Sunday, June 15, 2014

Tomodachi*

Waktu kecil saya pernah dikasihtau, kalo misalnya ngeliat jam yang angka jam sama menitnya sama, berarti ada orang yang lagi kangen sama kita. Waktu itu sih saya cuek aja. Karena saya jarang ngeliat jam yang angka jam sama menitnya bertepatan. Tapi, beberapa waktu belakangan ini saya sering sekali melihat angka jam dan menitnya sama. Entahlah, mungkin kebetulan. Saya juga gak mau terlalu percaya. Kalo pun ada yang kangen sama saya, saya juga gak tau siapa. Tapi, kemarin saya benar-benar dapat kejutan. Kejutan kecil yang tetap saja sukses membuat saya senyum sendiri dan berbunga-bunga *eaaaaaa
          Kejutan-kejutan kecil itu datang dari sahabat-sahabat saya sewaktu SMA. Sahabat seperjuangan dalam mengarungi dan belajar tentang arti hidup yang sebenarnya. Dan saya baru sadar bahwa sudah hampir 4 tahun kami berpisah. Dipisahkan oleh cita-cita yang masing-masing kami kejar. Namun, ada cita-cita yang lebih besar dari itu, yakni cita-cita meraih ridho Allah SWT dengan penerapan SyariahNya secara kaffah dalam naungan Khilafah.
          Kejutan pertama datang dari sahabat saya sejak SMP. Fitri yang sering saya sebut Bu Dokter karena memang dia calon dokter. Saya masih ingat pertama kali kami bertemu ketika akan berangkat untuk daftar ulang masuk SMP. Kebetulan kami satu kelompok MOS dan sekelas sampai kelas 3 SMP. Karena itulah kami selalu bersama meskipun sebenarnya dia sudah punya sahabat dekat sejak kelas 1 SD. Kenangan tak terlupakan adalah saat kami pertama kali naik eskalator di mall. Waktu itu saking bahagianya ketika toko buku terbesar di kota kami baru saja dibuka. Sejak saat itu kami rajin kesana meskipun hanya sekedar melihat-lihat. Tidak hanya itu, kami selalu menabung untuk membelikan hadiah bagi teman-teman yang lain. Dia juga sering sekali mengajak saya pergi dan mentraktir saya es krim. Dia juga adalah siswa terpintar saat itu, khususnya Matematika. Sayangnya dia tidak terlalu bisa menjelaskan sehingga sayalah yang menjadi juru bicaranya untuk menjelaskan ke teman-teman yang lain. Tapi, Alhamdulillah sekarang sudah berbeda. Karena sekarang dia adalah seorang pengemban dakwah. Seorang dokter umat yang pastinya harus cerewet.
Dan saat SMA pun kami juga sekelas di kelas XI dan XII. Di akhir kelas XII kami pernah bermimpi untuk berjalan bersama di atas koridor Fakultas Kedokteran namun ternyata Allah memberi dia kesempatan dan saya berjalan di koridor fakultas lain. Dan diantara sekian banyak orang hanya dia yang selalu menelfon saya bahkan berjam-jam. Meski hanya sekedar bercerita tentang apa yang dia pikirkan. Satu lagi, dulu dia sangat pintar menulis puisi. Seberapapun aku mencoba membuat yang sebagus puisinya, tetap saja tak bisa menyaingi puisi buatannya.
Kemarin dia tiba-tiba bilang bahwa dia sangat merindukan saya. Saya bahkan tidak bisa membayangkan kenapa tiba-tiba dia lebay seperti itu. Sepertinya dia belum tahu bahwa saya adalah orang yang paling tidak bisa mengungkapkan perasaan dengan cara yang diharapkan orang lain. Saya hanya tersenyum sendiri. Semoga saja kemarin dia sedang membayangkan saya sedang tersenyum padanya. Makasih ya, Bu Dokter. Makasih buat kata-katanya. Makasih karena sudah membuat diri ini merasa berarti untukmu. Jazakillah khair. Uhibbuki fillah, ukhty <3
Kejutan kedua datang dari sahabat saya yang lain. Seperti Fitri, dulu dia selalu bisa saya andalkan. Meskipun awalnya kami tidak terlalu akrab. Nunung, sahabat Fitri sejak kelas 1 SD hingga SMA. Bahkan sampai sekarang. Gadis pendiam tapi memendam sejuta bakat. Dia penuh percaya diri dan selalu melakukan yang terbaik. Dia akan selalu mempertahankan apa yang menurutnya benar. Makanya, dia bisa jadi debater yang keren. Jika bukan karena dia, saya tidak akan pernah ikut kompetensi debat. Selama lomba debat Bahasa Inggris pasti kami selalu jadi partner. Dan di tahun terakhir kami di SMA, kami akhirnya berhasil menjadi runner up lomba debat yang sudah kami ikuti sejak kelas XI dan selalu hanya bisa sampai semi final.
Setelah sekian lama lose contact, kemarin malam dia menelfon saya. Rasanya kembali bernostalgia ketika di SMA. Dan dia belum berubah. Tetap Nunung yang percaya diri, optimis dan keras kepala. Dia benar-benar tipe O. Hanya saja, sekarang dia sudah lebih cerewet dari yang dulu. Tapi, dia masih kritis seperti dulu. Makasih ya Nung. Makasih karena sudah telfon dan masih ingat sama aku. Aku harap suatu saat kamu bisa kembali dalam barisan perjuangan ini sebagai Nunung, sahabatku. Love you in Allah as always <3
Tidak lupa 3 akhwat super yang kupanggil Aoi, Chairo dan Midori. Sahabat sewaktu SMA yang juga masih akrab sampai hari ini. Mereka selalu membuat hariku tak pernah sepi dengan celotehan di whatsapp, BBM ataupun LINE. Ah, minna hontou ni aitakatta.
Chairo, makasih ya buat balasan suratnya. Speechless bacanya. Shock tau tiba-tiba nulis di note dan dicomment banyak orang itu memalukan. Berasa dapat surat dari penggemar *gayaaa Dan gak nyangka Chai bisa sebegitu puitisnya. Tulisan dari hati emang selalu menyentuh. Meskipun tidak akan mungkin menuliskan kalian hanya dalam lembaran-lembaran Microsoft Word. Terlalu banyak hal yang tidak bisa kutuliskan tentang kalian. Bahkan surat yang 2 lembar bolak-balik itu juga masih terlalu pendek untukku.
Sekarang saya mengerti. Lebih tepatnya baru ingat bahwa manusia memiliki kecenderungan yang disebut naluri. Hati ini memiliki begitu banyak ruang yang diisi oleh sesuatu bernama kenangan. Dan setiap ruangan memiliki hal yang berbeda dan tidak tergantikan.
Seperti halnya kalian. Kalian memiliki tempat istimewa di sini. Tempat yang tidak bisa tergantikan oleh sahabat-sahabatku yang saat ini bersama di tempat ini. Bukan berarti mereka tidak berarti bagiku. Hanya saja tempat kalian berbeda. Dan tempat itu tak bisa tergantikan. Meski rasa untuk kalian semua tetap sama. Semoga rasa ini ada karena Allah semata sehingga suatu saat kita bisa dikumpulkan kembali dalam naunganNya.
Seperti puisi yang berbunyi :
“Ketika seseorang datang dalam hidupmu maka itu adalah sesuatu yang besar. Karena ia membawa seluruh kehidupannya bersama dengannya”.
Ya, puisi itu tidak salah. Maka dalam hubungan apapun, menerima adalah niscaya. Karena setiap orang memiliki banyak ruang dalam hati mereka. Memiliki banyak sisi dalam hidup dan diri mereka.
Mungkin begitu juga denganmu. Hal yang baru saja kutemukan dari sahabat-sahabatku. Bukan karena aku tak berarti bagimu, hanya saja ada tempat yang takkan bisa kutempati di dalam hatimu. Tempat yang hanya bisa diisi oleh mereka yang kau sebut “teman”.

Tomodachi : Teman
Shelter, June 15th 2014. 09:36 PM.
pic from we heart it

Sunday, June 08, 2014

Masih Ada Orang Baik


Balik nulis setelah vakum itu rasanya nano-nano. Jari kaku semua. Bingung mau nulis apa. Rasanya jutaan huruf melayang-layang seperti bintang di langit. Mau nulis huruf apa dulu juga serbasalah. Dan sepertinya emang saya yang lebay (pake) banget :D

  Hari ini ada beberapa peristiwa yang sempat terangkum dalam memori saya. Mungkin isi tulisan sama judulnya “agak” gak nyambung. Tapi, gapapalah. Kan saya yang nulis. Jadi, suka-suka saya dong mau nulis apa *lagak udah kayak diktator*

   Saya kuliah jam 7 pagi. Dari kemarin saya emang udah ngeplot agenda hari ini. Tapi, karena waktunya ternyata gak cukup akhirnya ada beberapa yang digeser. Hari ini saya juga mulai KKN (magang). Jadi, saya bener-bener nyiapin buat hari ini. Seperti biasa, saya melewati jalan yang selama 3 tahun berturut-turut saya lewati. Dan saat tiba di perempatan ketiga, ada yang berbeda. Bukan karena “orang gila” yang suka jalan-jalan keliling kampung tiba-tiba ada di sana. Tapi, karena banyak kursi berjejer. Ya, kursi berjejer pertanda lagi ada hajatan. Tapi, ini bukan hajatan pemirsa. Ada orang yang meninggal. Ya, orang meninggal. Mungkin bagi kebanyakan orang itu biasa, soalnya orang meninggal hampir sama banyaknya dengan orang nikah atau lahiran. Dan emang udah tradisi kalo meninggal mesti melayat trus ngasih makan ke tetangga, dsb. Ini kejadian pertama.

   Kejadian kedua pas saya pulang kuliah. Dengan perut keroncongan, saya melewati jalan yang sama dengan tadi pagi. Sekitar pukul 9. Ternyata di depan gang kontrakan saya baru saja ada yang meninggal. Orang-orang yang biasa lewat naik motor akhirnya pada turun semua trus nuntun motornya. Yang males turun, belok ke gang lain.

  Saya jadi teringat, sebulan yang lalu saya juga dapat kabar meninggalnya kakak salah satu teman dekat saya di SMA. Beliau masih muda. Belum nikah juga. Beliau sailor. Tapi, bukan Sailormoon ya. Bukan bajak laut kayak Luffy juga. Emang pelaut beneran. Bagi saya, ketika melihat atau mendengar berita kematian seperti membangkitkan kenangan masa lalu ketika seseorang yang saya “anggap” penting tiba-tiba dipanggil kembali ke sisi Allah SWT. Dari sana saya akhirnya belajar, usia muda bukan jaminan umur panjang. Sehat bukan jaminan akan terus hidup. Singkatnya, kita bisa mati kapan saja. Karena tak ada satupun dari kita yang tau kapan kita akan mati. Justru karena itu kita berupaya mengumpulkan bekal. Tak lain dan tak bukan adalah ibadah kepadaNya. Bukan sembarang ibadah tapi emang ibadah yang kaffah. Menjalankan seluruh perintah Allah dan laranganNya. Dan benarlah kata Umar Ra. bahwa cukuplah mati sebagai pengingat.

   Trus, apa hubungannya sama masih ada orang baik? Makanya, kan udah saya tulis tadi. Ini rada gak nyambung.

  Okelah. Gini ceritanya. Tadi, dalam perjalanan ke tempat KKN, dalam keadaan jalanan yang cukup padat kendaraan. Karena jalan satu arah, akhirnya nyebrangnya rada susah. Dan tanpa sengaja saya melihat sebuah pemandangan yang “tidak biasa” dalam kacamata saya. Pasalnya, ada seorang cowok yang turun dari motornya bantuin kakek-kakek yang udah pake tongkat buat nyebrang. Cowok itu dibonceng temennya. Dan saya lihat temannya lagi nungguin dia di seberang sembari ngeliatin dia nyebrangin sang Kakek ke seberang jalan. Dan dari ekspresinya, si cowok bener-bener tulus. Meskipun saya gak lihat wajahnya. Soalnya ketutup helm. Sorry, gak maksud jelalatan. Pengen tau aja. Akhirnya scene yang tadi udah kayak edisi Power Ranger nyelamatin penduduk kota dari monster haha :D

            Dalam hati saya bergumam, jarang banget ada orang kayak gitu. Masih muda tapi peduli dengan orang lain. Apalagi di zaman yang kayak sekarang. Elu-elu, gue-gue. Derita lu bukan urusan gue. Ya, ternyata orang baik itu masih ada. Hanya saja, baik secara individu gak cukup untuk bisa memperbaiki seluruh masyarakat. Butuh sebuah sistem yang juga baik agar seluruh masyarakat bisa sama baiknya. Karena bisa jadi, seorang individu akan berubah dalam lingkungan yang memaksa dia untuk berubah.

  Karena sistem hari ini elu-elu gue-gue, makanya orang juga tercetak jadi elu-elu gue-gue dan akhirnya pemandangan kayak Mr. Power Ranger tadi itu juga langkaaaa banget. Coba aja kalo sistemnya itu adalah sistem amanah penuh kepedulian. Gak jaman lagi deh kampanye pencitraan dsb. Karena semua orang udah punya standar yang sama. Pemikiran, perasaan dan aturan.

 Seperti itu juga yang ditunjukkin oleh Rasulullah SAW. ketika membangun masyarakat di Madinah. Beliau bisa menyatukan individu yang heterogen dengan menyuasanakan kesamaan pemikiran, perasaan dan juga aturan. Itulah sistem Rasulullah yang oleh generasi selanjutnya disebut dengan Khilafah Islamiyah.

  So, orang baik hanya akan bisa terwujud dalam sistem yang baik. Tentu bukan sistem yang berasal dari kepala mayoritas yang isinya cuma 3D, duit, duit, duit. Tapi, sistem yang berasal dari Yang Empunya Semesta, yakni Allah SWT. Hanya Syariah.

Wallahu ‘alam bi ash shawaab

Shelter, june 5th 2014. 11:41 PM. Edisi rumah lagi banyak tamu.

Tuesday, June 03, 2014

Together Everyone Achieve More

http://www.dragonbridgecapital.com/
November 2013, saya dinyatakan pindah tim. Awalnya saya berada di tim fakultas dan akhinya saya dipindahkan ke tim fungsional. Tim Kontak Aktivis. Tim yang tugasnya mendakwahkan Islam di kalangan para aktivis kampus. Mungkin, sekilas tim ini terlihat elit karena anggotanya pun sedikit. Tetapi, ternyata perjuangan mereka juga berat. Dan saya akhirnya menyadari, butuh waktu 3 tahun sampai akhirnya saya pantas diamanahi berada di tim ini.

Saya pun belajar bagaimana interaksi dengan aktivis. Jarang kami bisa berdiskusi karena kesibukan mereka yang padat. Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah ada satu atau dua orang, meskipun jarang juga yang sepakat dengan ide yang kami bawa. Tapi, tak apa. Setidaknya kami diberi waktu menyampaikan ide kami. Awalnya di tim ada empat orang termasuk saya. Ada mbak Dina, Kholish dan Salma. Beberapa waktu kemudian ada Che Lyn. Setelah itu, Salma pindah karena sakit, Kholish juga pindah tim karena punya amanah baru dan Che Lyn harus pulang ke Vietnam. Kemudian masuklah personil baru. Anak-anak kecil yang luar biasa. Ada Yeni, Ummu, Khonsa dan Titin. Petualangan baru saya pun dimulai bersama empat anak ini.

Setiap kali rapat, selalu saja ada hal-hal baru yang dicetuskan. Rasa lelah karena harus keliling kampus ke UKM setiap hari terhapus ketika rapat dengan ide-ide kreatif bahkan terkesan absurd. Ummu selalu bisa jadi moodbooster untuk semuanya. Mbak Dina yang selalu menjelaskan apa adanya tapi tidak menggurui, Khonsa dan Titin yang selalu kompak ngikutin imajinasi Ummu. Dan Yeni dengan gayanya sendiri. Saya? Jadi cheerleader hehe, gak ya. Saya juga ikut meramaikan.

Ya, meskipun begitu tentu PR kami masih banyak. Begitupun PR dakwah ini. Menyadarkan umat bahwa sistem Demokrasi hari ini adalah penyebab kerusakan yang terjadi di seluruh dunia. Sistem Demokrasi yang telah memuluskan jalan bagi sistem ekonomi liberal untuk terus menjajah negeri-negeri dengan sumber daya alam yang banyak. Sistem Demokrasilah yang membuat sebuah negeri menjadi negara Korporasi termasuk Indonesia. Maka, sudah saatnya sistem busuk dan rusak ini diganti dengan sistem yang lebih manusiawi yakni sistem yang berasal dari Penciptanya manusia, Allah SWT. Karena semesta ini milik Allah. Saya, Anda, kita semua juga milik Allah. Maka, tak ada alasan bagi kita untuk menolak aturan dari Allah.

Wallahu 'alam bi ash shawaab

Shelter, June 3rd 2014. 09:37 AM. Nungguin Partner in Crime