Beberapa
waktu yang lalu, saya sempat salah paham terhadap sebuah kejadian yang menimpa
saya. Tulisan ini hanyalah renungan. Mungkin saja, di dunia ini ada orang lain
yang pernah merasakan dan menganggap hal tersebut sama dengan anggapan saya dan
sama dengan apa yang saya rasakan.
Sore
itu saya bermaksud ke kampus untuk sebuah keperluan. Mencari tempat dengan
sinyal terkuat dan posisi yang strategis. Tapi, tidak seperti biasa, hari itu
sangat aneh menurut saya. Dan saya pun akhirnya membuat sebuah kesimpulan bahwa
saya sedang tidak beruntung pada hari itu. Dimulai dengan ketika saya sedang
menikmati aktivitas ngenet saya di tempat favorit saya, tentunya. Tiba-tiba,
salah seorang Satpam datang menghampiri saya.
“Mbak, jangan ngenet di
sini. Kalo mo ngenet, di bawah aja. Di sini sering ada kehilangan soalnya,”
kata bapak Satpam itu.
Dengan
langkah berat, daripada muncul keributan saya menuruti perkataan Satpam itu.
Saya melesat ke dalam lift dan akhirnya saya ngenet di depan gedung megah itu. Namun
ternyata saya *lagi-lagi* kurang beruntung. Di saat-saat terakhir download-an
saya, baterai laptop saya sekarat dan akhirnya laptop saya stand by.
Ditambah lagi, di sekitar situ tidak ada sambungan untuk menge-charge.
Dengan berat hati saya meninggalkan tempat itu.
Detik-detik
menjelang azan maghrib. Saya berdiri dan tiba-tiba saya merasa ada yang aneh
dengan kaki saya. Astaghfirullahaladziim, sepatu saya jebol satu. Saya mencoba berjalan
pelan-pelan. Dan sepertinya sepatu saya sudah tidak kuat untuk menanggung
gesekan dengan aspal. Dengan berat hati, saya pun melepas kedua sepatu itu. Rasa
lucu dan sedih bercampur menjadi satu. Saya tidak sempat menangis. Lagipula,
menangis di tempat seperti itu sangat memalukan. Apalagi ada dua orang yang
juga sedang berjalan melewati jalan itu. Waktu itu saya sempat berbicara
sendiri. Sepertinya kedua orang itu melihat kegaduhan yang saya buat sendiri
saking hebohnya karena baru pertama kali saya mengalami kejadian seperti itu. Saya
lalu menelpon salah seorang teman saya dan menceritakan kejadian yang saya
alami. Pada waktu itu heboh sekali. Aah, jadi malu rasanya jika diingat-ingat
lagi.
Kesalahan
saya waktu itu adalah saya tidak bersabar sejak awal. Memang, saya tidak marah
atau uring-uringan. Tapi, kehebohan yang saya buat sendiri menunjukkan bahwa
saya tidak bersabar. Padahal, konsep sabar itu dimulai dari awal sampai akhir.
Pahalanya akan berbeda antara orang yang bersabar terus-menerus dengan orang
yang sabarnya setengah-setengah. Dan akhirnya saya menyimpulkan bahwa waktu itu
saya tidak sabar dan mungkin saja keikhlasan saya berkurang.
Akhirnya,
saya pulang dengan menenteng sepatu saya dan hanya memakai kaos kaki. Saya pun
jadi bahan tertawaan orang-orang di jalan karena melihat penampilan saya,
termasuk Satpam di gerbang yang saya lewati pada saat akan keluar kampus. Namun,
saya dapat memetik pelajaran berharga dari hari itu. Kejadian itu bisa saja
menimpa saya lagi apalagi kalau ternyata sebelumnya Allah menyatakan saya belum
lulus ujian kesabaran.
Semoga ini menjadi pelajaran bagi saya dan mungkin saja ada diantara kita yang pernah mengalami kejadian seperti ini. Seorang Muslim tidak akan mengenal hari kesialan. Kejadian yang menimpa kita di luar kekuasaan kita merupakan ketetapan Allah, namun bukan berarti Allah otoriter pada kita, karena ada hal-hal yang bisa kita pilih dan kita usahakan sendiri. Terkait hal yang menimpa kita di luar kekuasaan kita, disitulah harus diletakkan kesabaran dan keyakinan penuh bahwa kita adalah seorang Hamba yang mau tidak mau harus mematuhi Sang Pencipta yakni Allah swt.
Wallahu 'alam bi ash shawaab.