Sunday, April 08, 2012

KAMI BUTUH SOLUSI, BUKAN KEBIJAKAN BASI

Beberapa waktu yang lalu Indonesia ditimpa kegalauan yang luar biasa. Lho? Galau? Kok bisa? Ya, bisa aja. Sekarang penyebaran virus galau semakin membabi buta sampai-sampai menimpa pemerintah Indonesia sekaligus parpol-parpol yang ikut andil dalam parlemen. Akhirnya, rakyat juga ikut tertular virusnya *tapi, maaf saja. Saya bukan termasuk di dalamnya :p*
Ngomong-ngomong soal galau, kenapa sih kok Indonesia bisa sampai galau? Saudara-saudara semua pasti tau kalo beberapa waktu yang lalu pemerintah *lagi* mengeluarkan kebijakan “MENAIKKAN HARGA BBM” untuk yang kesekian kalinya. Rencananya sih pas 1 April kemarin. Tapi, ternyata pas sidang paripurna DPR semua pada galau akhirnya ditunda deh rencana naikkin harga BBMnya. Sebelum itu, rakyat duluan yang kena virus galau. Demo dimana-mana. Semua nolak kenaikan harga BBM. Sampai-sampai mahasiswa di ibukota negara kita tercinta ini demo habis-habisan plus adegan action ala superhero di film box office alias berantem sama aparat. Ya, rencana pemerintah menaikkan harga BBM memang bikin reaksi banyak pihak beda-beda. Begitu juga dengan parpol alias partai politik. Ada yang pro dan ada yang kontra. Sampai puyeng kepala saya dengerin debat perwakilan fraksi parpol-parpol yang ternyata juga sama galaunya dengan pemerintah. Sampai keluarlah statement hipokrit yang justru bikin semua tambah kacau. Bertambahlah predikat Indonesia. Negara Galau. Kira-kira begitulah.
Nah, sekarang ayo kita cari tau, kenapa sih pemerintah sampai ngotot mau menaikkan harga BBM *lagi* meskipun sekarang kenaikkannya ditunda untuk beberapa waktu ke depan? *tapi kenaikannya jadi 20%*
Usut punya usut, ternyata ada empat alasan pemerintah ngotot pengen naikkin harga BBM untuk kesekian kalinya *dengan kenaikan yang lumayan fantastis*
Pertama, kata pemerintah, sekarang harga minyak dunia udah naik jadi 120 USD perbarel. Sedangkan asumsi dalam APBN Cuma 90 USD perbarel. Masih ada 30 USD yang kurang untuk subsidi BBM.
Kedua, dengan naiknya harga minyak dunia, semua itu akan membebani APBN. Bisa-bisa APBN jebol karena dibuat subsidi BBM soalnya seperti alasan yang pertama tadi. APBN cuma menganggarkan 90 USD buat subsidi BBM dan masih kurang 30 USD lagi. Mending uang subsidinya dipakai untuk yang lain seperti pendidikan, kesehatan, dsb.
Ketiga, kata pemerintah produksi minyak di Indonesia sudah semakin berkurang sedangkan konsumsinya bertambah. Jadi, kalau BBMnya disubsidi, rakyat akan boros.
Keempat, BBM yang disubsidi selama ini tidak tepat sasaran alias masih ada orang kaya yang beli BBM bersubsidi. Jadi, menurut pemerintah mending dicabut semua aja subsidinya biar adil.
Nah, itu dia empat alasan utama pemerintah kita yang lagi galau jadi mutusin buat naikkin harga BBM beberapa waktu ke depan. Tapi, kalo menurut saya kebijakan menaikkan harga BBM itu KEBIJAKAN BASI. Lho, kok basi?
Iyalah, udah basi. Alasan-alasannya itu lho yang basi. Treatment pasca naiknya BBM juga udah basi. Kalo dulu ada yang namanya BLT, nanti juga bakalan ada semacam BLT cuma namanya aja yang diganti jadi BLSM. Kalo rakyat bisa teriak, pasti semua bakalan ngomong, “KAMI BUTUH SOLUSI, BUKAN KEBIJAKAN BASI”. BLSM itu bukan solusi yang solutif untuk merespon dampak kenaikan harga BBM. Nanti, pasca kenaikan harga BBM otomatis semua biaya kehidupan akan naik dan itu berarti semakin bertambahlah beban kehidupan. Semakin menyebar pula virus galau di Indonesia Raya ini. Kalo cuma ngasih bantuan sementara mah, mending gak usah karena percuma aja. Bantuannya cuma buat 9 bulan pasca naiknya harga BBM. Setelah itu? Silahkan cari sendiri. Emang pemerintah mau mikirin?
Banyak alasan yang sudah dikeluarkan buat nolak kenaikan harga BBM dan emang seharusnya gak dinaikkan. Indonesia penghasil minyak bumi, ngapain harus beli mahal-mahal. 105 perusahaan asing aja bisa hidup makmur dengan mengeksplorasi seluruh sumber minyak sampai ngejual di SPBU-SPBU. Masa kita yang tinggal di sini sejak kita lahir bahkan nenek moyang kita juga lahir di sini harus bayar mahal-mahal buat beli BBM hanya dengan alasan macam-macam kayak di atas tadi?
Tapi, lagi-lagi tapi, masalahnya bukan cuma sekedar BBM naik atau gak. Bukan sekedar kebutuhan masyarakat terpenuhi atau gak. Tapi, masalahnya adalah dasar kebijakannya itu. Apalagi kalo bukan Undang-undang? Selama UU Migas no.20 tahun 2001 masih legal, selama itu pula Indonesia bakalan galau karena desakan perusahaan-perusahaan asing yang udah seperti lintah yang bakalan menghisap seluruh sumber daya alam Indonesia sampai habis. Gak cuma Undang-undang tapi semua perjanjian-perjanjian dan sejenisnya juga. Semua itu yang akan selalu menjerat pemerintah Indonesia untuk mengeluarkan kebijakan-kebijakan basi. Bukannya ngasih solusi malah ngeluarin kebijakan basi. Mau dibawa kemana negara kita? Masihkah kita akan terus diam dalam kegalauan dan pusing sendiri?
Satu hal yang harus dicamkan, kebijakan basi pemerintah tidak akan bisa memberi solusi apa-apa. Dengan sistem yang kacau balau dan penuh kelicikan seperti itu, sudah bukan saatnya berharap pemerintah akan berubah karena pemerintah dikendalikan oleh sistem. Sistem seperti apa? Sistem yang hanya mementingkan uang, uang, dan uang. Sistem yang menyingkirkan Sang Pencipta *yang seharusnya juga berhak mengatur* dari lini kehidupan dengan anggapan bahwa manusia bebas mengatur hidupnya. Sistem ini juga yang membuat pemerintah seolah-olah tersihir dan lupa dengan tujuannya saat kampanye dulu. Sistem ini juga yang membuat parpol-parpol yang seharusnya kritis menjadi rapuh seperti kerupuk karena tidak memiliki idealisme.
Trus, apa solusinya? Solusinya ya, ganti aja sistemnya. Sistem sekarang ini ibarat akar pohon yang udah sekarat. Gak ada gunanya disiram air sama dikasih pupuk. Udah gak bakalan bisa diharapkan lagi. Udah saatnya ganti dengan sistem yang bisa diharapkan. Sistem apakah itu? Tentu saja sistem yang bukan berasal dari manusia, tetapi dari yang Empunya manusia. Ya, sistem yang berasal dari Allah azza wa jalla. Apalagi kalo bukan sistem Islam? Hanya sistem Islam yang bisa ngasih solusi buat semua permasalahan kehidupan. Syariat Islam mengatur semua tentang kehidupan termasuk tentang bagaimana mengelola sumber daya alam seperti minyak bumi, dkk. Nah, masalahnya syariat Islam hanya bisa tegak dengan institusi pelindung yang namanya Khilafah. Maka dari itu, gak bisa menerapkan syariat Islam tanpa ada Khilafah. Kalo gitu, tunggu apa lagi? Ayo, berjuang untuk menerapkan syariah dalam bingkai Khilafah bukan hanya demi kebutuhan hidup seluruh rakyat Indonesia tetapi juga karena kita adalah Muslim dan itu adalah dorongan keimanan kita yang besar kepada Allah azza wa jalla dan wujud kecintaan kita kepada Rasulullah Muhammad saw. Insya Allah, gak bakal ada lagi deh kata GALAU dalam hidup kita. Because Khilafah is the only solution. 
Wallahu 'alam bi ash shawwaab.

Thursday, April 05, 2012

Ikhlas Gak Ikhlas

“Imam as-Syafii berkata, “Jika Anda takut ujub dalam aktivitas Anda, maka perhatikanlah ridha siapa yang Anda cari? Pahala siapa yang Anda inginkan? Siksa siapa yang Anda takuti? Kesehatan mana yang Anda syukuri? Bala’ mana yang Anda ingat? Jika Anda mengingat masing-masing, maka amal Anda terasa kecil di mata Anda.”
—al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, I/13

Mengharap Rahmat dan Ampunan Allah swt

Mengharap Rahmat dan Ampunan Allah SWT Seorang Muslim dalam kehidupannya boleh jadi melakukan banyak dosa. Sebagian mereka mungkin pernah terjatuh dalam perbuatan dosa besar seperti membunuh, berzina, memakan riba, mabuk, mencuri/merampas harta orang lain, dll.  Meski demikian, Allah SWT sesungguhnya Maha Pengampun bagi siapa saja yang ingin bertobat, tentu dengan tawbat[an] nashuha (tobat yang sungguh-sungguh), dengan memenuhi sejumlah syarat: memohon ampunan kepada Allah SWT dengan sungguh-sungguh (dengan banyak ber-istighfar); menyesal dengan penyesalan yang mendalam; bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan dosa yang pernah dilakukan; rela menerima hukuman (jika terkait dosa besar seperti mencuri, berzina, membunuh, dll); meminta maaf  dan mengembalikan hak (jika terkait dosa kepada-atau melanggar hak-orang lain).  Karena itu, sebetulnya tidak selayaknya seorang Muslim berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah SWT, karena Allah SWT sendiri berfirman (yang artinya): Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (TQS az-Zumar [39]: 53).  Allah SWT pun berfirman (yang artinya): Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu (TQS al-A’raf [7]: 157).  Selain banyak ayat yang serupa, juga terdapat sejumlah hadits yang sejatinya memberikan harapan kepada setiap Muslim karena begitu luasnya rahmat Allah SWT. Baginda Rasulullah SAW, misalnya, bersabda, “Siapa saja yang bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, maka Allah mengharamkan neraka atas dirinya.” (HR Muslim).  Bagaimana luasnya rahmat Allah SWT juga tersirat dalam sabda Baginda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits qudsi yang berbunyi, “Allah SWT berfirman: “Siapa saja yang datang membawa kebajikan, bagi dirinya pahala sepuluh kali lipat atau lebih banyak. Siapa saja yang datang membawa keburukan, maka balasan keburukan itu adalah keburukan yang serupa atau Aku ampuni.” (HR Muslim).  Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda, “Allah telah menjadikan rahmat-Nya menjadi seratus bagian. Allah menetapkan rahmat itu tetap di sisi-Nya sebanyak 99 bagian dan menurunkan rahmat itu ke bumi satu bagian saja. Dengan sebab satu bagian itu berbagai makhluk bisa saling menyayangi…”  Dalam riwayat lain dinyatakan, “Sesungguhnya Allah SWT memiliki seratus rahmat. Satu di antaranya diturunkan di tengah-tengah jin, manusia, binatang…” (HR Mutaffaq ‘alaih).  Dalam hadits lain juga dinyatakan, “Allah SWT memiliki seratus rahmat. Satu rahmat di antaranya menjadikan berbagai makhluk menyayangi satu sama lain, sementara 99 rahmat (diberikan) pada Hari Kiamat.” (HR Muslim).  Sebagaimana rahmat Allah SWT begitu luas, demikian pula ampunan-Nya. Dalam hal ini, Rasulullah SAW bersabda, “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya. Seandainya kalian tidak berbuat dosa, Allah pasti melenyapkan kalian, lalu mendatangkan kaum yang lain yang berbuat dosa, kemudian mereka meminta ampunan kepada Allah, lalu Allah pun mengampuni mereka.” (HR Muslim).  Rasulullah SAW makhluk yang berbuat dosa, lalu mereka memohon ampunan kepada-Nya, kemudian Allah mengampuni mereka.” (HR Muslim).  Menurut Ibn Malik, hadits ini tidak berarti mendorong manusia untuk berbuat dosa, tetapi untuk meluaskan dada sebagian sahabat Nabi SAW yang merasa sempit karena begitu besarnya rasa takut mereka akan dosa-dosa mereka hingga sebagian mereka ada yang lari ke puncak-puncak gunung untuk fokus hanya beribadah dan sebagian lain menjauhi (tidak mau menikahi) kaum wanita (Muhammad bin ‘Allan, Dalil al-Falihin, II/265). Intinya, hadits ini menyadarkan kita betapa luasnya ampunan Allah SWT sehingga mendorong kita untuk selalu berharap ampunan-Nya tanpa harus berputus-asa.  Begitu luasnya ampunan Allah SWT, juga tergambar dalam sabda Baginda Rasulullah SAW yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah senantiasa membentangkan tangan-Nya sepanjang malam untuk mengampuni para pendosa pada siang harinya; Allah pun membentangkan tangan-Nya sepanjang siang untuk mengampuni para pendosa pada waktu malamnya; (hal ini berlangsung) hingga matahari terbit dari tempat terbenamnya.” (HR Muslim).  Karena itu, tak ada alasan bagi siapapun untuk berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah SWT. Sebaliknya, hendaknya setiap diri kita senantiasa bersungguh-sungguh mengharap rahmat dan ampunan Allah SWT. Hanya saja, rahmat dan ampunan Allah SWT tentu hanya akan Allah SWT berikan kepada mereka yang senantiasa tunduk dan patuh kepada Allah SWT dengan berusaha menjalankan semua perintah-Nyaq dan menjauhi segala larangan-Nya.  Wa ma tawfiqi illa bilLah [] abi

9 Alasan Penolakan Kenaikan Harga BBM

1. Menekan daya beli masyarakat sehingga mereka akan semakin sengsara dan orang msikin akan semakin banyak. Kenaikan BBM dipastikan akan meningkatkan inflasi sekitar 7 % , Kenaikan harga bahan Pokok antara 5 - 10 %, kenaikan biaya transportasi dan distribusi produksi barang anatar 30- 35 %.  Bahkan sebelum pemerintah menetapkan kenaikan harga tersebut harga-harga saat ini khususnya kebutuhan pokok telah mengalami lonjakan. Selain itu, kegiatan bisnis khususnya pada UMKM juga akan terpukul akibat membengkaknya biaya produksi sehingga akan mendorong pemangkasan tenaga kerja yang berujung pada peningkatan jumlah penggangguran. Dengan demikian, jumlah penduduk miskin dipastikan akan semakin bertambah karena daya beli mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka akan terpangkas akibat inflasi yang dipicu oleh kenaikan BBM  tersebut. Jumlah orang Miskin di Indonesia berdasarkan data  yang diakui oleh Pemerintah per maret 2011 sebanyak 30, 2  juta jiwa , sementara kalau menggunakan data penerima raskin (Beras Miskin) diatas 70 juta jiwa sedangkan berdasarkan data World Bank masih diatas 100 juta. Adapun program kompensasi yang direncanakan pemerintah dalam bentuk Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) nilainya, cakupan dan masa pemberiannya sangat terbatas sehingga tidak dapat meredam dampak kenaikan harga BBM. Buktinya, pemberian Bantuan Langusung Tunai (BLT) yang pernah diberikan pemerintah disamping menimbulkan chaos di tengah-tengah masyarakat, juga tidak dapat mengurangi angka kemiskinan dan beban hidup masyarakat.  Berdasarkan kenaikan BBM tahun 2005 kebijakan kenaikan BBM  mengakibatkan kenaikan orang miskin sebesar 16 %. Maka Jumlah orang miskin akan semakin bertambah dengan peningkatan yang fantasis.
2. BBM selama ini sebagian besar dikonsumsi oleh masyarakat menengah ke bawah.Hal ini dapat ditunjukkan beberapa indikator antara lain: dari total jumlah kendaraan di Indonesia yang mencapai 53,4 juta (2010), sebanyak 82% merupakan kendaraan roda dua yang nota bene kebanyakan dimiliki oleh kelas menengah bawah. SEmentara berdasarkan data SUSENAS 2010 pengguna BBM bersubsidi terdiri dari 2 % orang kaya, 6 % kelompok Menengah Keatas, 27 % kelompok Menengah dan 65 % Menengah ke bawah dan Miskin. Sedangkan menurut BPH MIGAS tahun 2011 konsumsi premium terdiri dari Sepeda Motor 40 %, Kendaraan Plat HItam 53 % dan Angkutan Umum  7 %.
3. Kebijakan kenaikan BBM sangat tidak adil. Hal ini anggaran subsidi BBM tanpa skenario kenaikan harga, pada 1 April 2012 akan mencapai Rp178,62 triliun itu dinikmati oleh 230 juta orang. Sementara Pemerintah dengan mudahnya menggelotorkan dana untuk membail-out sektor keuangan dan perbankan yang hanya dinikmati oleh segelintir orang. Pemerintah misalnya setiap tahunnya harus membayar bunga obligasi rekap BLBI sebesar 13,2-14,3 persen yang menyedot anggaran sekitar  Rp 60 triliun pada tahun 2008[1]. Padahal obligasi yang baru jatuh tempo pada 2033 tersebut  hanya dinikmati oleh sejumlah perbankan pemerintah dan swasta yang sebagian sahamnya kini dikuasai asing.
4. Penyebab membengkaknya subsidi akibat kegagalan pemerintah dalam mengelola energi nasional. Anehnya kegagalan tersebut kemudian ditimpakan kepada rakyat dengan menaikkan harga BBM. Bentuk-bentuk kegagagalan pemerintah tersebut antara lain:
a)      Sejak 2006 sampai 2009 Indonesia kehilangan devisa negara hingga Rp 410,4 triliun akibat mengekspor gas bumi dengan harga yang terlampau murah, sementara hasil penjualan gas bumi itu untuk mengimpor minyak.
b)      Dalam laporan investigasinya, BPK menyebutkan adanya potensi kerugian negara akibat konsumsi BBM energi primer PLN yang disubsidi oleh negara. Potensi kerugian tersebut mencapai Rp 17,9 triliun pada tahun 2009, dan RP 19,7 triliun pada 2010.Kerugian ini muncul akibat PLN tidak bisa menggunakan Gas karena gasnya di Impor.
c)      meningkatnya anggaran subsidi terjadi akibat kelalaian pemerintah menyediakan transportasi publik yang aman dan nyaman sehingga penggunaan kendaran pribadi seperti motor dan mobil pribadi makin membludak.
d)     Pemerintah tidak serius mengelola energi alternatif selain BBM yang lebih murah. Gas misalnya meski murah dan produksinya di Indonesia melimpah, malah lebih banyak diekspor. Berdasarkan data Kementerian ESDM, dari total produksi 9,34  MMSCFD pada 2010,  52 % produksi gas Indonesia diekspor ke luar negeri yang terdiri dari gas alam (10%) dan LNG 42%. Sisanya dibagi-bagi untuk industri (14%), PLN (8%), dan lain-lain. Besarnya alokasi ekspor tersebut membuat permintaan domestik seperti industri dan listrik banyak yang tidak terpenuhi. Sejumlah PLTG milik PLN misalnya hingga kini terpaksa mengkonsumsi bahan bakar diesel yang harganya tiga kali lipat dari gas. Akibatnya subbsidi untuk PLN membengkak.
e)      masih banyak pos-pos belanja lain yang justru sangat membebani APBN seperti belanja pembayaran pokok utang dan bunganya, infesiensi penggunaan anggaran oleh pemerintah dan kebocoran anggaran akibat korupsi dan penyalahgunaan anggaran. Pada APBN-P 2011 misalnya, alokasi pembayaran pokok utang dan bunganya masing-masing sebesar Rp 143,5 triliun dan Rp 106.5 triliun atau Rp 250 triliun. Selain itu, menurut pejabat KPK, kebocoran ABPN dapat mencapai 30% dari total anggaran.
5. Kenaikan harga BBM bersubsidi hanya akan menguntungkan Perusahaan Minyak Asing yang bergerak di sektor hilir  dan merugikan Pertamina sebagai BUMN miliki negara. Dengan kenaikan harga BBM bersubsidi maka disparitas harga BBM bersubsidi dengan non subsidi akan semakin kecil, kondisi ini akan menggiring pengalihan pengguna premium ke Pertamax, sementara 90 % kebutuhan Pertamax masih harus di Impor. Sementara harga jual bensin Petronas dan Shell lebih murah dibandingkan dengan Pertamax Pertamina .  Dengan biaya produksi yang lebih efisien dan kualitas yang mungkin lebih baik maka produk-produk SPBU asing tersebut akan lebih kompetitif dibandingkan SPBU Pertamina. Jika tidak ada inovasi maka kegiatan bisnis Pertamina di sektor hilir menjadi tidak kompetitif sehingga SPBU-SPBU yang terafiliasi dengan Pertamina (Dealer Owned Dealer Operated/DODO) akan berpindah ke perusahaan-perusahaan minyak asing tersebut yang dinilai lebih menguntungkan. Hal ini tentu akan merugikan Pertamina. Sudahlah disektor hulu terdilusi, di sektor hilir pun kalah bersaing. Konsenkuensi berikutnya, pendapatan negara dari Pertamina akan semakin minim.
6. Mayoritas pengelolaan migas saat ini dikuasai oleh swasta khususnya pihak asing sehingga pendapatan negara dari migas sangat minim. Dari total produksi minyak mentah di Indonesia  pada 2010 hanya 16 persen yang diproduksi oleh Pertamina. Sisanya dibagi-bagi oleh investor asing dan swasta domestik seperti Chevron (42%) dan Total (10%). Konsekuensinya, dari total produksi minyak mentah yang mencapai 300 juta barel, sebanyak 121 juta atau 40 persen diekpor ke mancanegara. Padahal di saat yang sama Indonesia harus mengimpor 101 juta minyak mentah dari berbagai negara untuk memproduksi BBM dalam negeri. Belum lagi, pemerintah melalui BP Migas justru lebih memprioritaskan untuk memperpanjang kontrak-kontrak pengelolaan ladang minyak kepada pihak swasta ketimbang menyerahkannnya kepada Pertamina. Di sisi lain dengan UU Migas 22/2001, Pertamina yang sebelumnya juga bertindak sebagai  regulator disejajarkan dengan perusahaan swasta sehingga harus bersaing untuk mendapatkan konsesi pengelolaan ladang minyak dari BP Migas. Kebijakan ini berkebalikan dengan Malaysia, China dan sejumlah negara Amerika Latin dimana pemerintah memberikan peran dominan kepada BUMN mereka untuk mengelola migas mereka. Akibatnya pendapatan dari sektor tersebut lebih banyak dinikmati swasta/asing ketimbang negara. Bukan itu saja, melalui UU tersebut pendapatan pemerintah justru semakin berkurang. Jika pada peraturan kontrak Kontrak Bagi Hasil (Production Sharing Contract/ PSC) lama (1971) bagi hasil pemerintah kontraktor setelah cost recovery dan pajak sebesar 85:15, namun dengan peraturan PSC yang berlaku pasca UU No. 22/2001 nisabah tersebut dapat mencapai 63:37 (lihat: Oil & Gas Indonesia: Investment and Taxation Guide, PWC [2010])
7. Kegiatan usaha Pertamina belum berjalan secara efisien khususnya dalam memproduksi BBM sehingga biaya produksi menjadi lebih mahal. Menurut sejumlah sumber termasuk temuan BPK tahun 2008[2] disebutkan sumber inefisiensi Pertamina antara lain: (a) pengadaan minyak mentah dan BBM yang tidak efisien. Hal ini karena Pertamina mengimpor minyak mentah dan BBM melalui jasa rekanan para (trader)sehingga biaya pengadaan minyak impor semakin mahal bahkan sejumlah pengadaan melalui penunjukan langsung yang biayanya lebih mahal; (b) Pertamina lebih banyak menggunakan kapal sewa daripada kapal milik sendiri sehingga biaya angkut lebih mahal. Ini terjadi karena Pertamina dari 137 Kapal yang dioperasikan Pertamina, 102 diantaranya disewa dari perusahaan lain[3]; (c) dalam jumlah tertentu, Pertamina lebih memilih untuk mengimpor dibandingkan membeli atau menggunakan hasil produksi dalam negeri yang tidak membutuhkan biaya pengapalan; (d) Pertamina mengimpor BBM karena keterbatasan kapasitas kilang Pertamina. Kapasitasnya hanya sebesar satu juta barel perhari yang hanya sanggup memenuhi 63% kebutuhan dalam negeri. Kapasitas kilang tersebut dalam lima tahun terakhir justru mengalami penurunan dari 282 juta barel pada tahun 2004 menjadi hanya 245 juta barel pada 2008.[4] Padahal dengan memproduksi sendiri biayanya akan lebih murah. Dengan demikian semestinya harga minyak yang dijual Pertamina kepada konsumen akan lebih rendah jika inefisiensi tersebut dapat ditekan. Sayangnya pembenahan tersebut hingga kini belum terlihat. Salah satu indikatornya cost recovery Pertamina yang jauh lebih tinggi dibandingkan rata-ratacost recovery total perusahaan minyak di Indonesia.
8. Alasan pemerintah bahwa anggaran BBM bersubsidi terus membengkak sehingga membebani APBN juga cenderung menyesatkan.
Tidak benar, karena yang membebani APBN setiap tahun itu adalah
1.       Utang Luar Negeri baik Bunga Maupun Pokoknya. (Lihat Perbandingan Utang dengan Subsidi pada APBN dari 2005-2010
Tahun
SUBSIDI
UTANG
EnergiNon EnergiTotalBUNGAPokokTotal2005
104,45
16,31
120,67
61,58
65,2
126,78
2006
94,61
12,82
107,43
77,74
79,08
156,62
2007
116,86
33,35
150,21
100,7
79,81
180,51
2008
223,01
52,28
275,29
103,77
88,43
192,2
2009
94,58
43,50
138,08
117,1
93,78
210,38
2010
143,49
57,27
201,36
124,68
105,65
230,33
2011
195,29
41,9
237,18
123,07
Subsidi dinikmati oleh seluruh rakyat (230  juta lebih) sementara sebagian Utang (BLBI dan bunganya)  hanya dinikmati oleh sekelompok orang .
2. Numerisasi pegawai terus berjalan. Gaji PNS naik terus mengimbangi inflasi. Fasilitas untuk para pejabat dan anggota DPR terus bertambah. Banyak mobil dinas dan kantor-kantor baru. Belanja untuk gaji pegawai dan operasional aparat pemerintah mencapai 51,4% dari anggaran. (Bandingkan dengan subsidi BBM yang hanya 8,7%)
9. Pembatasan Subsidi BBM dan menaikkan harga BBM merupakan bagian dari upaya untuk meliberalisaikan sektor migas secara kaffah baik sektor hulu maupun hilir. .Dalam pradigma neoliberalisme, subsidi BBM harus segera dihapuskan karena akan menjadi beban bagi keuangan negara. Untuk melaksanakan agenda ini maka berbagai langkah, dilakukan pemerintah antara lain menyiapkan sejumlah regulasi untuk mewujudkan hal itu seperti Undang-undang No. 22 Tahun 2001 Tentang Migas, Undang-undang No. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal, dll. Juga peraturan-peraturan lain di bawah undang-undang seperti Peraturan Presiden No. 55 Tentang Harga Jual BBM Dalam Negeri. Dalam Komunike pertemuan G20 di Gyeongju, Korea Selatan,disebutkan bahwa negara-negara G20 akan terus mendorong negara-negara anggotanya untuk mengurangi subsidi BBM. Pemberian subsidi terhadap BBM dinilai tidak efisien.[5] Ban Dunia dan IMF juga telah mensyaratkan hal ini dalam berbagai kebijakannya.  DalamMemorandum of Economic and Financial Policies (LoI IMF, July 2001) dinyatakan:“Pemerintah [Indonesia] berkomitmen penuh untuk mereformasi sektor energi yang dicantumkan pada MEFP 2000. Secara khusus pada bulan September, UU Listrik dan Migas yang baru akan diajukan ke DPR. Menteri Pertambangan & Energi telah menyiapkan rencana jangka menengah untuk menghapus  secara bertahap subsidi BBM dan mengubah tarifl listrik sesuai dengan tarif komersil.” Bank Dunia dalam Indonesia Country Assistance Strategy (World Bank, 2001): “Utang-utang untuk reformasi kebijakan memang merekomendasikan sejumlah langkah seperti privatisasi danpengurangan subsidi yang diharapkan dapat meningkatkan efisiensi belanja publik…
Kenaikan harga BBM merupakan bagian dari agenda liberalisasi migas yang bertentangan dengan syariat Islam. Dengan kebijakan tersebut pihak swasta/asing akan lebih dominan dalam pengelolaan sumber daya alam khususnya migas.  Minyak bumi dan gas serta kekayaan alam yang melimpah lainnya dalam pandangan Islam merupakan barang milik umum (al milkiyyah al-ammah) yang pengelolaannya harus diserahkan kepada negara dan seluruh hasilnya dikembalikan kepada publik. Dengan demikian ia tidak boleh diserahkan/dikuasakan kepada swasta apalagi asing;
عَنْ أَبْيَضَ بْنِ حَمَّالٍ : أَنَّهُ وَفْدَ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَاسْتَقْطَعَهُ الْمِلْحَ قَالَ ابْنُ الْمُتَوَكِّلِ الَّذِى بِمَأْرِبَ فَقَطَعَهُ لَه فَلَمَّا أَنْ وَلَّى قَالَ رَجُلٌ مِنَ الْمَجْلِسِ : أَتَدْرِى مَا قَطَعْتَ لَهُ إِنَّمَا قَطَعْتَ لَهُ الْمَاءَ الْعِدَّ قَالَ فَانْتَزِعَ مِنْهُ
Dari  Abyadh bin Hammal: beliau menghadap kepada Nabi saw dan memohon diberikan bagian dari tambang garam yang menurut Ibnu Mutawakkil, berada di daerah Ma’rib lalu beliau memberikannya. Namun tatkala orang tersebut berpaling, seseorang yang berada di majelis beliau berkata : “Tahukah Anda bahwa yang Anda berikan adalah [seperti] air yang mengalir? Maka beliau pun membatalkannya.” (HR. Baihaqy & Tirmidzy)
Bobroknya pengelolaan migas di negeri ini berpangkal dari sistem ekonomi kapitalisme yang menjadi pijakan pemerintah. Dalam sistem tersebut kebebabasan memiliki dan kebebasan berusaha dijamin oleh negara melalui undang-undang. Peran negara diminimalkan dalam kegiatan ekonomi dan hanya diposisikan sebagi regulator. Dengan demikian peluang swasta khususnya asing akan semakin besar dalam menguasai perekonomian negeri ini. Padahal Allah swt berfirman:
وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا
“Dan Allah tidak memberikan jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang beriman.” (QS: An-Nisa: 141)
Oleh karena itu, tidak ada cara lain untuk membebasakan rakyat dari sistem Kapitalisme yang terbukti menyengsarakan ini kecuali menerapkan sistem khilafah Islamiyyah, sebuah sistem yang bersumber dari Aqidah Islam dan mengatur seluruh urusan masyarakat dengan syariat Islam termasuk dalam pengelolaan sumber daya alam.

[1] http://www.tribunnews.com/2012/02/13/bank-besar-nikmati-subsidi-rakyat
[2] BPK, Pengadaan  Minyak  Mentah  dan Produk Kilang Tahun 2007 dan 2008 (Semester I) pada Pertamina
[3] Pertamina, Annual Report 2007
[4] Pertamina, Annual Report 2008, hal 42
[5] www.detik.com, Senin, 25/10/2010

‘Drama’ Paripurna DPR Soal BBM Cuma Jadi Ajang Partai Raih Simpati


Paripurna DPR soal BBM dituding cuma jadi pencitraan politik partai-partai di mata publik. Paripurna yang ditonton jutaan rakyat Indonesia itu dinilai penuh drama. Bila berniat menolak kenaikan BBM harusnya dari awal penyusunan APBN.
“Jika mereka politisi serius untuk menolak kebijakan kenaikan APBN, harusnya dari awal penyusunan APBN. Sejak awal penyusunan parpol harus tegas menolak kenaikan BBM,” kata aktivis Indonesia Corruption Watch (ICW) bidang korupsi politik, Abdullah Dahlan saat berbincang, Sabtu (31/3/2012).
Proses politik yang terjadi di DPR, lanjut Abdullah, dinilai hanya upaya dari partai politik untuk mencobamengkapitalisasi isu publik untuk mendongkrak posisi parpol.
“Jika melihat proses yang terjadi di parlemen, tergambar bahwa para politisi menjadikan kebijakan BBM sebagai komoditas politik untuk pencitraan,” jelasnya.
Keputusan politik yang disepakati DPR soal BBM, sepenuhnya belum menggambarkan keberpihakan pada rakyat. “Patut diapresiasi jaringan masyarakat yang konsisten menolak kenaikan BBM,” tuturnya.
Rapat paripurna pembahasan usulan pemerintah menaikan harga BBM yang berlangsung maraton sejak Jumat (30/3/2012) siang akhirnya dilakukan dengan voting. Hasil voting tersebut 356 anggota DPR menyetujui opsi kedua, yaitu menerima penambahan pasal 7 ayat 6a yang isinya adalah memperbolehkan pemerintah mengubah harga BBM jika harga minyak mentah (Indonesia Crude Price/ICP) mengalami kenaikan atau penurunan rata-rata 15% dalam waktu 6 bulan.
Opsi ini dipilih partai-partai koalisi, yaitu Partai Demokrat, Partai Golkar, PPP, PAN, dan PKB.
Sementara 82 anggota DPR menyetujui opsi pertama, yaitu tidak ada perubahan apa pun dalam pasal 7 ayat 6 UU APBN 2012 yang isinya tidak memperbolehkan pemerintah menaikkan harga BBM pada tahun ini.
Opsi ini dipilih PDIP, Hanura,dan Gerindra. PDIP dan Hanura melakukan aksi walk out ketika voting sedang berlangsung. Mengejutkan, PKS yang merupakan mitra koalisi dengan tegas menyatakan memilih opsi ini. (detiknews.com, 31/3/2012)

Behind The April Mop



Setiap tanggal 1 April, di beberapa negara biasanya merayakan April Mop. Beberapa orang meyakini hari itu semua penipuan dan bohong seolah-olah dilegalkan. Tapi tahukah Anda, dari mana asal usul April Mop ini?
Dari laman Wikipedia, April Mop atau dikenal dengan April Fools’ Day yang dirayakan 1 April, sebagai hari dimana orang-orang boleh berbohong atau memberi lelucon kepada orang lain tanpa dianggap bersalah. Hari ini ditandai dengan tipu-menipu dan lelucon lainnya terhadap keluarga, musuh, teman bahkan tetangga dengan tujuan mempermalukan orang-orang yang mudah ditipu.
Di beberapa negara seperti Inggris dan Australia serta Afrika Selatan, lelucon hanya boleh dilakukan sampai siang atau sebelum siang hari. Seseorang yang memainkan trik setelah tengah hari disebut sebagai “April Mop”. Namun di tempat lain seperti Kanada, Prancis, Irlandia, Italia, Rusia, Belanda, dan Amerika Serikat lelucon bebas dimainkan sepanjang hari. Hari itu juga banyak diperingati di Internet.
Nah para sejarawan mengklaim bahwa April Mop sebenarnya adalah sebuah perayaan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara Spanyol yang dilakukan lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekadar hiburan atau keisengan belaka.
Sejak dibebaskan Islam pada abad ke-8 M oleh Panglima Thariq bin Ziyad, Spanyol menjadi negeri yang makmur. Islam saat itu berkembang hingga Prancis Selatan. Beberapa kota seperti Carcassone, Nimes, Bordeaux, Lyon, Poitou, Tours, penduduknya dengan sukarela memeluk agama Islam.
Hal ini jelas merisaukan beberapa negara tetangga di Spanyol. Akhirnya mereka menemukan cara untuk menaklukkan Islam, yakni dengan melemahkan iman mereka melalui jalan serangan pemikiran dan budaya. Mereka mengirimkan alkohol ke wilayah Spanyol. Musik diperdengarkan untuk membujuk kaum mudanya agar lebih suka bernyanyi dan menari daripada membaca Alquran. Mereka juga mengirimkan sejumlah ulama palsu untuk meniup-niupkan perpecahan ke dalam tubuh umat Islam Spanyol. Lama-kelamaan upaya ini membuahkan hasil.
Akhirnya Spanyolpun  jatuh dan bisa dikuasai oleh pasukan yang dikirim oleh Kerajaan Spanyol yang tersingkir.  Penyerangan yang dilakukan dengan kejam tanpa mengenal peri kemanusiaan. Tidak hanya pasukan Islam yang dibantai, tetapi juga penduduk sipil, wanita, anak-anak kecil, orang-orang tua. Satu-persatu daerah di Spanyol jatuh. Tragedi ini bertepatan dengan tanggal 1 April. Inilah yang kemudian diperingati setiap tanggal 1 April sebagai April Mop (The April’s Fool Day).
Namun beberapa sejarawan juga menulis bahwa asal usul April Mop ini terjadi pada tahun 1582. Saat itu  Paus Gregorius XIII memerintahkan penggantian kalender Julian. Tradisi populer menceritakan bahwa beberapa orang Eropa tidak mengetahui perubahan tersebut dan terus merayakan Tahun Baru pada tanggal 1 April dari kalender Julian sebelumnya. (republika.co.id, 1/4/2012)

Tuesday, March 27, 2012

Untitled I

Beberapa waktu yang lalu, saat sedang menunggu mata kuliah yang ternyata dosennya gak ada, saya berniat menulis sebuah puisi. Karena lama gak nulis puisi lagi, akhirnya kata-katanya jadi seperti ini :D Plus tanpa judul


Jangan menangis
Usaplah air matamu
Bukankah seorang pejuang
Terlahir untuk menjadi kuat?

Jangan menyerah
Waktunya pasti kan tiba
Saat Dia mengulurkan tangan
Semua pasti kan berubah

Surga yang kita dambakan
Surga yang kita kejar
Tak semudah membalikkan tangan
Tak semudah menutup mata

Jangan bersedih
Percayalah pasti ada jalan
Bangkitlah dan yakinkah diri
Kau tak sendiri

Karena surga yang kita dambakan
Surga yang kita kejar
Tak semudah membalikkan tangan
Tak semudah menutup mata

Kita harus berkorban
Kita harus bersabar
Karena surga yang kita kejar
Adalah tempat terindah yang pernah ada

March 7th 2012. 04.30 PM
Edited and Finished on March 10th 2012. 11.17 AM