Setiap tanggal 2 Mei diperingati sebagai hari
Pendidikan Nasional. Dulu, jaman SMA, tiap tanggal 2 Mei, pasti kelas saya jadi
grup paduan suara untuk upacara tingkat Provinsi di kantor Gubernur. Kenapa? Karena
sekolah saya yang paling dekat dengan kantor Gubernur haha :D Sayangnya, semua
acara tersebut tidak lebih dari ceremonial belaka. Kenapa? Karena ternyata saat
ini potret pendidikan di Indonesia belum menemukan titik cerahnya.
Dalam pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa salah
satu tujuan Negara ini adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Tapi, ternyata
tujuan itu seperti pepatah jauh panggang dari api.
Seiring dengan berjalannya waktu saya banyak
belajar dari kejadian yang terjadi di sekitar saya. Dulu, zaman saya SD-SMA,
pendidikan masih terjangkau. Tapi, setelah saya masuk perguruan tinggi *padahal
negeri* ternyata pendidikan tidak lagi menjadi kebutuhan primer tetapi tersier.
Karena untuk sekolah itu perjuangannya luar biasa. Ngumpulin duit berjuta-juta.
Mulai dari TK-kuliah. Miris sekali melihat banyak generasi muda yang harusnya
duduk di bangku sekolah, tapi karena mereka tidak memiliki biaya maka
berakhirlah semua impian mereka. Okelah ada beasiswa macam BOS atau Bidik Misi.
Tapi, ternyata tidak semua orang *yang pantas menerima* bisa menikmatinya. Justru,
orang yang sebenarnya mampu yang mendapatkan beasiswa untuk orang yang tidak
mampu. Masya Allah. Ini namanya terlalu. Tapi, ini fakta. Pendidikan semakin
lama semakin langka hingga muncul anekdot, “Orang miskin dilarang sekolah”. Dan
ini pula yang menjadi salah satu lingkaran setan kemiskinan di negeri ini. Kenapa?
Ketika ditanya, kenapa dia tidak bisa berobat? Dia miskin. Kenapa dia miskin? Tidak
punya pekerjaan. Kenapa tidak punya pekerjaan? Tidak punya pendidikan. Kenapa tidak
punya pendidikan? Karena dia miskin. Akan selalu seperti itu. Berputar di
situ-situ saja. Seolah kemiskinan adalah
warisan dari orang tua. Semakin hari yang kaya semakin kaya dan yang miskin
semakin miskin. Memang di dunia ini takkan ada orang kaya saja, tapi kalo orang
miskinnya itu beranak cucu, turun-temurun, itu namanya apa? Out of mind kan?
Belum lagi dari sisi output. Hari ini
pendidikan mencetak generasi pragmatis bin materialistis. Karena memang masuknya
saja mahal. Ini juga kali ya yang bikin orang korupsi. Kalo udah jadi wakil
rakyat pada balik modal, karena pengorbanannya juga gak tanggung-tanggung. Sama
kayak pendidikan hari ini. Dan yang paling parah akhirnya generasi ini gak ada
lagi yang mikirin soal masa depan negerinya. Mereka sibuk ngejar mimpi-mimpi
mereka sendiri. Bahkan mereka lebih bangga bekerja di perusahaan asing karena
gajinya tinggi *padahal CEO-nya bisa puluhan kali lipat gajinya* dan imbasnya
adalah generasi hari ini sangat susah diajak mikir permasalahan umat. Mereka bisanya
kuliah, ngerjain laporan, tugas biar dapat IP perfect. Setelah itu kalo bosen,
ikut ekskul yang having fun atau ikut dance cover, karaoke, dsb. Acara mahasiswa
juga gak mencerminkan mahasiswa banget. Harusnya kalo mahasiswa itu penuh
suasana panas forum-forum diskusi ilmiah, menelorkan ide untuk menyelesaikan
permasalahan masyarakat. Tapi, hari ini justru sebaliknya. Jika pun ada
forum-forum seperti itu, semua tidak lepas dari kepentingan-kepentingan
kelompok tertentu tanpa sebuah tujuan jelas. Boro-boro mencerdaskan, yang ada
malah menjerumuskan. Forum ideologis? Jangan ditanya. Jauh dari Allah? Biasa. Udah
sampai tingkat parah generasi negeri yang katanya Zamrud Khatulistiwa ini.
Lalu, kenapa semua ini bisa terjadi? Ya, semua
gak lepas dari atasnya. Apalagi kalo bukan kebijakan sistem yang diterapkan
hari ini. Lewat kurikulum, pendidikan hari ini didesain super matre karena
dalam sistem kapitalis, apa yang bisa dijual ya dijual termasuk jasa
pendidikan. Saya juga sampai miris, ketika institusi pendidikan udah gak ada
beda dengan convenient store macam Alfa Mart atau Indomaret. Padahal,
pendidikan adalah ranah yang harusnya lebih mulia dari sekedar tempat
berbelanja jasa pelayanan. Pendidikan adalah dunia dimana akan dicetak
orang-orang yang membangun peradaban dunia. Pantas saja, kebijakan di negeri
ini semua hasil dagang. Pendidikannya aja gitu. Wajar jika outputnya adalah
orang-orang yang sangat oportunis. Asal ada manfaat materi, semua halal. Ya,
sistem Demokrasi-Kapitalis yang diterapkan hari ini meniscayakan semua hal itu.
Padahal, negeri ini dihuni hampir 60% oleh usia produktif termasuk anak-anak
usia sekolah. Tidak hanya itu, negeri ini mayoritas Muslim, tapi justru kaum
Muslimin di negeri ini bener-bener terpuruk. 11-12 sama kaum Muslimin di
belahan dunia lainnya.
Sejak Khilafah –sistem pemerintahan Islam-
runtuh pada tahun 1924 di Turki, keadaan kaum Muslimin sangat jauh dari kata “baik”.
Lihat saja, penjajahan dihadapi dimana-mana, mulai dari fisik sampai penjajahan
pemikiran lewat invasi politik dan budaya. Dan semua ini kerap datang melalui
dunia pendidikan. Saya pun pernah menjadi korban. Apalagi saya juga berada di
Fakultas Ilmu Budaya. Dan setiap hari saya melihat bagaimana kagumnya
teman-teman saya terhadap budaya dari luar negeri. Tidak hanya fakultas saya,
tapi juga semua fakultas mendambakan untuk bisa mengecap pendidikan di luar
negeri. Tapi, setelah pulang mereka justru menjadi agen asing. Ya, beginilah
kondisi kaum Muslimin tanpa Khilafah.
Sangat berbeda ketika Khilafah ada. Dalam Daulah
Khilafah, pendidikan adalah salah satu dari 3 kebutuhan dasar manusia. Kebutuhan
dasar yang juga harus dipenuhi selain kebutuhan pokok. Sehingga Negara wajib
memenuhi kebutuhan dasar tersebut untuk seluruh warga Negara, baik Muslim
maupun Non Muslim, baik miskin maupun kaya. Semua diperlakukan dengan cara yang
sama. Pendidikan diberikan secara murah bahkan gratis kepada seluruh warga Negara.
Sehingga tidak ada lagi orang yang berpikir bahwa pendidikan adalah alat untuk
mencari uang. Tetapi sebaliknya, pendidikan adalah untuk mencerdaskan. Sehingga
sejarah mencatat bahwa peradaban di bawah naungan Islam adalah peradaban yang
agung dan mulia. Banyak ilmuwan dan para ahli yang lahir dari sistem pendidikan
Islam di bawah naungan Khilafah, sehingga adalah sebuah kebodohan yang
mengatakan bahwa Khilafah adalah utopia belaka. Justru Demokrasilah yang
utopia. Demokrasilah Pemberi Harapan Palsu karena sejak diterapkan, Demokrasi
tidak membawa perubahan apapun selain perubahan kepada kehancuran umat manusia.
Sudah saatnya berjuang bersama kelompok yang
konsisten memperjuangkan tegaknya kembali Khilafah Rasyidah. Bukan untuk satu
atau dua orang, pun untuk kelompok tertentu tapi untuk seluruh umat manusia. Saatnya
ganti rezim, ganti sistem. Kick Democracy, struggle for Khilafah. Allahu Akbar!
Wallahu ‘alam bi ash shawaab
Shelter, May 4th 2014. Teringat demo
di depan rektorat hari Jumat.
Backsound : Trust in Allah by Saif Adam.