Saturday, August 30, 2014

Pengalaman adalah Guru Terbaik

Seperti judulnya, ungkapan itu pasti udah terkenal banget buat yang dulu pas sekolah pernah belajar Bahasa Indonesia. Pengalaman mengajarkan seseorang tentang banyak hal yang belum tentu bisa ia dapatkan dimana saja ia inginkan. Seperti halnya yang saya alami.
Bulan November tahun lalu saya resmi dipindahkan di sektor dan tim lain meski masih dalam satu majal dakwah. Saya tidak menyangka akan dipindahkan di tim propaganda. Namun, setelah merasakan pengalaman dakwah dengan sasaran yang berbeda di tim tersebut, saya akhirnya terbiasa dengan suasananya. Setelah ini, saya pasti akan merindukan suasana rapat penuh imajinasi dan berbagai uslub dari adik-adik super. Saya juga akan merindukan keliling UKM se-universitas. Dari BEM fakultas sampai himpunan mahasiswa. Tidak hanya di dalam kampus, tapi juga di luar kampus. But, nothing last forever. Saya tidak selamanya di tim itu. Dan sekarang saya kembali di majal yang seharusnya saya berada. Tapi, saya tidak berharap kondisinya sama seperti saat saya meninggalkan tim saya yang lama. Saya tentu berharap semua akan lebih setelah saya kembali. Dan dengan pengalaman saya sebelumnya, saya berharap bisa mengubah tim lama saya ini menjadi lebih baik.
Saya akan merindukan kalian. Mbak Dina yang sekarang dapat amanah baru. Terima kasih untuk pengalamannya yang tidak terlupakan. Terima kasih untuk segala ilmunya. Jazakillahu khairan katsir, Mbak Din ^^ Tidak lupa untuk Kholish, meskipun tidak lama tapi banyak sekali memberi inspirasi terutama saat saya menuliskan sesuatu. Semua pasti setelah ngontak berdua sama Kholish :D Untuk uri Partner yang selalu bisa mengimbangi dengan bahasa yang ringan seperti kapas. Jazakillah untuk setiap keceriaan. You’re really a moodbooster ^^ Untuk Yeni, partnerku setiap hari Senin, jazakillah untuk aksimu yang gak pernah berhenti dan gak bisa diam, untuk cerita-cerita dan semua senyum yang pernah kita bagi (haha apaan sih?) plus duo Ocha-Titin yang selalu muncul dengan ide super imajinatif yang bikin saya gak pernah berhenti ketawa. I’ll gonna miss y’all.
Yang namanya obat akan lebih banyak yang pahit. Meski terkadang bisa manis. Tapi, bagaimana pun rasanya, biar cepat sembuh terkadang obat yang pahit itu dibutuhkan. Ungkapan lainnya, no pain no gain. Yah, mungkin untuk saat ini obat semacam itulah yang saya butuhkan untuk membuat saya lebih baik daripada sebelumnya. Belajar mencintai apa yang memang sudah diberikan olehNya, bukankah itu lebih baik daripada menyempitkan hati dengan selalu mencari jalan untuk melarikan diri? Ganbare!

Shelter, August 30th 2014. 08:50 PM.


Backsound : FT Island-Try Again

Friday, August 29, 2014

A Note For Grandma...



“Bijaksana bukan tentang usia, tapi tentang bagaimana mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup” (Siti Khadijah Nur Maryam)


Saya gak tau apa saya lagi mimpi atau masih mabok gara-gara jadi jadi alien setelah 8 jam di kamar. Yang jelas, saya ingin menulis ini. Saya ingin menulis tentang seseorang yang belum pernah saya temui. Tentang seseorang yang hanya saya dengan lewat cerita ibu saya. Tentang seseorang yang merindukan saya meskipun tidak pernah bertemu dengan saya. Dan saya tidak sadar sejak kapan saya mulai menyayanginya. 

Saya adalah orang yang cepat percaya terhadap sesuatu. Jika menurut saya itu logis dan saya anggap benar sehingga saya terkesan polos, lugu dan manutan *meskipun dari luar gak keliatan sama sekali :D* Makanya saat saya diberitahu kewajiban menurut aurat, saya hanya jawab iya dan saya laksanakan besoknya. Ketika diberitahu kewajiban mengkaji Islam dan berdakwah, saya jawab iya insya Allah saya siap dan saya berusaha melakukannya meskipun tantangannya tidak sedikit. Begitu pun ketika Allah memberikan janji yang mungkin sulit dimengerti di saat-saat sulit dan saya pun merasakannya.

Allah berfirman :
“Maka sesungguhnya setelah kesulitan, ada kemudahan. Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan” (Al Insyirah : 5-6) 

Saya seringkali dihadapkan pada kesulitan yang terkadang membuat saya kalap karena kurang sabar. Begitupun ketika saya harus menghadapi kenyataan pahit dalam keluarga saya di tahun kedua saya di universitas. Saya tidak hendak menyalahkan siapapun karena bukan saya satu-satunya yang mengalami ini. Orang terdekat saya pun ada yang mengalaminya dan mereka bisa tetap tersenyum. Namun, saya tidak pernah membayangkannya. Saya tidak pernah membayangkan kedua orang tua saya tidak lagi tinggal bersama. Saya tidak pernah membayangkan akan ada lelaki lain dalam hidup ibu saya selain Bapak dan Adik saya. Saya tidak pernah membayangkan semua itu. Karena saya sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. 

Cerai. Satu kata yang saya lontarkan kepada ibu saya setiap kali ibu saya curhat tentang keadaan rumah kepada saya melalui telepon. Saya tidak memikirkan apapun. Seperti buah simalakama. Jika dipertahankan semuanya akan lebih buruk. Dan betapa kacaunya kondisi psikologis kami waktu itu. Saya, Kakak dan Adik saya. Saya tidak membayangkan akan bisa melewatinya. 

Reaksi bermunculan dari semua pihak. Saya sudah mengira dan saya sudah bersiap-siap menghadapinya. Tapi, ternyata saya tidak sekuat harapan saya. Dan hanya Allah yang berhasil menguatkan harapan itu. 

Tahun 2013 orang tua saya resmi bercerai. Dan tidak lama setelah itu, ibu saya menikah lagi. Di sinilah episode selanjutnya. Yah, mau diapain juga, saya harus tetap ngadepin kan? Awalnya rada bingung juga sih, berasa jadi rebutan ortu. Udah gede gini tapi karena paling jarang pulang jadinya kalo di rumah udah kayak seleb, diserbu orang-orang dengan pertanyaan dari A-Z. Ini pulang kampung atau jumpa fans ya? :D

Tahun 2014 adalah kedua kalinya saya tidak pulang kampung saat Idul Fitri. Tahun ini juga adalah tahun pertama saya resmi memiliki keluarga tambahan. Keluarga Bapak, keluarga ibu dan keluarga suami ibu. Entah kenapa mereka begitu sayang pada kami. Saya cuma bisa melongo tiap kali ibunya suami ibu saya bilang kalo kami bertiga adalah cucunya meskipun kami bukan anak kandung anaknya. Sering beliau menasihati suami ibu saya untuk menyayangi kami seperti anaknya, menjaga keluarga dan menjadi kepala keluarga yang baik. Haha, dramatis. Tapi, mungkin itulah hal yang bisa diambil dari orang tua. Saya jadi ingat Kakek dari ibu. Banyak sekali hal yang bisa saya pelajari dari beliau meskipun sekarang saya udah nyaris lupa karena waktu itu saya masih kecil :D

Nenek. Beliau memang bukan nenek saya. Tapi, saya selalu merasa beliau tulus pada kami. Dan saya percaya beliau orang baik. Nenek adalah sosok yang penuh kasih sayang. Kenapa? Karena beliau yang membesarkan semua anak suaminya meskipun dengan istri yang berbeda. Ya, Nenek itu menikah tiga kali. Dengan suami pertama gak punya anak, dengan suami kedua juga tapi suaminya sudah pernah punya anak. Akhirnya Nenek yang mengasuh. Barulah pernikahan ketiga punya anak. Jadi bisa dibilang keluarga ketiga saya ini rame. 

Meskipun sekarang suasana keluarga saya belum bisa dibilang stabil, saya selalu berharap semoga suatu hari keadaannya akan membaik. Lebih baik dari sebelumnya. Life must go on. Karena waktu tidak pernah menunggu. Kita tidak bisa selamanya berada di titik yang sama. Ibu saya berhak bahagia. Dan jika memang dengan suami yang sekarang membuat Mama bahagia, saya hanya bisa mendukung dan mendoakan semoga tidak terulang lagi seperti yang sebelumnya. Semoga orang-orang bisa segera menerima kenyataan. 

Nenek, terima kasih untuk kasih sayangnya. Suatu saat saya ingin tau darimana kasih sayang itu Nenek peroleh. Kok banyak banget dan gak habis-habis sampe gak sempat lagi untuk membenci? Dan saya yakin, Nenek pasti pernah terluka. Semoga, saya segera bisa mendapatkan kasih sayang itu untuk saya bagi kepada orang lain. 

Miss you, grandma. Wish could meet you ^^
 
Shelter, August 19th 2014. 10:09 AM. Let’s deal with those all, Dit.

Episode; Aku dan Perang Mu'tah

Gak terasa udah tanggal udah hari Selasa aja. Udah dua hari sejak HUT Kemerdekaan RI. Haha, kenapa malah tiba-tiba bahas 17-an ya? Yah, mungkin karena emang masih hot *dari oven?*
Baiklah, daripada berlama-lama, saya mau refreshing. Kemarin berasa jadi alien. Hikikomori 8 jam di kamar. Sadar-sadar udah maghrib aja. Duduk nyari Kanji plus artinya sukses bikin kepala nge-dance *apaan sih?* Taihen da naa… But the day has over. Now, I have time to write, yeheet :D

Oke, kali ini saya mau cerita tentang apa yang saya kaji di halqah saya kemarin ba’da subuh. Ya, Daulah Islam. Kitab yang isinya tentang perjalanan Rasulullah mulai dari menjadi Rasul, membentuk kutlah, berdakwah, menegakkan Daulah Islam sampe keruntuhan Daulah Islam yang sekarang saya dan generasi Muslim hari ini merasakannya. Kacau-balau, porak-poranda, hancur-lebur. Tapi, gak tau apa Cuma saya dan segelintir orang yang ngerasain atau mungkin yang lain ada yang ngerasa tapi cuek aja, wallahu ‘alam

Pembahasan kemarin tentang Perang Mu’tah. Salah satu perang yang luar biasa diantara sekian banyak perang yang dilakukan kaum Muslimin selama penyebaran Islam. FYI, Islam disebarkan dengan dakwah dan jihad. Bentuk jihad yang dimaksud di sini adalah perang. Tapi, itu gak sembarang perang. So, jangan samain kayak Israel nge-bom Palestine. That’s a huge different, dude. Sip, now let’s back to the topic. Tadi cuma trivia aja. Kalo mau bahas lebih lanjut, bisa ketemu saya :D

Perang Mu’tah adalah perang pertama kaum Muslimin melawan penguasa luar negeri di luar Jazirah Arab. Sebelumnya, perang yang dilakukan kaum Muslimin melawan kabilah-kabilah di Jazirah Arab. Seperti namanya, perang ini terjadi di Mu’tah, wilayah Syam (sekarang Suriah). Waktu itu Syam di bawah kekuasaan Romawi. Perang ini terjadi di bulan Jumadil Awal tahun 8 Hijriyah. Satu lagi, ini adalah perang pertama yang tidak dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW.

Menurut saya pribadi, perang Mu’tah itu semacam Rectoverso-nya perang Uhud. Tapi, semoga ada istilah yang lebih bagus lagi. Dan perang ini sukses bikin saya nangis pas tau kisahnya. Meskipun di perang Uhud saya juga sedih tapi lebih banyak keselnya karena efek perang Uhud cukup bikin Rasulullah kewalahan untuk mengembalikan wibawa Daulah Islam dan kaum Muslimin. Saya juga akhirnya ingat kalo Mush’ab bin Umair meninggal di perang Uhud. Dan saya ngerasa katrok banget karena baru tau tentang perang ini soalnya dulu Cuma dapet cerita tentang perang Badar sama perang Uhud doang.

Sabda Rasulullah SAW yang paling bikin merinding di perang ini adalah setelah beliau menunjuk Zain bin Haritsah yang sudah seperti anak beliau sebagai panglima perang.
“Jika Zaid gugur, maka Ja’far bin Abi Thalib yang akan memimpin pasukan. Jika Ja’far gugur, maka Abdullah bin Rawahah yang akan memimpin pasukan”.

Ya Allah, itu udah kayak tanda aja kalo 3 panglima dari 3000 pahlawan terbaik kaum Muslimin itu bakalan gugur sebagai syuhada. Air mata saya langsung jatuh gitu aja meskipun udah susah payah saya tahan. Dan yang bikin saya tambah terkejut adalah turut sertanya Khalid bin Walid di perang ini. Bukan lagi sebagai musuh tetapi sebagai salah satu dari 3000 pahlawan terbaik kaum Muslimin. Keren kan? :D

Perang ini emang gak mudah karena kaum Muslimin harus melawan 200.000 total pasukan Romawi plus Heraklius. Kaum Muslimin awalnya mau ngirim surat ke Rasulullah tapi kemudian Abdullah bin Rawahah bilang, “Wahai kalian, sesungguhnya kita tidak memerangi mereka karena jumlah, tidak pula karena kekuatan, pun karena banyaknya. Tapi, kita memerangi mereka tidak lain karena agama ini yang dengannya Allah memuliakan kita. Maka, berangkatlah. Sungguh di sana akan kalian temukan, satu dari dua kebaikan, kemenangan atau syahid”. 

Akhirnya, kaum Muslimin berangkat. Tapi, karena pasukan yang sangat besar, tentu ini saat-saat yang sulit. Para panglima gugur sebagai syuhada. Terakhir, Panji diserahkan kepada Khalid bin Walid. Dengan strateginya, Khalid berhasil memukul mundur pasukan Romawi dengan memerintahkan membuat kamuflase debu seolah-olah pasukan kaum Muslimin bertambah jumlahnya. Hasil dari perang ini pun seri. 

Dari perang Mu’tah terlihat bagaimana loyalitas kaum Muslimin kepada Islam dan bagaimana loyalitas mereka kepada pemimpinnya. Terlihat pula keberanian para pasukan beserta yang melewati batas khayalan. Begitu pun para panglimanya, meski sudah dikabarkan syahid bahkan sebelum memulai peperangan, mereka tidak mundur selangkah pun. Bagi mereka, Surga adalah segalanya. Ridho Allah adalah cita-cita di atas cita-cita. 

Begitulah aktivitas sebuah Negara dengan tujuan yang jelas. Begitulah Islam mengajarkan kita. Meski sekarang opini tentang Khilafah terus diusahakan untuk redup oleh orang-orang kafir, tapi Allah tidak pernah tidur dan Allah tidak buta. Allah akan menjaga Islam lewat orang-orang yang Dia pilih yang lewat tangan mereka Islam akan kembali tegak. Is that you? Oh, no. That’s us! 

Last but not least, semoga kita termasuk di dalamnya. Generasi penjaga Islam terpercaya yang dicintai oleh Allah dan lewat tangan-tangan kita Allah memberikan pertolonganNya. Mari memantaskan diri and have a great day! 

Shelter, August 19th 2014. 09:26 AM. Try to love myself the way I am.

Monday, August 04, 2014

Percakapan; Passion

Saya       : Mbak, aku punya cita-cita dari dulu.
Mbak N   : Apa dek?
Saya       : Mau jadi Event Organizer untuk pernikahan Islami
Mbak N   : Wah, bagus tuh dek. Ntar kan sekalian memperkenalkan gimana itu pernikahan Islami.
Saya       : Iya, Mbak. Trus kan kalo Khilafah tegak jadi lebih gampang untuk sosialisasinya.
Mbak N   : Tapi, udah siap belum dek?
Saya       : Apa Mbak?
Mbak N   : Ya, modal dek. Kan itu butuh modal yang bisa dibilang gede. Gak cuma itu, anty (kamu) juga butuh partner.
Saya       : Iya sih, Mbak. Haha, aku mau nabung kalo gitu. Trus, partner? Maksudnya Mbak? Rekan kerja gitu? Nanti aku ajak si Maryam aja, Mbak.
Mbak N   : Ya elah dek, maksud Mbak itu anty harus punya suami. Gimana caranya mau sosialisasi pernikahan islami anty aja belum nikah?
Saya       : (ketawa) *skakmatdahgue* 
Percakapan ini adalah kisah nyata. Jika ada yang tersinggung, mohon maaf :)
*Ya udah deh, kalo gitu sekarang saya mau belajar jadi perancang pakaian muslimah yakni jilbab. Kan ada si Balgis. Gis, mau ya jadi modelku? Model Hijab A***A udah banyak. Mumpung aku lagi semangat nih :D*
Dua hal di atas hanyalah beberapa dari sekian banyak passion saya. Meskipun di luar saya terlihat boyish tapi sebenarnya saya masih normal kok. Saya perempuan tulen. Serius ^^ *cuma agak sedikit abnormal :p*

04082014. Masih dengan instrument kesayangan

Percakapan; Tak Cukup Sebuah Syukur

And when the time gets hard,
there’s no way to turn,
as He promises He will always be there
to bless us with His Love and His mercy

Pernah merasa jadi orang paling tidak beruntung? Saya pernah. 
Tidak hanya itu, saya pernah menyalahkan kenyataan, saya pernah menyalahkan seluruh dunia dan yang paling parah saya pernah menyalahkan keberadaan saya di dunia ini. 
Seperti sinetron? Memang. Tapi, itu nyata. 
Cukup lama saya beranggapan seperti itu hingga saat saya tersadar, saya akhirnya menyalahkan diri saya sendiri. Parah? Iya, sangat. 
Dan waktu mengajarkan banyak hal. Termasuk bagaimana saya menemukan cinta. Tidak terhitung berapa kali saya berusaha mendapatkan cinta dari orang lain hingga saya terlalu lelah untuk berusaha. 
Menjadi yang terbaik, menjadi no.1 agar terlihat oleh orang lain, berusaha menjadi teman yang baik, peduli, menyayangi. Menjadi anak yang patuh dan menurut. Namun, semua nihil. Semakin saya berusaha mencarinya, semua itu semakin menjauh dari saya. Dan hingga sekarang ikhlas dan sabar itu masih saya pelajari. 
Saya egois dan teramat posesif. Di satu sisi saya terlalu memikirkan perasaan orang lain, namun saya juga berhati-hati dan lebih sering melarikan diri untuk menyelamatkan perasaan saya. Dan pernah sekali saya tidak melihat orang terjahat di alam semesta selain diri saya. Tidak ada lagi yang lebih jahat daripada saya. Itu menurut saya. 
Allah SWT. Entah detik ke berapa saya baru menyadari keberadaanNya. Dan saat itu saya benar-benar merasa sangat jahat. Dialah satu-satunya. Satu-satunya yang mengawasi saya, melihat ke arah saya, mengasihi saya dan mengajari saya arti kehidupan serta bagaimana menjadi seorang manusia. 
Allah SWT. Saya baru tersadar bahwa yang membuat saya bisa survive hingga detik ini adalah Rahmat dan KasihNya. Bahkan saat saya tidak punya harapan sama sekali. Allah mengirimkan orang-orang baik untuk membantu saya bangkit dari keterpurukan. Tidak hanya itu, Allah mengizinkan saya untuk membenturkan sifat-sifat negatif saya dengan menghadirkan orang-orang lainnya untuk mengajari saya bagaimana mengontrol emosi dan ikhlas terhadap sesuatu. Setiap kali saya terbentur, Allah tidak meninggalkan saya. Tidak pernah sekalipun. Berapapun cinta yang saya beri, balasan bagi saya selalu lebih besar. 
Ya, Allah. Dialah Allah. Tuhan Semesta Alam. Jika masih banyak orang yang ingkar terhadapNya, namun cinta dan kasih untuk makhlukNya selalu lebih besar. Dialah pemilik nama Ar Rahmaan dan Ar  Rahiim, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. 
Hadiah terbesar dalam hidup saya diantara sekian banyak hal buruk yang saya dapatkan adalah menjadi bagian dari perjuangan dakwah melanjutkan kehidupan Islam dan berada di dalam jamaah yang hingga detik ini berjuang untuk tujuan itu. 
Dakwah ini mengajarkan saya menjadi seorang manusia yang berarti. Dakwah ini membawa saya dalam pertemuan dengan orang-orang luar biasa yang seringkali membuat saya iri dan merasa payah karena yang ujiannya lebih berat dari saya masih banyak. Dakwah ini juga yang membuat saya tidak pernah merasa sendirian dan kesepian meskipun saya berada jauh dari mereka. Dakwah ini yang membuat saya selalu merasa berada di rumah dengan keluarga.
Ya Allah, sekarang Hamba tau dimana titik terlemah Hamba. Dan tak cukup sebuah syukur atas seluruh pelajaran yang Engkau beri. Disaat seluruh dunia melihatku sebelah mata, Engkau percaya bahwa aku bukan orang biasa. Disaat dunia meninggalkanku, Engkau tetap di sana mengawasiku, melihatku tumbuh, memberikan cinta yang kubutuhkan, mengarahkan jalanku, menguatkan pijakanku, meneguhkan hatiku, dengan segala kerapuhan jiwa ini Engkau tak pernah lelah. Engkau selalu ada.
Hingga detik ini, Hamba masih belajar. Belajar untuk menaklukkan hawa nafsu Hamba. Belajar untuk menjadi yang terbaik di sisiMu. 
Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Engkau, Ya Allah. 

Shelter, August 4th 2014. 08:49 AM. Start A New Episode

Sunday, August 03, 2014

Episode; Kejutan Itu Bernama Jodoh

Sebelum saya dibully orang-orang, sebaiknya emang saya jelasin dulu kenapa saya tiba-tiba nulis postingan ini. Sejagad raya pasti tau saya bukan tipe orang yang suka dengan hal romantis macam beginian. Haha, saya juga tidak tau kenapa tapi daripada ide ini hilang begitu saja dari kepala saya, sebaiknya saya tuliskan. Semoga bermanfaat dan bisa diambil ibrah-nya *khususnya buat yang nulis :D* Dan kenapa saya nulis ini? Mungkin ini adalah semacam respon saya atas tulisan adik junior saya, Nio. Kemarin saya baca postingan di blognya yang judulnya “Pacaran Tidak Mengenal Anda Lulusan Mana” dan “Jomblo Setengah Hati”. Bagi Nio yang emang punya pengalaman dengan hal begituan, nulis ulang cerita yang udah lewat pasti kerasa gimanaaa gitu. Seperti membangkitkan kenangan lama dari kubur. Sakit juga mungkin iya, apalagi dengan pemahaman seperti sekarang. Jelaslah dia tambah ilfeel. Oke, anggap saja begitu. Yang kedua, jawaban subjektif saya, saya menganggap ini salah satu hal yang menarik untuk saya tulis. Haha, siapa tau aja saya juga mengalami hal ajaib itu ketika bertemu dengan calon suami saya kelak. Who knows, right? :D
Well, let’s start from this verse. Allah SWT berfirman :
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)….” (TQS. An Nuur [24]:26).
Ya, ayat ini adalah salah satu ayat favorit saya. Inilah yang membuat saya sampai sekarang dengan penuh kepedean untuk tidak melakukan aktivitas maksiyat bernama Pacaran *sebelum menikah pastinya. Klo udah nikah mah gak pacaran lagi namanya. Sebutannya Suami-Istri* meski mungkin karena emang belum ada yang mau sama saya :p Yang jelas, ayat ini bikin saya yakin bahwa suatu saat saya akan bertemu dengan seorang Prince Charming yang pastinya dicintai Allah jika saya juga melakukan hal yang sama *eaaaaa*

Nah, ngomong-ngomong soal ayat di atas, saya punya 3 cerita yang berbeda, di tempat yang berbeda, waktu yang berbeda dan pastinya tokoh yang berbeda pula. Tapi, cara mereka bertemu dengan pasangan masing-masing adalah cara ajaib yang hampir mirip.
Cerita pertama yang saya dengar adalah cerita tentang sepasang manusia *ya iyalah* yang kuliah di kampus yang sama, fakultas yang sama, jurusan yang sama, bahkan sekelas. Hmm, sebut saja Dani dan Dina *biar gak bingung* Mereka berdua sama-sama pintar dan menjadi rujukan di kelasnya. Namun, ada yang beda. Dina adalah seorang aktivis pergerakan Islam sedangkan Dani adalah aktivis kampus yang yah gitu deh. Setiap orang punya masa lalu, hehe. Dani anak BEM Fakultas, sedangkan Dina anak pergerakan Islam. Oke, inilah jembatan pemisah yang cukup jauh antara mereka berdua meskipun mereka sekelas. Jelaslah Dina gak mungkin mau sama cowok model kayak Dani. Namun, namanya manusia yang punya kecenderungan, ternyata Dani beneran suka sama Dina. Serius suka. Dani yang ngebet banget sama Dina gak berhenti ngejar-ngejar Dina yang udah punya pemahaman gak mau pacaran *ya iyalah, masa aktivis Islam pacaran? OMG Helloww*
Singkat cerita, namanya hidayah itu kalo dijemput pasti dia akan datang ke kita. Alhamdulillah Dani dapat hidayah. Ngajilah dia di tempat yang sama dengan Dina. Tapi posisinya, Dina sudah lebih jauh di atas Dani. Emang dasarnya Dani pantang menyerah, dia tetep aja nguber-nguber Dina. Mungkin Dina kasian juga liat Dani udah ngos-ngosan ngejar dia, akhirnya Dina Cuma nyeletuk, “Kalo berani, ke rumah aja”. And you know Pemirsah? Dani beneran ngelamar Dina di depan orang tuanya!!! Haha, awesome. Kenapa? Karena waktu itu Dani sama Dina masih semester 5. Haha, saya gak kebayang model saya pas semester 5. Masih kacau balau :D Akhirnya mereka menikah. Dan menjelang pernikahan, Dani punya cara yang menurut saya gokil banget buat ngasihtau ke teman-teman sekelasnya. Jadi ceritanya pas lagi gak ada dosen. Dani tiba-tiba berdiri.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” kata Dani untuk mengheningkan cipta, eh mengheningkan suasana kelas.
“Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab teman-teman sekelasnya.
“Teman-teman mohon perhatiannya, ada yang ingin saya sampaikan ke teman-teman sekalian,” kata Dani kemudian.
Teman-teman sekelasnya penasaran. Apalagi beberapa cewek yang emang jadi secret admirernya Dani.
“Saya akan menikah….,” kata Dani.
Sontak semua heboh dan bertanya-tanya dengan siapa Dani akan menikah. Dina juga tidak kalah terkejut dengan teman-temannya yang lain.
“Bagi yang akan menikah dengan saya, saya harap berdiri,” kata Dani seolah menjawab pertanyaan teman-temannya.

Saya bisa bayangin ekspresi Dina waktu itu. Haha, pastinya kaget banget. Saya aja kalo digituin mungkin bakal jauh lebih shiock daripada dia.
Singkat cerita, Dina akhirnya berdiri dengan wajah merah menahan malu. Cukup sensasional sih dan menurut saya romantis haha :D Di akhir saya baru tau kalo Dina dan Dani adalah teman seangkatan suami ustadzah saya. Hmm, dunia ini emang sempit ^^

Sekarang, mereka berdua sedang menanti kelahiran anak pertama dan keduanya sudah lulus S2 dari Taiwan National University. Barakallah buat Mbak Dina dan Mas Dani hehehe. Wish you both all the best. Thanks for giving such a romantic story.
Ini adalah cerita ajaib pertama. Dan kedua datang dari seorang Mbak yang lain. Sebut saja namanya Renia. Saya kenal cukup baik dengan beliau karena beliau dulu sempat satu rumah dengan saya dan kami pernah satu tim halqah *sebutan untuk pembinaan intensif*
Suatu malam beliau datang ke kontrakan saya dan mengantarkan undangan pernikahan beliau. Saya sudah lama menebak bahwa beliau akan menikah. Dan ketika saya tau, saya tidak se-shock teman-teman saya. Soalnya Mbak Renia yang imut-imut itu akhirnya nikah juga hehehe :D Namanya juga penasaran, akhirnya saya nanya deh dengan siapa beliau menikah. Dan ternyata beliau mengisahkan cerita yang membuat saya merasa seperti nonton drama, haha :D
Suami beliau adalah seseorang yang sudah beliau kenal sejak SMP. Bermula dari lomba IT. Waktu itu Mbak Renia sangat berminat dalam dunia IT. Dan sejak SD mbak Renia selalu no.1. Orang pertama sekaligus cowok pertama yang sukses membuat Mbak Renia berada di posisi ketiga adalah suaminya sekarang. Waktu itu jelaslah mbak Renia gak bakal tau kalo cowok absurd dan rada autis itu bakal jadi suaminya sekarang. Mbak Renia nyaris gak bisa menerima kenyataan kalo dia akhirnya berada di posisi ketiga dan kalah dari seorang murid yang sekolahnya bahkan gak pernah menang lomba. Orang itu juara I pula.

Singkat cerita, ketika mereka SMA, mbak Renia yang dapat amanah ngurusin dakwah remaja ketika itu sering bolak-balik sekolah untuk ngisi pengajian umum di sekolah. Dan kalo dakwah remaja itu, sering banget ngadain acara cowok-cewek aka ikhwan-akhwat. Saat mbak Renia lagi down dengan banyak masalah, tiba-tiba cowok itu muncul lagi. Haha, dunia itu sempit, mamen. Dan satu-satunya orang yang berani nyebut nama Mbak Renia adalah cowok itu. Yah, mbak Renia terkenal lumayan killer di depan cowok-cowok. Makin kesel dah dia. Dan pas tau kalo ternyata si cowok itu juga sudah halqah dengan pembahasan yang setingkat di atas mbak Renia, makin sebel dah sama tuh cowok. Ini kali kedua Mbak Renia dikalahin sama orang yang sama *kok kayak saya ya? Saya dulu gak suka dikalahin sama cowok :P* Akhirnya sejak saat itu Mbak Renia belajar mati-matian biar bisa ngalahin orang itu. Kemudian dia sadar kalo memahami dan berjuang untuk Islam itu bukan karena apa atau siapa tapi karena Allah semata. Akhirnya mbak Renia berhenti mengejar orang itu dari sisi prestasi. Tapi, banyak yang kenal sama orang itu dan sering nyeritain orang itu ke Mbak Renia bikin dia jadi tambah kesel. Tapi, ternyata ketika itu dia sadar kalo dia juga suka sama orang itu. Apalagi pas tau kalo orang itu akhirnya kuliah di jurusan IT sementara beliau yang udah mati-matian memperjuangkan biar bisa masuk IT akhirnya harus pasrah kuliah di Pendidikan Dokter.
Beberapa tahun gak ketemu dan Mbak Renia juga udah lupa sama orang itu, ternyata ketemu lagi di SNS *Social Networking Site* aka Sosmed. Mbak Renia gak nyangka kalo orang itu berubah. Ya, semua orang bisa berubah. Muka aja bisa berubah sekarang. Singkat cerita, akhirnya Mbak Renia memutuskan untuk menikah dengan suaminya itu. Dan ternyata Mbak Renia gak bertepuk sebelah tangan. Hahaa, sweet ending ^^ Satu lagi yang hampir lupa, suami Mbak Renia semasa SMA adalah murid suaminya ustadzah saya yang tadi saya ceritain sebelumnya. Hohoho, dunia emang bener-bener sempit. Sama seperti nemu orang yang mirip setelah berapa tahun :P
Ini akhir cerita kedua. Cerita ketiga datang dari tentor les saya saat kelas XII. Cerita ini baru saya dengar tadi pagi saat salah satu sahabat saya menelpon dan mengatakan bahwa tentor saya itu menikah dengan teman sekelasnya di SMA dulu. Tentor saya dan suaminya adalah teman sekelas kakak sahabat saya itu. Haha, lagi-lagi dunia sempit :D
Sebelumnya ada lirik yang mungkin mirip sama cerita tentor saya ini.

Being born in the same country
Talking in the same language
We’re so lucky, it’s such a relief
Nothing is for certain in this world

Saya kenal tentor saya dari sahabat saya saat SMA. Beliau adalah teman sekelas kakak sahabat saya. Dari situ juga saya tau tentang suami tentor saya itu. Teman saya menceritakan tentang kisah anak-anak pintar di sekolah kakaknya, termasuk tentor saya dan suaminya. Namanya juga teman sekelas pastinya ya biasa aja kalo minta tolong meskipun cowok ke cewek. Tapi saya setelah mengkaji Islam jadi aneh kalo ngomong sama teman cowok. Mungkin karena gak biasa hehe :D Jadi waktu mau masuk kuliah, suami tentor saya minta tolong ke tentor saya buat dicariin kenalan. Soalnya kuliahnya di luar kota, jauh dan gak ada saudara. Tentor saya yang emang aktivis Islam jelaslah ngarahin suaminya ini *waktu itu statusnya masih teman sekelas* ke orang yang juga aktivis Islam. Akhirnya dititipilah suaminya itu ke seorang Ustadz yang sekarang lagi naik daun gara-gara postingannya di SNS. Alhamdulillah, akhirnya suami menjemput hidayah di Ibukota Indonesia Raya. Dari sana akhirnya suaminya merintis dakwah di salah satu Sekolah Tinggi milik pemerintah di Ibukota. Dan sampai sekarang masih istiqomah.
Tahun lalu saya diberitau oleh sahabat saya yang lain bahwa tentor saya itu akan menikah dengan orang yang juga dari kampung halaman saya, Kendari. Saya pikir, siapa ya ikhwan Kendari di Jakarta? Kok saya gak kenal? Saya waktu itu gak mikir sampe ke sana. Mana mungkin juga tentor saya nikah sama temannya itu. Gak ada pikiran dah. Dan tadi pagi teman saya menelpon. Mengabarkan bahwa tentor saya itu akhirnya menikah dengan teman sekelasnya yang dulu ditolong pas mau masuk kuliah. Hahaha, bener-bener gak disangka. Jodoh itu deket banget. Ya, emang gampang aja sih bagi Allah nyiapin skenario pertemuan. Nyiapin skenario kehancuran jagad raya aja Allah bisa. Gak ada yang gak mungkin. Selamat deh buat Kak Yana dan Kak Juned. Selamat menunggu kelahiran anak pertamanya. Semoga lancar ^^
3 cerita tadi Cuma bisa bikin saya bilang, Subhanallah. Sutradara perfect emang Cuma Allah semata. Bagaimanapun seorang berusaha, hasil emang Cuma Allah yang nentuin. Saya yakin banget beliau-beliau di atas pasti gak pernah nyangka kalo suami atau istri mereka sekarang akan jadi suami atau istri mereka. Kayak saya yang sekarang punya pria idaman tapi mungkin aja suatu saat bakal lain hasilnya dan itu pasti gak disangka-sangka. Jika saya gak bisa, seluruh jagad raya juga gak bisa :D
Trus, respon buat tulisan Nio? Hmm, buat yang masih pacaran sekalipun lulusan pesantren dan universitas dengan label Islam, pikir-pikir lagi kalo mau maksiyat. Sayang banget tuh ilmu Cuma ngendap aja. Dan buat jomblo setengah hati, gak usah buru-buru, gak usah resah bin galau. Allah sudah nyiapin cerita yang indah buat kalian semua *termasuk saya :D* Buat para pengemban dakwah yang sekarang banyak godaan di usia 20-an, saran saya siapkan baik-baik dan yakinlah jika kita menolong Agama Allah, Allah akan menolong kita. Seperti janjiNya. So, siapkan, jangan sampai hal ini mengalihkan perjuangan. Saya pun terkadang begitu. Mungkin karena frame orang-orang tentang cinta termasuk pernikahan hanyalah sebatas pada “Aku dan Kamu”, jadilah terkadang di bayangan dunia hanya milik berdua, yang lain ngontrak :D
Sekali lagi, pernikahan pengemban dakwah itu bukan hanya aku dan kamu, tapi kita. Suami atau istri bukan milik sendiri tapi milik umat. Maka, bersiaplah untuk membagi suami atau istri kelak dengan umat ini karena umat butuh mereka. Dan pernikahan pengemban dakwah itu bukan pernikahan yang romantis melulu. Karena pernikahan pengemban dakwah ibarat pernikahan superhero atau pernikahan seorang agen misi. So, buat para akhwat jangan terlalu berharap. Bayangin aja dulu gimana istri Khalid bin Walid yang selalu ditinggal jihad oleh suaminya? Istri Zaid bin Haritsah yang harus rela melepaskan suaminya ke medan jihad. Istri Rasulullah SAW, istri para Khalifah yang pastinya kayaknya jarang banget nemuin sesuatu yang romantis. Karena kebahagiaan itu gak selalu muncul di saat-saat romantis. Buat para ikhwan juga jangan kepedean. Izinkanlah istri kalian kelak untuk tetap berdakwah sebagaimana ketika ia masih single. Izinkanlah istri kalian menjalankan kewajibannya kepada Allah dan RasulNya. Relakanlah istri kalian untuk membagi pikirannya dengan umat ini. Saat itu saya yakin, kalian pasti akan mengetahui seberapa tangguhnya perempuan yang kalian pilih. Selamat menyiapkan semuanya, selamat berdoa, selamat menjalani episode kehidupan yang penuh kejutan ini ^^ Have a nice weekend :D Wallahu ‘alam bi ash shawaab.
Shelter, August 3rd 2014. 10:20 AM. Let’s get up!

Episode; Aku, Lebaran dan Idul Fitri

Sebelum saya mulai tulisan saya yang pastinya bakalan panjang ini *sekalian beres-beres blog*, izinkan saya mengucapkan “SELAMAT IDUL FITRI 1435 H”. Taqabalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Mohon maaf untuk segala kesalahan ^^
Tahun ini adalah kedua kalinya saya tidak pulang kampung saat Idul Fitri. Pertama adalah di tahun 2010. Saat itu saya baru saja masuk Universitas. Dan tahun terakhir saya di universitas *in syaa Allah* juga saya akhirnya memutuskan untuk tidak pulang ke kampung halaman. Banyak pertimbangan sebenarnya. Tapi, ada satu hal yang membuat saya benar-benar ingin menyelesaikannya di sini. Dan Alhamdulillah semua sudah selesai *I really hope so :D*
Sejak awal Ramadhan sampai detik ini banyak sekali peristiwa yang sudah saya alami *ya iyalah, Ditriii* dan ada beberapa yang tidak akan terlupakan saking spesialnya. Ramadhan dan Idul Fitri emang selalu jadi momen paling tidak terlupakan buat saya. Setidaknya sejak saya hijrah ke perantauan :D Salah satunya adalah ketika saya menyadari banyak hal yang sudah berubah, baik diri saya sendiri, lingkungan sekitar saya, kehidupan saya, meski sebenarnya tidak semua juga menyadari perubahan itu dan mungkin Cuma saya aja haha :D Yang jelas, saya merasakan banyak yang berubah sejak saya kuliah.
Beberapa kenangan yang gak terlupakan di Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini
KKN
Setelah sekian lama akhirnya saya bisa magang juga haha. Yah, emang periode sebelumnya adalah karena kegalauan saya yang gak nentuin tempatnya dari awal. Alhamdulillah bisa KKN di tempat yang bagus. Pimpinannya baik dan ramah. Supervisornya enak. Murid-muridnya juga seru-seru. Pengalaman paling seru adalah ngawas UAS. Bener-bener ujian kesabaran ngeliat anak-anak super bandel. Untung aja mereka bukan murid-murid saya.
Seperti kata Aoi Chan dan Chairo Chan, everything will come in the right time. And these what Allah has prepared for me. A sweet scene just for me. Minna san, happy Ied Mubarak. Ina, Putri, Pak Kus, Bu Ratri, Bu Rina, Pak Eko, dan murid-muridku ^^
Aksi Solidaritas Palestina
Seluruh dunia kembali tercengang dengan aksi brutal Israel *laknatullah alaih* ke Gaza di bulan Ramadhan. Bahkan hingga detik ini, aksi kejam itu juga belum selesai. Dan yang lebih keterlaluan lagi adalah kaum Muslimin di belahan bumi yang lain hanya menonton saja. Khususnya para pemilik kekuasaan. Seolah Israel itu sangat dihormati akhirnya mereka seperti di atas angin, berbuat sesukanya. Padahal, Allah yang melaknat mereka. Solidaritas kaum Muslimin mengalir seperti air bah. Bantuan berupa dana, pakaian, obat-obatan semua diberikan. Namun, tidak ada yang berubah. Semua hanya jadi obat. Namun tetap tidak ada yang bisa menghentikan kekejian Israel. Kaum Muslimin tidak berdaya. Bener-bener jadi pecundang di depan hidung orang kafir.
Kali ini kami hanya bisa melakukan aksi. Menyeru para penguasa untuk turun tangan. Menunjukkan kepedulian mereka sebagai kaum Muslimin. Menunjukkan bahwa kaum Muslimin punya taring yang bisa merobek kesombongan dan kebengisan orang-orang kafir. Kami pun menyerukan bahwa selain bantuan dana dan sejenisnya ada hal lain yang tidak kalah penting, yakni persatuan kaum Muslimin di bawah satu kepemimpinan. Kepemimpinan seorang Khalifah dalam naungan Khilafah. Bukan karena Nasionalisme yang justru menjadi racun pemecah-belah kaum Muslimin.
Dan saya pun semakin sadar, tantangan perjuangan ini semakin besar. Makanya menegakkan Khilafah tidak pernah mudah. Saya sudah berlari sejauh ini, maka tidak ada alasan untuk kembali. Tidak ada alasan untuk kabur dari perjuangan ini. Sudah cukup saya melihat semua ketidakadilan dan kerusakan akibat penerapan Demokrasi-Kapitalis. Sudah cukup saya merasakan begitu banyak kepahitan, kesedihan dan duka yang mendalam karena sistem rusak dan merusak ini. Saya tidak rela bahkan sampai saya mati sekalipun ketika sistem ini masih diterapkan. Jika pun nanti saya mati sebelum saya bisa menumbangkan sistem ini, saya yakin akan banyak orang-orang setelah saya yang akan tetap memperjuangkan tumbangnya sistem ini dan tegaknya Khilafah. Di tengah banyaknya fitnah terhadap dakwah ini, semoga dengan thoriqoh dakwah yang sudah saya pelajari dan saya yakini, saya bisa tetap berpegang teguh padanya. Pada thoriqoh yang dijalani dengan sepenuh jiwa oleh Rasulullah SAW. Semua hanya masalah waktu. Maka kesabaran itu perlu. Dan nyalakan terus api keyakinan itu. Kita semua pasti dimenangkan oleh Allah. Karena Allah dan RasulNya tidak akan pernah ingkar janji.
Berburu bareng teman-teman seperjuangan
Udah jadi kebiasaan kalo Ramadhan pasti bakalan nyerbu masjid. Ya apalagi kalo bukan tarawih? Tapi, kalo sama Dewi, semua bakal jadi plus-plus. Buka puasa, sholat Isya dan Tarawih. Kenang-kenangan 15 hari terakhir Ramadhan bareng Dewi, Arin dan Nurul. And of course, congrats buat Arin yang akhirnya diberi kelulusan. Sekarang di belakang namanya udah ada titel *eaaa* Barakallah ya, Rin ^^
Itikaf di 10 malam terakhir
Ini juga jadi agenda yang gak kalah seru. Itikaf di 10 malam terakhir. Bener-bener jadi safari masjid akhirnya :D dan yang paling seru adalah itikaf bersama di Batu. Haha, unforgettable banget. Everything. Suasananya, materinya, pemandangannya dan kebersamaannya. Ya, inilah indahnya berjamaah. Selalu ada yang mengingatkan dikala futur menyerang, menguatkan dikala jatuh, melangkah bersama dalam jalinan dakwah dan ukhuwah menuju satu tujuan, yakni melanjutkan kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah. Karena dakwah ini juga saya tidak pernah merasa sendirian meskipun jauh dari rumah. Jamaah ini adalah rumah kedua bagi saya. Teman-teman seperjuangan adalah keluarga besar saya. Dan Alhamdulillah, meski kadang kesepian, saya tidak pernah benar-benar merasakan kesepian. Karena mereka selalu ada, selain karena Allah juga pastinya. Uhibbukum fillah <3
Travelling sendiri ke Surabaya
Untuk pertama kalinya saya ke Surabaya naik kendaraan sendiri. Sebelumnya udah pernah, tapi waktu itu masih dijemput. Kali ini saya naik kereta, naik angkot dan sampai ke tempat tujuan sendirian. Haha, rasanya aneh sih travelling sendirian, tapi saya juga gak tau kalo saya pergi jauh mesti sendirian. Dan orang yang pertama kali nemenin saya travelling jauh adalah Nila :D Semoga aja suatu saat beneran punya teman travelling :p
Misskom di Hari Raya
Sebenernya kejadian ini rasa absurd dan memalukan buat diceritakan. Semua planning di awal berantakan. Hari Raya yang ternyata warnanya abu-abu. Tapi, Alhamdulillah saya punya teman yang berwarna lebih cerah. Jadi saya gak ada alasan untuk tetap mendung. Dengan kesederhanaan, kami mencoba mengukir senyuman. And it works ^^ Ziezie, Mbak Put, Balgis, Ani, thanks for the memories :D
Travelling ke Blitar dan Tulungagung
Nila adalah orang pertama yang bersedia travelling bersama saya. Udah gak tau apa-apa, modal peta sama HP. Akhirnya saya berangkat ke Tulungagung. Pertama kalinya juga naik sepeda motor. Ternyata setelah saya hitung-hitung, sekitar 1-1,5 jam kalo gak nyasar haha. Waktu itu saya sempat nyasar. Apalagi Nila puasa. Afwan ya, Nil. Jazakillah khairan katsir udah nemenin muter-muter nyari makam. And finally, I made my promise. See? If you don’t come then I’ll come to you. Finally, I came to meet you. Even it’s just a silent grave. I hope you see. I hope you see. I hope you see. Now, everything will be alright. End of our story. A sad ending one, but it makes so much lessons for me and the other. Thanks for coming into my life, thanks for giving me so many lessons, thanks for changing me to be a better person, thanks for bringing such colorful memories, thanks for giving me so much love and care, thanks for everything.
Meet New Family in Blitar
Nila, Bapak, Ibu, Pak Po, Pak Dhe, Bu Dhe dan semuanya akhirnya jadi keluarga baru saya selama di Blitar. Haha, saya gak tau apa saya kesana untuk melarikan diri dari hantu bernama kesepian. Hitung-hitung refreshing dan menepati janji ke Nila. Makasih untuk Ibu dan Bapak yang udah peduli banget dan nganggap saya seperti anak sendiri. Diajakin ke rumah saudara dan dapat angpao pula. Haha, saya jadi malu. Udah segede gini masih dapat angpao. Makasih Pak Dhe ^^ In syaa Allah kalo ada kesempatan, saya sempatin ke Blitar lagi, ngunjungin Bapak, Ibu, Pak Po dan semuanya. Rasanya gak cukup hanya dengan kalimat. Dan ini sukses bikin saya nangis. Love you all in Allah. I hope we’ll meet again. Dan semoga bisa ke Tulungagung lagi, ke rumah Pak Dhe-nya Maryam *Iam, ayo cepet balik :P*
Tuh kan, kalo udah lama gak nulis, sekali nulis jadi panjang banget tulisannya. Ya, semoga siapapun yang baca bisa ngambil pelajaran. Happy Ied Mubarak, all ^^

Shelter, August 2nd 2014. 08:50 AM. Gak terasa pas sebulan lagi.