Tuesday, March 27, 2012

Meninggalkan yang Tidak Berguna

“Imam Malik berkata, “Seseorang hanya menjadi baik setelah meninggalkan apa yg tidak berguna baginya, dan sibuk dng apa yg berguna baginya. Jika dia telah melakukannya, pasti Allah akan membukakan hatinya.”
— (as-Syarbashi, al-Aimmah al-Arba’ah, 98)

Perangkap Setan

Sahabat Abu Hurairah ra. pernah diamanati Baginda Nabi saw. untuk menjaga gandum hasil zakat. Tiba-tiba pada suatu malam ada lelaki yang mencuri gandum itu. Namun, dia berhasil ditangkap oleh Abu Hurairah ra. “Kamu akan kubawa kepada Nabi saw.,” kata Abu Hurairah ra. kepada pencuri itu.

Pencuri itu memelas. Dengan bujuk-rayunya, dia mengatakan, sudah seminggu anak dan istrinya belum makan. Abu Hurairah ra. akhirnya melepaskan pencuri itu, dan meminta dia agar tidak mencuri lagi.
Esoknya, sehabis shalat Subuh, sebelum sempat melapor, Abu Hurairah ra. justru ditanya oleh Nabi saw. “Apa yang kamu lakukan terhadap orang yang kamu tangkap tadi malam?”
Abu Hurairah ra. kemudian menjelaskan apa yang terjadi. “Ingat, nanti malam ia akan datang lagi,” kata Nabi saw.
Benar saja, malam kedua pencuri itu datang lagi. Setelah mengambil gandum, ia kembali ditangkap oleh Abu Hurairah ra. Ia memelas lagi. Kembali, Abu Hurairah ra. merasa iba sehingga pencuri itu dilepaskan lagi.
Esoknya, Nabi saw. bertanya lagi kepada Abu Hurairah ra., seperti kemarin. Abu Hurairah ra. menjawab seperti jawaban sebelumnya. Nabi saw. mengingatkan lagi, pencuri itu nanti malam akan datang lagi. Abu Hurairah ra. bergumam, “Nanti malam, dia tidak akan aku lepaskan lagi!”
Benar saja, pencuri itu datang untuk yang ketiga kalinya dan kembali mencuri gandum. Abu Hurairah ra. kembali menangkap dia. “Sekarang, aku tidak mungkin melepaskan kamu. Kamu harus aku bawa kepada Nabi saw.!”
Pencuri itu sangat cerdik. Kepada Abu Hurairah ra., ia mengatakan, “Saya siap dibawa kepada Nabi saw, tetapi bolehkah saya berbicara, wahai Abu Hurairah?”
Abu Hurairah ra. berkata, “Mau bicara apa?”
Si pencuri itu berucap, “Abu Hurairah, maukah kamu saya beri amalan zikir?”
“Tentu, amalan zikir apakah itu?” jawab Abu Hurairah ra. penasaran.
Pencuri itu berkata, “Bacalah ayat kursi sebelum engkau tidur, pasti Allah akan menjaga dirimu dari godaan setan.”
Mendengar kata-kata pencuri itu, Abu Hurairah ra. terkesima. Akhirnya, tanpa ragu, Abu Hurairah ra. kembali melepaskan pencuri itu. Esoknya, Nabi saw. bertanya seperti pertanyaan yang kemarin. Abu Hurairah ra. pun menjawab, “Pencuri tadi malam itu memberi amalan zikir kepada saya. Saya disuruh membaca ayat kursi sebelum tidur malam. Insya Allah, Allah akan menjaga saya dari gangguan setan,” jawab Abu Hurairah ra.
Nabi saw. berkata, “Apa yang dia katakan itu benar, tetapi dia itu bohong. “Tahukah kamu, wahai Abu Hurairah, siapa pencuri itu? Dia adalah setan,” kata Nabi saw.
Menurut Ali Mustafa Yaqub, kisah yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari itu memberikan pelajaran bagi kita. Pertama: setan dari jenis jin dapat menjelma menjadi manusia. Kedua: setan boleh jadi menyuruh manusia untuk beribadah, membaca al-Quran, shalat, puasa, haji dan sebagainya. Abu Hurairah telah diluruskan oleh Nabi saw. agar ia tidak membaca ayat kursi karena mengikuti perintah setan, tetapi mengikuti perintah Nabi saw. Sekiranya seseorang beribadah dengan mengikuti perintah setan dan bukan perintah Allah, maka dia telah beribadah kepada setan (Republika.co.id, 21/6/2011).
*****
Setan, menurut sebagian ulama, berasal dari kata syathana; maknanya adalah ba’uda, yakni jauh. Maksudnya, setan adalah sosok yang jauh dari segala kebajikan (Ibn Katsir, I/115, Az-Zamakhsyari, I/39). Setan juga berarti sosok yang jauh dan berpaling dari kebenaran. Karena itu, siapa saja yang berpaling dan menentang (kebenaran), baik dari golongan jin ataupun manusia, adalah setan (Al-Qurthubi, I/90, al-Alusi, I/166).
Allah SWT telah memperingatkan bahwa setan adalah musuh yang nyata (‘aduww[un] mubin) bagi manusia (QS al-Baqarah [2]: 168); permusuhannya terhadap manusia benar-benar ‘terang-benderang’ (Lihat: Al-Baqa’i, I/240, Ibn Katsir, III/351). Karena itu, Allah SWT pun telah memperingatkan agar manusia benar-benar memperlakukan setan sebagai musuh (QS Fathir [35]: 6).
Persoalannya, setan amatlah cerdik, sebagaimana terungkap dalam kisah di atas. Setan boleh jadi tidak menghalang-halangi manusia dari ibadah kepada Allah SWT dan amalan yang baik, tetapi setan menyimpangkan niat manusia beribadah atau beramal baik sehingga bukan karena Allah SWT. Boleh jadi pula setan menjadikan manusia ikhlas beramal karena Allah SWT, tetapi setan berupaya agar manusia beramal tidak sesuai dengan tuntunan Rasul-Nya.
Di dalam bukunya yang amat terkenal, Talbis Iblis (Tipudaya Iblis), Ibn al-Jauzi secara panjang lebar mengungkapkan bagaimana sepak terjang setan dalam memperdaya manusia; termasuk di dalamnya para ahli ibadah, para pembaca al-Quran, para ahli hadis, para ulama fikih, juga para pengemban dakwah.
Menurut Ibn al-Jauzi, setidaknya ada enam langkah setan dalam menjerat manusia. Pertama: berusaha menjadikan manusia kafir atau musyrik. Kedua: Jika gagal, berusaha menjadikan mereka yang Muslim sebagai pelaku bid’ah. Ketiga: Jika gagal, berusaha menjadikan mereka tukang maksiat/pelaku dosa besar. Keempat: Jika gagal, berusaha agar mereka banyak melakukan dosa-dosa kecil. Kelima: Jika gagal,berusaha menyibukkanmereka dalam masalah-masalah yang mubah (yang tidak bermanfaat dan tidak berpahala).Keenam:Jika gagal juga, berusaha menyibukkan mereka dengan urusan-urusan sederhana sehingga mereka melupakan berbagai urusan yang lebih utama; misalnya menyibukkan diri dengan amalan sunnah, tetapi meninggalkan amalan wajib.
Semua langkah setan itu, menurut Ibn al-Jauzi, diikuti dengan berbagai cara yang sering amat halus dan lembut sehingga tidak banyak disadari oleh manusia.
Perangkap setan ini juga sering tak disadari oleh banyak pengemban dakwah. Jika dakwah mulai tak semangat, halaqah sering telat, infak suka terlambat, salat malam banyak terlewat, membaca al-Quran mulai bosan, menuntut ilmu terasa jemu, dst; maka ingatlah bahwa saat itu berarti kita sudah terkena perangkap setan. Demikian pula jika kita mulai sering disibukkan oleh urusan ma’isyah hingga sering melalaikan urusan dakwah; atau kita telah merasa menjadi pengemban dakwah hanya karena sudah resmi menjadi bagian dari harakah dakwah, padahal kegiatan setiap minggunya cuma halaqah dan membaca buletin dakwah. Sadarlah, bahwa saat demikian sesungguhnya kita pun sudah berada dalam perangkap setan!
Wama tawfiqi illa bilLah. [Arief B. Iskandar]

http://hizbut-tahrir.or.id/2012/03/05/perangkap-setan/

Friday, March 23, 2012

Friday's Note



Karena hari ini hari Jumat, saya jadi teringat surat yang beberapa waktu saya hafal bersama seorang adik di kontrakan saya. Ayat ini juga sekalian menjadi pengingat bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa dan Maha Mengetahui.

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
1. Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
2. Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,
3. dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. 4. Demikianlah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah mempunyai karunia yang besar.
5. Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.
6. Katakanlah: "Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu mendakwakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar."
7. Mereka tiada akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan kejahatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang zalim.
8. Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." 9. Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
10. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. 11. Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: "Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan", dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki.
(TQS. Al Jumu'ah [62]: 1-11)


Starting from Finish

Akhirnya, bisa nulis lagi setelah sekian lama menelantarkan blog ini. Entah sengaja atau tidak, meski blog ini hanyalah sarana untuk menyumbangkan isi pikiran agar isinya tidak mengendap hanya menjadi sekedar pemahaman untuk diri sendiri *baca: eogis* Seseorang pernah berkata, kita tidak selalu bisa melakukan sesuatu yang besar. Tetapi, kita bisa melakukan sesuatu yang kecil dengan cinta yang besar. Seperti adanya blog ini. Dia ada karena kecintaan saya yang besar terhadap Islam dan kaum Muslimin. Walaupun hanya dengan kata-kata sederhana yang kadang membingungkan, itulah bukti cinta saya. Karena cinta, sadar atau tidak, akan selalu meminta pembuktian. Jika ia sudah merasuk ke dalam jiwa maka ia akan meminta semua yang ada dalam diri. Maka inilah motivasi saya untuk terus menghidupkan blog ini hingga nanti nama saya terkubur menjadi sejarah.


~Nahdah~

Tuesday, January 10, 2012

Twet Felix Tentang #Galau



Postingan pak Felix lagi yang mau saya shared hari ini. Let's cekidot
Kegembiraan adalah pintunya kesedihan, dan kesedihan adalah pintunya kebahagiaan
Nggak ada yang selama-lamanya.. :)
Ketika Allah swt memberikan 1 kesulitan maka Dia menemaninya dengan 2 kemudahan :)
Fa inna ma’a al-usri yusraa, inna ma’a al-usri yusraa

Masalah besarnya bukan seberapa besar dosa kita,
Tapi seberapa besar taubat kita kepada Allah swt :)
Berharap kebaikan dari-Nya adalah wajib,
Sedang berputus asa dari rahmat-Nya adalah haram :D
Maka ketika lapang, bagikanlah kesenangan pada orang lain
Mudah-mudahan ada pula yang berbagi senang ketika kita dalam keadaan susah :D
Namun, ketika galau, lebih baik dipendam sendiri dan diadukan kepada Allah,
Khawatir bila diadukan pada manusia akan menambah beban mereka
Semua manusia pasti punya masalah yg sama berat,
Hanya sebagian mengadukannya pada manusia dan sebagian lagi mengadukannya pada Allah :)
Yang layak digalaukan bukan sesuatu yg akan pudar seiring waktu,
Lebih pantas menggalau akan hari yg lebih panjang, masa yg lebih lama :)
Sebagaimana seorang tukang parkir tak menggalaukan mobil yang datang dan pergi,
 
Karena dia sadar itu bukan miliknya :)
Begitupun manusia, merasa kehilangan padahal ia tidak pernah memiliki apapun,
Kecuali yang dipinjamkan Allah kepadanya
Kepunyaan Allah-lah seluruh isi langit dan bumi, dan kepada-Nya lah segala sesuatu menyembah :)
Apa yang kita miliki?
Walaupun begitu, memang manusia diciptakan dalam keadaan rapuh, hanya 1 cara untuk menjadi kuat
Mendekatlah pada Allah :D


Felix Siauw

Monday, January 09, 2012

F.A.I.T.H.


“It’s not about fate, it’s not about destiny. But it’s about choice”.
Pasti pada bingung. Apa maksudnya nih Author nulis kata-kata aneh kayak gitu? Eittt, jangan bingung dulu. Pertanyaan kalian akan terjawab seiring dengan waktu *mulai kumat gejenya* eh maksudnya seiring dengan membaca tulisan ini, hehe.
Di sub-bab My Story yang sebelumnya kita bicara tentang 3 pertanyaan yang pastinya pernah terbersit dalam benak kita. Masih ingat? Ya udah, kalo lupa diingatkan lagi. Tiga pertanyaan itu adalah tiga pertanyaan mendasar (uqdatul kubra) dalam diri manusia yang merupakan akar dari segala pertanyaan yang nantinya akan muncul seiring dengan terjawabnya tiga pertanyaan tadi. Bingung? Ya udah, mari kita bahas J
Tiga pertanyaan itu adalah, dari mana kita berasal; untuk apa kita hidup di dunia; dan mau kemana kita setelah mati. Ketika kita bisa menjawab tiga pertanyaan ini, maka segala pertanyaan lain dalam hidup kita akan terjawab dengan sendirinya. Kenapa? Ya, seperti yang Author bilang tadi, tiga pertanyaan ini adalah pertanyaan-pertanyaan mendasar (uqdatul kubra). Dari sini juga manusia akan menemukan sesuatu yang dinamakan keyakinan atau faith atau bahasa kerennya aqidah. Semuanya bukan takdir, semuanya bukan nasib, tapi merupakan pilihan. Kenapa? *lagi-lagi tanya kenapa* Karena kita semua bebas menjawab sesuai dengan apa yang kita pahami. Kita semua bebas menjawab sejauh mana akal kita bekerja untuk menjawabnya.
Terkait dengan jawabannya, pertanyaan ini punya 3 tipe jawaban. Tapi, sebelum itu mari kita coba jawab dulu. Setelah itu, kita cocokin jawaban kita. Termasuk tipe manakah kita? *hoho, udah kayak main teka-teki* Ok, langsung ke pertanyaannya *backsound menegangkan*
Dari mana kita berasal?
Mungkin, dulu ketika kita masih kecil kita selalu beranggapan bahwa kita berasal dari orang tua kita. Trus, orang tua kita berasal dari kakek-nenek kita, terus kakek-nenek kita berasal dari buyut kita, dan seterusnya sampai kita sendiri capek. Hingga akhirnya kita mikir, kayaknya semua itu gak ada dengan sendirinya. Buktinya? Alam semesta ini sangat luar biasa. Ada gunung, langit, sungai, awan. Kalo malam ada bulan dan bintang, kalo siang ada matahari. Semua teratur dan gak ada cacat sama sekali. Diri kita sendiri pun seperti itu. Bisa berdiri dengan dua kaki, punya mata yang bisa mengidentifikasi apa saja, punya telinga yang bisa mendengar suara jenis apapun dan banyak lagi. Hmm, berarti semua ini ada yang nyiptain. Gak mungkin ada dengan sendirinya. Kalo gitu, jawaban untuk pertanyaan pertama, kita berasal dari Sang Pencipta. Dan ternyata Pencipta itu gak hanya menciptakan. Tapi, Dia juga mengatur. Gak mungkin semua ini bisa berjalan tanpa ada pengaturan dari Dia. Iya apa iya?
Untuk apa kita hidup?
Kalo jawaban untuk pertanyaan ini pasti akan bermacam-macam. Ada yang mau nyari kebahagiaan, ada yang mau nyari kesejahteraan, dan lain sebagainya. Wajarlah, namanya juga manusia. Itu hanyalah perwujudan dari naluri mereka. Mana ada sih manusia yang pengen hidup susah? Gak ada. Semuanya nyari kebahagiaan. Cuma, standarnya aja yang beda-beda. Maka dari itu, jawaban untuk pertanyaan kedua ini juga beda.
Nah, kalo kita pikir-pikir lagi. Di awal kan kita udah ngejawab kalo kita itu adalah makhluk. Kenapa? Karena kita diciptakan. Dan ternyata kita tidak hanya diciptakan tapi kita juga diatur. Itu konsekuensi kita sebagai seorang makhluk. Mau gak mau, suka gak suka, kita harus siap diatur. Karena, Pencipta kita gak Cuma nyiptain tapi juga ngatur. Baik banget kan? Kita gak perlu capek-capek mikirin gimana kita harus ngatur diri kita. Kalo gitu, kita bisa ngambil kesimpulan dong bahwa kita hidup di dunia ini untuk diatur. Dan itu berarti kita harus menjalankan aturan dari Pencipta tadi dengan atau tanpa dipaksa. Trus, gimana dengan kebahagiaan dan kesejahteraan serta ketentraman? Kalo soal itu, kita tidak perlu khawatir. Semua kan udah diatur. Otomatis semua udah ada standarnya. Dan kalo pake standar itu, apa yang kita cita-citakan sebagai manusia pasti akan tercapai dengan sendirinya. Kenapa? Ya, karena standarnya jelas, dari Pencipta yang mengetahui segala seluk-beluk kita. Gak percaya? Silahkan diuji.
Mau kemana kita setelah mati?
Setelah kehidupan pasti ada kematian. Itulah hukum alam. Semua pasti percaya kan bakalan jadi penghuni kuburan? Oh, of course. Manusia itu sebenarnya adalah calon mayat. Pastinya. Semakin bertambahnya umur, sebenarnya kita makin dekat dengan sebuah gerbang bernama kematian *menyeramkan banget kata-katanya. Tapi, ini emang fakta. So, gak perlu takut* Kebangetan kalo ada yang percaya dia gak bakal mati. Berarti dia udah pantes jadi penghuni RSJ. Tapi, pembahasan kita bukan itu *kok malah jadi ngelantur kemana-mana ya? Wah, Authornya ngantuk nih*
Kita semua pasti sering lihat. Setiap hari ada yang lahir, tapi setiap hari pula ada yang meninggal. Begitu selalu. Lalu, pertanyaannya mau kemana kita setelah kehidupan ini? Apakah sekedar mati trus menyatu dengan tanah jadi jasad renik dan akhirnya jadi bahan bakar fosil? Kayaknya gak deh. Ya emang gak. Kenapa? Coba lihat lagi, jawaban kita sebelumnya. Yang pertama, kita ini diciptakan dan gak hanya diciptakan. Kita juga diatur. Kedua, kita hidup untuk diatur dan menjalankan peraturan dari Pencipta. Trus, ternyata kita punya time limit di dunia ini. Makanya, kita harus serius untuk diatur. Oh, kalo gitu nanti kita gak hanya sekedar mati dong? Yup, bener banget. Karena kita berasal dari Pencipta, berarti ketika kita meninggal kita akan kembali kepadaNya. Trus, apa kita Cuma dikembalikan? Pastinya gak. Kenapa? *tuh, pasti banyak kata kenapa* Karena kita makhluk yang diatur. Berarti kita kudu bertanggung jawab sama Pencipta sejauh mana kita tunduk sama aturanNya. Jadi, jawaban untuk pertanyaan ketiga adalah kita akan dikembalikan kepada Pencipta kita untuk mempertanggung jawabkan semua yang kita lakukan di dunia. Setuju kan? *harus setuju*
Nah, mari kita lihat 3 tipe jawaban dari 3 pertanyaan mendasar tadi.
Sosialisme-Komunisme
Paham Sosialisme-Komunisme ini punya jawaban terkait 3 pertanyaan tadi. Bahwasanya kita berasal dari materi; kita hidup untuk mencari kebahagiaan dengan standar materi alias standar kita sendiri. Suka-suka kita mau memaknai kebahagiaan itu seperti apa; dan setelah kehidupan ini kita akan menjadi materi. Whoa, fantastis kan? Ya, fantastis sesatnya karena paham  ini gak percaya dengan adanya Pencipta yang mengatur kehidupan. Ia hanya percaya sama apa yang bisa diinderanya.
Kapitalisme-Sekularisme
Kalo paham ini jawabannya unik. Jawabannya adalah bahwa kita berasal dari Pencipta; tapi kita hidup untuk mencari kebahagiaan dengan standar materi. Sama kayak paham Soskom. Jadi, menurut paham ini, Pencipta itu gak usah ikut campur. Yang menjalani kehidupan kan dia sendiri. Ngapain Pencipta ikut campur? Gak ada urusan Dia dengan dunia ini. Urusan Pencipta itu nanti. Dan kemana setelah hidup ini jawabannya adalah kembali kepada Pencipta tapi Cuma kembali aja. Paham ini tuh lupa tujuan dia diciptakan. Ya iyalah, orang jawabannya aja ngawur. Berani-beraninya dia menggugat otoritas Pencipta untuk mengatur kehidupan. Emang dia siapa?
Islam
Nah, kalo yang ini jawabannya extraordinary. Islam menjawab bahwasanya kita berasal dari Pencipta. Kenapa? Karena, kita itu lemah, terbatas dan selalu butuh yang lain. Gak percaya? Buktiin aja sendiri. Trus, siapa Pencipta itu? Pencipta itu adalah Allah swt. (QS. Al-Araf [7] : 54). Karena kita adalah makhluk yang diciptakan maka kita hidup di dunia ini adalah untuk taat sama Pencipta kita yakni Allah swt. Apa bentuk ketaatan kita? Yaitu dengan beribadah kepadaNya. Gak hanya nyembah lho ya, tapi menjalankan semua aturan dari Allah (QS. Adz Dzariyaat [51] : 56). Terus, setelah kehidupan ini kita akan dikembalikan kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita selama di dunia, apakah kita benar-benar beribadah dengan ketaatan yang sempurna ataukah tidak dan ada balasan untuk kita (QS. al Anbiya [21] : 35).
Nah, itu tadi 3 tipe jawabannya. Semua jauh beda kan? Kira-kira, jawaban kita yang tadi mirip dengan tipe yang mana? Silahkan jawab sendiri. Sampai ketemu di sub-bab selanjutnya ^_^
To be continued..

Syndroma Ujian


Hmmm... lagi musim ujian nih. Yup, kalo musim ujian gini, pasti segala sesuatunya jadi beda. Ya iyalah, soalnya kalo lagi musim ujian, semua extra keras. Mulai dari belajar yang dikasih waktu extra dan tidur jadi dikurangin (hi...hi...hi jadi ngga’ tidur siang deh), waktu sekolah juga dikurangin (karena datang ke sekolah kan Cuma ujian doank). Pokoknya, musim ujian itu punya magnet tersendiri dan hanya orang-orang yang jeli yang bisa ngeliat fenomena yang gimana... gitu di musim ini. Nah, ngomong-ngomong soal ujian, ibaratnya kalo musim hujan virus atau syndrome influenza, nah kalo musim ujian ini ada yang namanya Syndroma Ujian. Mau tau apa itu? Ok, baca aja terus... Syndroma ujian ini adalah “NYONTEK”. Lho, kok bisa? Ya iya bisa aja. Syndrome ini juga nular lho... Pada awalnya, banyak yang daya tahannya masih kuat. Lama-lama, karena terdesak kondisi lemah juga dan kena deh sama syndrome ini. Dan syndrome ini terbagi lagi dalam beberapa cabang yang lain. Ada nih yang nyonteknya sama teman sebelah, ada juga yang bikin contekan atau bahasa kerennya Pelampung (emang kapal mo tenggelam, pake pelampung segala???) dan ada juga yang sampe lihat buku. Wah, hebring bin spektakuler nih kalo gini. Dan faktanya, banyak juga lho orang pinter yang ngelakuin segala cara biar dapet nilai bagus. Ck...ck...ck... gimana negara bisa maju, kalo warganya nyontek semua? Apalagi, yang ngelakuin ini kebanyakan dari young generation. Bahaya banget nih, kalo budaya gini dilestarikan. Padahal, kita kan udah dikasih kesempatan belajar. Kalo ada yang bilang, “namanya juga usaha”. Alah, yang begituan mah bukan usaha, tapi kejahatan. Masa, teman yang lain belajar, mereka yang enak aja tinggal nyontek sana-sini. Emang gampang apa belajar sampe ngorbanin segalanya? Ngga enak tau. Makanya, kalo pengen bisa ngejawab semua belajar donk, jangan nyontek aja maunya. Dan semua kudu tau, kalo Allah ngga bakalan pernah ngeliat hasil, tapi usaha kita untuk meraih hasil itu, apakah usaha kita bener atau sebaliknya. Dan nyontek itu bukanlah usaha yang bener. Emang, di dunia kita dapat nilai bagus, tapi ternyata kita sudah berdosa, karena Allah ngga pernah nyuruh kita untuk menyontek. Nyontek itu sama dengan nyuri, nyuri hasil keringat dan jerih payah orang lain. Dan kita kudu sadar dari sekarang, daripada nanti kita nyesel di akhirat sono. Sobat, nyontek itu budaya dan syndrome yang harus dimusnahkan dan disembuhkan dari kehidupan kita. Kita semua kan dikasih potensi yang sama. Cuma, yang beda adalah cara kita masing-masing memanfaatkannya. Lagian, apa susahnya sih belajar? Kalo belajar yang bener, insya Allah pasti bisa jawab. Kecuali, emang kita udah usaha terus Allah berkehendak yang lain, nah itu baru namanya takdir. Tapi, selagi kita bisa ya kudu dilakuin. Lagipula, orang jujur tuh bakalan dapat banyak kebaikan daripada bo’ong. Kita tuh kudu jujur sama diri sendiri. Sportif dong. Kalo ngga mampu, ya udah toh kita udah usaha kok dan Allah yang bakalan nentuin kita hasil yang bakalan kita dapat. Jangan sampe, kita tuh kelihatan pinter hanya diatas kertas hasil belajar, tapi kenyataannya NOL. Kita ngga bisa apa-apa. Pilih mana? Dan sekali lagi “SAY NO TO CHEAT...!!!” Dan belajar keras adalah pilihan satu-satunya untuk nyembuhin syndrome ini. Selain itu, kita juga kudu berdoa sama Allah biar dikasih kekuatan untuk menahan godaan buat nyontek. Semangat untuk terus berkarya biar kita jadi generasi yang maju dan ngga pernah kehabisan ide. Be creative, ok???