa sadar merampas hak orang lainnya untuk mendapatkan kebebasannya sendiri.

Sayangnya, hidup ini bukan fantasy macam Naruto. Tapi, dalam cerita kehidupan selalu ada orang-orang seperti Madara dan Naruto. Orang yang niatnya baik tapi caranya salah. Dan orang yang memperjuangkan apa yang diyakininya untuk masa depan yang lebih baik dengan jalan yang benar. 

Dan kebenaran itu tidak mungkin datang dari tempat dimana perbedaan selalu ada. Ya, kebenaran tidak datang dari sisi manusia. Keberadaan hanya datang dari sisi Yang Maha Benar. Allah SWT. Dan karena keyakinan kita akan kebenaran itulah maka kita memilih untuk memperjuangkannya.


Saatnya memilih kebenaran bukan mencari pembenaran.

Finally, setelah sekian lama akhirnya bisa nulis lagi. And see, tulisannya bener-bener random :D Demo, daijoubu. Selama bisa menebar hikmah dan ibrah, gak masalah ^_^
Shelter, April 30th 2014. Malam Mayday.

Backsound : Goodbye to Onaji Kurai Thank You

Thursday, April 10, 2014

Perempuan Penggenggam Bara Islam


Engkau telah lama berkelana
dalam belantara gelap tanpa batas
Belasan tahun dalam pencarian
Namun, tak kunjung kau temukan cahaya

Dan tiba masa
Saat tanya dan harapanmu terjawab
Kau temukan Islam
bersama warna-warni 
yang membunuh gelapnya jiwamu

Hangat
Cerah
Bersinar
Tanpa batas

Lalu, Dia biarkan kau buktikan
Seberapa murni cinta yang kau beri
Seberapa teguh keyakinan yang kau tanam
Seberapa kuat pijakan yang kau tapak

Karena ternyata bara Islam juga sangat panas
Dan kau terbakar olehnya
Hingga kau hidup dengan panas bara itu

Perempuan penggenggam bara Islam
Meski kenyataan telah membunuhmu
Menusuk hatimu dalam
dan semakin dalam

Kau kan selalu hidup
Bersama bara yang kau genggam
Bersama mabda yang kau emban
karena kaulah sang penggenggam bara Islam

Sebuah persembahan untuk dua sahabatku, Midori dan bu Dokter. Barakallahulakuma yaa Ukhty. Wish u all the best. Semoga Allah senantiasa menjaga antuma dalam ketaatan dan keistiqomahan hingga Dia memanggil antuma ke sisiNya. Ini hanya sedikit persembahan dariku. Kenanglah. Tak perlu sebagai hadiah. Cukup kenang bahwa ada seseorang yang bangga dan bersyukur menjadi salah satu sahabat kalian. Dan aku berharap itu aku :)

Khairunnisa, April 10th 2014. 09:51. Bersama ujian.

Sunday, March 16, 2014

Saatnya Mahasiswi Bersuara

            Gak terasa sudah seminggu sejak diselenggarakannya Panggung Politik Mahasiswi di kota saya. Acara ini mengusung tema, Indonesia Lebih Baik; Tinggalkan Demokrasi, Tegakkan Khilafah. Dan untuk pertama kalinya saya yang terbiasa di belakang layar akhirnya nampang juga, haha. Tapi, saya gak bakal bahas itu kok.

Mahasiswa dan Pemilu
Tahun ini merupakan tahun politik bagi Indonesia. Kenapa? Karena tahun ini akan diselenggarakan Pemilu untuk memiliki calon legislatif (DPR, DPD) serta calon presiden dan wakilnya. Ajang yang sering disebut-sebut sebagai Pesta Demokrasi Akbar ini emang diselenggarakan 5 tahun sekali. Tapi, sepertinya animo masyarakat terkait Pemilu turun drastis dengan meningkatnya angka golput sejak Pilkada beberapa waktu silam. Namun, perlu diingat bahwa Negara ini memiliki jumlah pemuda yang sangat besar. Dan sebagian diantaranya adalah mahasiswa. Mahasiswa dengan latar belakang intelektualitas yang dimiliki mempunyai posisi strategis dalam Pemilu. Suara mereka termasuk dalam suara yang diperhitungkan. Jadi, gak heran kalo para caleg dan bahkan capres juga rame-rame ngegaet mahasiswa di parpolnya untuk menyukseskan langkah mereka di Pemilu mendatang.
Sayangnya mahasiswa hari ini tidak cukup cerdas untuk melihat permasalahan yang ada. Karena sebagian belum mampu menentukan sikap atas perpolitikan yang terjadi. Padahal, sebenarnya mereka memiliki peran strategis untuk mengawal perpolitikan bangsa. Sayangnya, pragmatisme yang ditanamkan melalui sistem pendidikan membuat para mahasiswa hanya sibuk dengan urusan mereka sendiri. Tidak sedikit yang apatis terhadap politik. Mereka lebih banyak memilih untuk tidak peduli. Jika pun tau mereka akan pura-pura tidak tahu. Entah untuk menyelamatkan diri atau karena memang terlalu lelah dengan beban perkuliahan. Bagi yang hanya bisa membebek, mereka akhirnya dijadikan mesin pencetak suara. Dan bagi mereka yang terjebak dalam hipnotis Demokrasi, akan memberikan sejuta harapan mereka kepada salah satu caleg atau capres partai dengan harapan bahwa suatu saat harapan itu akan terwujud. Sedang sisanya ada yang golput karena tidak percaya dan sudah sangat apatis terhadap perpolitikan bangsa ini.

Demokrasi, Bukan Hanya Sekedar Memilih Pemimpin
Masih banyak pemuda yang menganggap bahwa Demokrasi adalah proses pemilihan pemimpin. Sehingga para pemuda, khususnya mahasiswa masih ada yang menggembar-gemborkan kampanye Anti Golput dan sebagainya. Padahal, sejak SD kita sudah diajarkan tentang definisi Demokrasi, yakni pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat. Artinya kedaulatan ada di tangan rakyat. Itu berarti pula bahwa rakyat yang berhak membuat hukum. Akhirnya dipilihlah wakil rakyat untuk menjadi pembuat hukum yang nantinya akan menduduki kursi DPR. Masa saya harus bilang kalo orang-orang hari ini gagal paham tentang definisi Demokrasi? Tapi, itu fakta. Dan lihatlah prestasi Demokrasi di negeri ini. Hampir seluruh sumber daya alam menjadi milik asing. Kita tidak lebih dari budak di negeri sendiri. Kekayaan yang harusnya kita nikmati hanya kita peroleh dengan menjadi buruh di perusahaan yang mengelola kekayaan tersebut. Para mahasiswa digiring untuk menjual ilmu mereka ke perusahaan-perusahaan swasta, khususnya asing. Pemuda tidak lebih dari mesin produksi. Mesin pencetak uang. Di sisi lain, liberalisme terus menguat. Pergaulan bebas tumbuh subur, aborsi meningkat, prostitusi menjamur, narkoba tak pernah berkurang, tawuran pelajar tak pernah ada habisnya. Rusaknya generasi menambah suram masa depan bangsa ini. Di sisi lain, para elit politik tak pernah peduli. Alih-alih memberikan edukasi pada rakyat, mereka justru menyuap rakyat untuk memberikan suara dalam Pemilu. Tak sedikit pula partai Islam yang akhirnya terjebak pragmatisme politik. Berharap bisa menegakkan Islam melalui parlemen, namun mereka justru mencelupkan diri mereka dalam jebakan yang dibuat oleh Demokrasi. Maka jelaslah bahwa Demokrasi itu rusak dan merusak. Rusak konsepnya dan merusak siapa saja yang menjadi pendukungnya.
Islam Memuliakan Peran Politik Pemuda
Hal ini berbeda dengan Islam. Islam sungguh memuliakan peran politik pemuda. Pemuda yang merupakan generasi penerus peradaban memiliki peran strategis dalam Islam. Islam dengan Khilafah akan mampu mencetak generasi visioner, generasi yang ahli dalam berbagai bidang, pun aktif dalam upaya mengkritisi penguasa yang menyimpang dari Syariat Allah. Dan ini tidak akan mungkin terwujud dalam sistem Demokrasi. Melalui sistem pendidikan akan dicetak generasi-generasi brilian yang akan menjadi ilmuwan sekaligus negarawan yang berdiri tegak di atas kebenaran, yakni ideologi Islam. Karena politik di dalam Islam bukanlah ajang rebutan kekuasaan, tetapi pengaturan urusan rakyat oleh Negara.
Sejarah telah mencatat bagaimana Islam mampu mencetak generasi visioner sejak masa Rasulullah hingga kekhilafahan terakhir yakni Khilafah Utsmany. Sebut saja Mush’ab bin Umair, Saad bin Muadz, Sa’ad bin Abi Waqqash, Usamah bin Zaid, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Al Khawarizmi, hingga Muhammad Al Fatih. Mereka semua adalah tokoh besar dan generasi yang dicetak dalam Daulah Khilafah. Sangat berbeda dengan sistem Demokrasi yang justru mencetak generasi alay bin lebay yang sukanya hura-hura, having fun dan suka segala cara yang instan.
Islam juga akan melindungi generasi dari distorsi moral dengan sistem pergaulan. Didukung dengan dua suprasistem, yakni ekonomi dan politik sehingga para pemuda mampu menjadi generasi cemerlang pewaris peradaban gemilang.

Kick Democrazy, Stuggle For Khilafah
69 tahun bangsa ini merdeka dengan penerapan sistem Demokrasi yang bermacam-macam, namun kesejahteraan justru menjadi utopia yang semakin membuat negeri ini gersang dari kepercayaan. Maka sudah cukup tipuan ini memperdayakan kita, para mahasiswa. Saatnya membuang Demokrasi ke tong sampah peradaban. Karena sistem ini tak lebih dari ilusi.
Dan sebagai seorang Muslim yang beriman kepada Allah dan RasulNya, sudah saatnya kita mengambil kembali apa yang seharusnya kita genggam erat-erat, yakni Syariat Allah. Maka berjuanglah untuk menegakkannya kembali di bawah naungan Khilafah bersama jamaah yang juga memiliki visi melanjutkan kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah.
Jika kau tidak ingin terbawa arus, maka ciptakanlah arus baru. Melawanlah atau kau akan kalah. Saatnya ambil bagian dalam sejarah menuju abad Khilafah Rasyidah yang kedua.

Khairunnisa, March 16th 2014. Salam Perjuangan, Salam Revolusi.
Saudarimu,
Ditri Ayu R.A.L.



Panggung Politik Mahasiswi adalah acara yang diselenggarakan oleh Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia. Acara ini berlangsung di seluruh Indonesia selama bulan Maret.

Saturday, March 15, 2014

Blind Spot


Semua atlet profesional tentu memiliki pelatih. Bahkan, petinju sehebat Mohammad Ali sekalipun juga memiliki pelatih. Padahal jika mereka berdua disuruh bertanding jelas Mohammad Ali-lah yang akan memenangkan pertandingan tersebut.

Mungkin kita bertanya-tanya, mengapa Mohammad Ali butuh pelatih kalau jelas-jelas dia akan menang melawan pelatihnya? Kita harus tahu bahwa Mohammad Ali butuh pelatih bukan karena pelatihnya lebih hebat, namun karena ia butuh seseorang untuk melihat hal-hal yang..
"TIDAK DAPAT DIA LIHAT SENDIRI"

Hal yang tidak dapat kita lihat dengan mata sendiri itulah yang disebut dengan "BLIND SPOT" atau "TITIK BUTA".
Kita hanya bisa melihat "BLIND SPOT" tersebut dengan bantuan orang lain.

Dalam hidup, kita butuh seseorang untuk mengawal kehidupan kita, sekaligus untuk mengingatkan kita seandainya prioritas hidup kita mulai bergeser.

↣ Kita butuh orang lain
↷ Yang menasihati,
↷ Yang mengingatkan,
↷ Bahkan yang menegur jika kita mulai melakukan sesuatu yang keliru, Yang bahkan kita tidak pernah menyadari.

KERENDAHAN HATI kita
↷ Untuk menerima kritikan,
↷ Untuk menerima nasihat,
↷ Dan untuk menerima teguran itulah yang justru menyelamatkan kita.

Kita bukan manusia sempurna.
Biarkan orang lain menjadi "mata" kita di area 'Blind Spot' kita sehingga KITA BISA MELIHAT apa yang TIDAK BISA KITA LIHAT dengan pandangan diri kita sendiri. Semoga bermanfaat...

Copas dari Sosmed Teman

Friday, March 14, 2014

Cinta Ditolak, Akun FB Di-Hack

Saya aja gak percaya, tapi ini beneran. Judul di atas asli. Meskipun kelihatannya lebay bin alay. Trus, gimana ceritanya?
Dulu, Cinta Ditolak Dukun Bertindak. Kalo di jaman sosmed kayak gini ya seperti judul di atas. Haha, saya juga gak habis pikir. Padahal cerita itu udah lama. Ternyata dendamnya masih belum padam. Ceritanya, beberapa waktu lalu teman FB saya sempat kena hack sama seseorang yang ternyata dulu adalah teman sekolahnya waktu SMA. Motifnya dendam masa lalu. Haha, udah kayak beritain Buser aja :D Jadi si cowok dendam karena cintanya ditolak sama temen FB saya itu. Ya jelas aja, orang mbaknya udah paham Islam. Lagipula emang dianya juga gak ngaca. Cowok baik-baik gak bakalan ada yang sudi ngajak cewek yang dia suka untuk nyicipin maksiyat. Atau mungkin dia gak punya cermin kali ya buat ngaca? Ckckck… Hari gini? :D
Kalo saya boleh komen nih ya, peristiwa kayak gitu gak ujuk-ujuk ada. Semua emang karena ada sebuah sistem yang membuat kondisi jadi kacau-balau seperti hari ini. Atas nama cinta semua jadi legal. Termasuk ngobrak-ngabrik akun orang. Dan emang sih sekarang ini jaman dimana kebebasan menjadi sesembahan. Dipayungi oleh sebuah sistem bernama Demokrasi makin menjadilah kelakuan orang-orang hari ini. Mirisnya, mereka adalah Muslim.
Gitu deh realitas sistem Demokrasi dengan 4 pilar kebebasannya, yakni kebebasan berkeyakinan, kebebasan berperilaku, kebebasan berpendapat dan kebebasan berkepemilikan. Gak ada lagi tuh kata halal-haram. Yang penting bebasss. Dan di sinilah rusaknya Demokrasi. Karena keputusan itu berada di tangan manusia. Padahal, kenyataannya manusia itu lemah, terbatas, serba kurang dan membutuhkan yang lain. Tapi, dengan “sok tau”-nya manusia bikin aturan sendiri. Gak Cuma rusak, tapi juga merusak. Buktinya? Ya, kayak cowok tadi. Cinta ditolak bukannya introspeksi diri, eh malah nge-hack. Malu-maluin banget.
Ini Cuma sebagian kecil dari realitas rusak dan merusaknya sistem Demokrasi. Masih banyak lagi realitas lain yang bisa kita temukan di kehidupan kita masing-masing kalo kita mau untuk mencermati. So, Stop Demokrasi Rusak dan Merusak. Ganti dengan Khilafah. Allahu Akbar!
Khairunnisa, March 6th 2014. 01:27 PM.

Setelah beberapa waktu vakum nulis karena sibuk di tim propaganda jadi Pembantu Umum. Alhamdulillah bisa nulis lagi ^_^