Thursday, July 26, 2012

Do'aku

Izinkan aku menengadahkan tangan, meminta untuk yang kesekian kali. Karena tak ada lagi sandaran jiwa selain kepadaMu, wahai Sang Pemilik Segala.

“Ya, Allah, limpahilah hatiku dengan belas kasih-Mu, baik pada siang dan malam hari maupun pada saat pagi dan petang silih berganti. Tak terlewatkan dalam hatiku, waktu aku tidur atau terjaga kecuali mengingat nama-Mu antara jiwa dan nafasku.
Engkau telah masukan kedalam hatiku sebuah pemahaman bahwa Engkau Maha Suci.
Telah banyak dosa yang telah kuperbuat, dan Engkau mengetahuinya. Namun, disaat petang menjelang dan pagi itu datang, aku masih juga berbuat dosa.
Tuntunlah aku pada jalan yang telah ditempuh oleh hamba-hamba-Mu yang shalih dari kalangan para Nabi, shadiqin, dan mujahidin. Dan janganlah sesatkan aku dalam menapaki jejak din-Mu ini.
Bimbinglah aku di dunia ini, dan di akhirat kelak, serta cerahkanlah wajahku pada saat kebanyakan orang bermuka masam.”

Saturday, July 14, 2012

Saigo no LOVE

Cinta, satu kata jutaan makna. Sepertinya ngomongin soal cinta gak bakal ada habisnya. Power apa sih yang dimiliki si cinta ini sampai-sampai dia selalu aja mengisi hari-hari setiap orang dengan warna-warni? Sekarang, apa sih hal yang gak ada sangkut-pautnya dengan cinta? Lagu, novel, sinetron, film, drama, anime, bahkan contoh kalimat tata bahasa yang saya pelajari juga pasti ada hubungannya dengan cinta. Hal kecil bisa jadi besar karena cinta. Hal yang sederhana bisa jadi rumit juga karena cinta. Sepertinya cinta itu multi-tafsir kalo dibalikin ke diri manusia masing-masing. Semua orang bisa jadi pujangga, bahkan untuk orang paling garing se-jagad raya.
Cinta, kadang beda tipis dengan obsesi, ambisi, dan segala hal yang menghiasinya. Bahkan benci pun sekatnya tipis banget dengan cinta. Orang bisa sangat bahagia dan flowering *berbunga-bunga* atau bahkan bisa sangat hancur karena cinta. Bahkan karena cinta yang haram bisa jadi halal lho *naudzubillah* Yah, itu sih kalo dibalikin ke pribadi (baca: perasaan) masing-masing, cinta akan jadi hal yang sangat multi-tafsir.
Saigo no LOVE. Ini bukan judul drama yang saya rampok trus saya jadiin judul tulisan. Kalo ada drama kayak gini, maaf-maaf aja, saya gak tahu. Yang pasti judul ini murni buatan saya saking udah gak kepikiran judul yang lain. Saigo no LOVE atau CINTA Terakhir. Kesannya kayak sendu banget ya judulnya? Tapi, saya gak bakalan ngebahas kisah romantis kok. Nanti aja kalo saya udah punya ide gila buat ngelanjutin jadi cerita *gak penting*
Cinta. Semua pasti pernah merasakan *bagi yang sudah baligh* Sampai ada tuh istilah First Love atau Love at the first sight *jiaaaahhh* Bahkan ada yang bilang, First Love Never Die *teori dari mana tuh?*

Manusia, balik lagi sama perasaannya. Hari ini cinta itu ada pada satu orang. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, dia bisa pindah ke orang yang lain. Buktinya? Orang yang ngakunya cinta dan mengekspresikan lewat pacaran bisa kan sampai gonta-ganti pacar berkali-kali *emang baju??* Perasaan manusia itu seperti langit di musim gugur. Senantiasa berubah tergantung waktu. Maka, Cinta pertama belum tentu akan jadi yang terakhir. Belum tentu. Cinta itu akan berpindah kemana dia mau. Makanya, dia butuh diatur. Dengan apa? Pastinya bukan dengan sekehendak hati dong. Kenapa? Karena cinta itu salah satu bentuk potensi yang sudah ada dalam diri manusia sejak ia diciptakan. Cuma salah satu. Berarti masih ada lagi dong? Ya, masih. Tapi, gak akan disinggung di sini. Cinta merupakan salah satu bentuk dorongan atau insting atau naluri manusia. Maka dari itu pemenuhannya harus diatur oleh sebuah aturan baku dari Yang Maha Tahu pastinya bukan dari Yang Maha Sok’ Tahu.
Tapi, kalo udah nyinggung masalah perasaan atau hati, semua pasti pada lupa. Termasuk lupa sama aturan yang seharusnya ditaati. Miris banget ngeliat orang-orang mengekspresikan cinta mereka dengan jalan yang salah. Pacaran, gonta-ganti. Nikah, cerai-rujuk atau malah nikah-cerai, trus nikah lagi. Apa cinta segampang itu berpindah? Mungkin saja, apalagi kalo dia bebas dan gak diatur. Lagian, jaman sekarang mana ada sih aturan baku untuk cinta? Gak ada. Semua dikembalikan sama perasaan masing-masing orang. Trus, kalo udah kayak gitu, berarti gak ada dong yang namanya Saigo no LOVE?
Daripada semakin lama semakin ngawur, lebih baik kita sudahi saja kekacauan ini *???* 
Masalah cinta kalo dibahas emang gak bakal ada habisnya. Kenapa? Karena semua dibalikin ke perasaan. Gak salah sih. Itu wajar, karena manusia punya yang namanya potensi kehidupan, salah satunya naluri. Dan salah satu naluri itu adalah naluri berkasih-sayang. Jadi, wajar kalo manusia merasakan yang namanya perasaan cinta dan kasih sayang. Namun, SANGAT PENTING untuk diingat bahwa yang menciptakan naluri itu adalah Allah. Allah tidak asal menciptakan tetapi Allah juga mengatur naluri itu. Jadi, kalo yakin ciptaan Allah berarti harus MAU diatur dengan aturan Allah termasuk dalam hal naluri. Tapi, kenyataannya sekarang aturan Allah tidak digunakan dalam kehidupan. Sekarang manusia menggunakan aturannya sendiri. Ngerasa SOK PALING TAHU masalah dirinya. Padahal, siapa sih dia? 
Nah, makanya jangan heran kalo sekarang itu CINTA seperti gak ada harganya. Bisa dilempar kesana kemari dan bahkan bisa dijual murah. Dengan sistem sekarang orang sangat gampang untuk jatuh cinta, tapi cintanya bukan sama Allah dan Rasulullah, tapi sama materi. Cintanya gak punya landasan sama sekali. RAPUH. Sekali lagi CINTANYA RAPUH. Ada yang gak sepakat? Silahkan komplain. Tapi sama Allah ya :)   
Padahal Allah sudah memberikan aturan terkait hal ini. Kecintaan tertinggi hanyalah kepadaNya dan RasulNya, baru kemudian kepada yang lain. Dan mencintai yang lain pun harus ada landasannya. Apa itu, ya tentu saja landasan cinta kepada Allah. Kalo cinta kepada Allah ditaruh di belakang, saya jamin 1000%, hidup gak bakalan tenang. Lihat aja sekarang, ketika cinta hanya dibalut dengan perasaan sebagai seorang manusia tanpa landasan, kata kebahagiaan itu hanya seperti fatamorgana. Maka, landasilah cinta itu dengan KEIMANAN dengan sebenar-benarnya IMAN kepada Allah dan kecintaan kepadaNya serta kepada RasulNya. Ingatlah, bahwa kita semua berasal dari Allah dan sudah menjadi hak Allah kalo sewaktu-waktu DIA berniat mengambil apa yang seharusnya menjadi milikNya termasuk diri kita, keluarga kita, sahabat kita dan apapun yang kita cintai.
Saigo no LOVE. Pada akhirnya, DIA yang akan menjadi cinta terakhir. Manusia seringkali lupa. Setiap saat mereka meminta banyak hal padaNya. Namun, ketika DIA mengajari mereka untuk bersabar, mereka marah dan menyalahkanNya. DIA selalu ada, di saat mereka butuh sandaran bahkan DIA selalu menawarkan diri untuk menjadi sandaran. Namun, hampir-hampir tak ada yang mencintaiNya setulus hati. Karena mereka sudah lebih dulu memiliki cinta pertama, kedua, ketiga, dst. Tapi, manusia harus tahu, kemanapun mereka pergi dan sejauh apapun mereka melangkah, mereka tetap akan kembali ke sisiNya. Karena DIA akan menjadi CINTA TERAKHIR.
Wallahu 'alam bi ash shawaab.

MY UNLUCKY DAY

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat salah paham terhadap sebuah kejadian yang menimpa saya. Tulisan ini hanyalah renungan. Mungkin saja, di dunia ini ada orang lain yang pernah merasakan dan menganggap hal tersebut sama dengan anggapan saya dan sama dengan apa yang saya rasakan.
Sore itu saya bermaksud ke kampus untuk sebuah keperluan. Mencari tempat dengan sinyal terkuat dan posisi yang strategis. Tapi, tidak seperti biasa, hari itu sangat aneh menurut saya. Dan saya pun akhirnya membuat sebuah kesimpulan bahwa saya sedang tidak beruntung pada hari itu. Dimulai dengan ketika saya sedang menikmati aktivitas ngenet saya di tempat favorit saya, tentunya. Tiba-tiba, salah seorang Satpam datang menghampiri saya.
Mbak, jangan ngenet di sini. Kalo mo ngenet, di bawah aja. Di sini sering ada kehilangan soalnya,” kata bapak Satpam itu.
Dengan langkah berat, daripada muncul keributan saya menuruti perkataan Satpam itu. Saya melesat ke dalam lift dan akhirnya saya ngenet di depan gedung megah itu. Namun ternyata saya *lagi-lagi* kurang beruntung. Di saat-saat terakhir download-an saya, baterai laptop saya sekarat dan akhirnya laptop saya stand by. Ditambah lagi, di sekitar situ tidak ada sambungan untuk menge-charge. Dengan berat hati saya meninggalkan tempat itu.
Detik-detik menjelang azan maghrib. Saya berdiri dan tiba-tiba saya merasa ada yang aneh dengan kaki saya. Astaghfirullahaladziim, sepatu saya jebol satu. Saya mencoba berjalan pelan-pelan. Dan sepertinya sepatu saya sudah tidak kuat untuk menanggung gesekan dengan aspal. Dengan berat hati, saya pun melepas kedua sepatu itu. Rasa lucu dan sedih bercampur menjadi satu. Saya tidak sempat menangis. Lagipula, menangis di tempat seperti itu sangat memalukan. Apalagi ada dua orang yang juga sedang berjalan melewati jalan itu. Waktu itu saya sempat berbicara sendiri. Sepertinya kedua orang itu melihat kegaduhan yang saya buat sendiri saking hebohnya karena baru pertama kali saya mengalami kejadian seperti itu. Saya lalu menelpon salah seorang teman saya dan menceritakan kejadian yang saya alami. Pada waktu itu heboh sekali. Aah, jadi malu rasanya jika diingat-ingat lagi.
Kesalahan saya waktu itu adalah saya tidak bersabar sejak awal. Memang, saya tidak marah atau uring-uringan. Tapi, kehebohan yang saya buat sendiri menunjukkan bahwa saya tidak bersabar. Padahal, konsep sabar itu dimulai dari awal sampai akhir. Pahalanya akan berbeda antara orang yang bersabar terus-menerus dengan orang yang sabarnya setengah-setengah. Dan akhirnya saya menyimpulkan bahwa waktu itu saya tidak sabar dan mungkin saja keikhlasan saya berkurang.
Akhirnya, saya pulang dengan menenteng sepatu saya dan hanya memakai kaos kaki. Saya pun jadi bahan tertawaan orang-orang di jalan karena melihat penampilan saya, termasuk Satpam di gerbang yang saya lewati pada saat akan keluar kampus. Namun, saya dapat memetik pelajaran berharga dari hari itu. Kejadian itu bisa saja menimpa saya lagi apalagi kalau ternyata sebelumnya Allah menyatakan saya belum lulus ujian kesabaran.
Semoga ini menjadi pelajaran bagi saya dan mungkin saja ada diantara kita yang pernah mengalami kejadian seperti ini. Seorang Muslim tidak akan mengenal hari kesialan. Kejadian yang menimpa kita di luar kekuasaan kita merupakan ketetapan Allah, namun bukan berarti Allah otoriter pada kita, karena ada hal-hal yang bisa kita pilih dan kita usahakan sendiri. Terkait hal yang menimpa kita di luar kekuasaan kita, disitulah harus diletakkan kesabaran dan keyakinan penuh bahwa kita adalah seorang Hamba yang mau tidak mau harus mematuhi Sang Pencipta yakni Allah swt.
Wallahu 'alam bi ash shawaab.