Gak terasa sudah seminggu sejak
diselenggarakannya Panggung Politik Mahasiswi di kota saya. Acara ini mengusung
tema, Indonesia Lebih Baik; Tinggalkan Demokrasi, Tegakkan Khilafah. Dan untuk
pertama kalinya saya yang terbiasa di belakang layar akhirnya nampang juga,
haha. Tapi, saya gak bakal bahas itu kok.
Mahasiswa dan Pemilu
Tahun
ini merupakan tahun politik bagi Indonesia. Kenapa? Karena tahun ini akan
diselenggarakan Pemilu untuk memiliki calon legislatif (DPR, DPD) serta calon
presiden dan wakilnya. Ajang yang sering disebut-sebut sebagai Pesta Demokrasi
Akbar ini emang diselenggarakan 5 tahun sekali. Tapi, sepertinya animo
masyarakat terkait Pemilu turun drastis dengan meningkatnya angka golput sejak
Pilkada beberapa waktu silam. Namun, perlu diingat bahwa Negara ini memiliki
jumlah pemuda yang sangat besar. Dan sebagian diantaranya adalah mahasiswa. Mahasiswa
dengan latar belakang intelektualitas yang dimiliki mempunyai posisi strategis
dalam Pemilu. Suara mereka termasuk dalam suara yang diperhitungkan. Jadi, gak
heran kalo para caleg dan bahkan capres juga rame-rame ngegaet mahasiswa di
parpolnya untuk menyukseskan langkah mereka di Pemilu mendatang.
Sayangnya
mahasiswa hari ini tidak cukup cerdas untuk melihat permasalahan yang ada. Karena
sebagian belum mampu menentukan sikap atas perpolitikan yang terjadi. Padahal,
sebenarnya mereka memiliki peran strategis untuk mengawal perpolitikan bangsa. Sayangnya,
pragmatisme yang ditanamkan melalui sistem pendidikan membuat para mahasiswa
hanya sibuk dengan urusan mereka sendiri. Tidak sedikit yang apatis terhadap
politik. Mereka lebih banyak memilih untuk tidak peduli. Jika pun tau mereka
akan pura-pura tidak tahu. Entah untuk menyelamatkan diri atau karena memang
terlalu lelah dengan beban perkuliahan. Bagi yang hanya bisa membebek, mereka
akhirnya dijadikan mesin pencetak suara. Dan bagi mereka yang terjebak dalam
hipnotis Demokrasi, akan memberikan sejuta harapan mereka kepada salah satu
caleg atau capres partai dengan harapan bahwa suatu saat harapan itu akan
terwujud. Sedang sisanya ada yang golput karena tidak percaya dan sudah sangat
apatis terhadap perpolitikan bangsa ini.
Demokrasi, Bukan Hanya Sekedar Memilih
Pemimpin
Masih
banyak pemuda yang menganggap bahwa Demokrasi adalah proses pemilihan pemimpin.
Sehingga para pemuda, khususnya mahasiswa masih ada yang menggembar-gemborkan
kampanye Anti Golput dan sebagainya. Padahal, sejak SD kita sudah diajarkan
tentang definisi Demokrasi, yakni pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat. Artinya
kedaulatan ada di tangan rakyat. Itu berarti pula bahwa rakyat yang berhak
membuat hukum. Akhirnya dipilihlah wakil rakyat untuk menjadi pembuat hukum yang
nantinya akan menduduki kursi DPR. Masa saya harus bilang kalo orang-orang hari
ini gagal paham tentang definisi Demokrasi? Tapi, itu fakta. Dan lihatlah
prestasi Demokrasi di negeri ini. Hampir seluruh sumber daya alam menjadi milik
asing. Kita tidak lebih dari budak di negeri sendiri. Kekayaan yang harusnya
kita nikmati hanya kita peroleh dengan menjadi buruh di perusahaan yang
mengelola kekayaan tersebut. Para mahasiswa digiring untuk menjual ilmu mereka
ke perusahaan-perusahaan swasta, khususnya asing. Pemuda tidak lebih dari mesin
produksi. Mesin pencetak uang. Di sisi lain, liberalisme terus menguat. Pergaulan
bebas tumbuh subur, aborsi meningkat, prostitusi menjamur, narkoba tak pernah
berkurang, tawuran pelajar tak pernah ada habisnya. Rusaknya generasi menambah
suram masa depan bangsa ini. Di sisi lain, para elit politik tak pernah peduli.
Alih-alih memberikan edukasi pada rakyat, mereka justru menyuap rakyat untuk
memberikan suara dalam Pemilu. Tak sedikit pula partai Islam yang akhirnya
terjebak pragmatisme politik. Berharap bisa menegakkan Islam melalui parlemen,
namun mereka justru mencelupkan diri mereka dalam jebakan yang dibuat oleh
Demokrasi. Maka jelaslah bahwa Demokrasi itu rusak dan merusak. Rusak konsepnya
dan merusak siapa saja yang menjadi pendukungnya.
Islam Memuliakan Peran Politik Pemuda
Hal
ini berbeda dengan Islam. Islam sungguh memuliakan peran politik pemuda. Pemuda
yang merupakan generasi penerus peradaban memiliki peran strategis dalam Islam.
Islam dengan Khilafah akan mampu mencetak generasi visioner, generasi yang ahli
dalam berbagai bidang, pun aktif dalam upaya mengkritisi penguasa yang
menyimpang dari Syariat Allah. Dan ini tidak akan mungkin terwujud dalam sistem
Demokrasi. Melalui sistem pendidikan akan dicetak generasi-generasi brilian
yang akan menjadi ilmuwan sekaligus negarawan yang berdiri tegak di atas
kebenaran, yakni ideologi Islam. Karena politik di dalam Islam bukanlah ajang
rebutan kekuasaan, tetapi pengaturan urusan rakyat oleh Negara.
Sejarah
telah mencatat bagaimana Islam mampu mencetak generasi visioner sejak masa
Rasulullah hingga kekhilafahan terakhir yakni Khilafah Utsmany. Sebut saja Mush’ab
bin Umair, Saad bin Muadz, Sa’ad bin Abi Waqqash, Usamah bin Zaid, Ibnu Sina,
Ibnu Khaldun, Al Khawarizmi, hingga Muhammad Al Fatih. Mereka semua adalah
tokoh besar dan generasi yang dicetak dalam Daulah Khilafah. Sangat berbeda
dengan sistem Demokrasi yang justru mencetak generasi alay bin lebay yang
sukanya hura-hura, having fun dan suka segala cara yang instan.
Islam
juga akan melindungi generasi dari distorsi moral dengan sistem pergaulan. Didukung
dengan dua suprasistem, yakni ekonomi dan politik sehingga para pemuda mampu
menjadi generasi cemerlang pewaris peradaban gemilang.
Kick Democrazy, Stuggle For Khilafah
69
tahun bangsa ini merdeka dengan penerapan sistem Demokrasi yang bermacam-macam,
namun kesejahteraan justru menjadi utopia yang semakin membuat negeri ini
gersang dari kepercayaan. Maka sudah cukup tipuan ini memperdayakan kita, para
mahasiswa. Saatnya membuang Demokrasi ke tong sampah peradaban. Karena sistem
ini tak lebih dari ilusi.
Dan
sebagai seorang Muslim yang beriman kepada Allah dan RasulNya, sudah saatnya
kita mengambil kembali apa yang seharusnya kita genggam erat-erat, yakni
Syariat Allah. Maka berjuanglah untuk menegakkannya kembali di bawah naungan
Khilafah bersama jamaah yang juga memiliki visi melanjutkan kehidupan Islam di
bawah naungan Khilafah.
Jika
kau tidak ingin terbawa arus, maka ciptakanlah arus baru. Melawanlah atau kau
akan kalah. Saatnya ambil bagian dalam sejarah menuju abad Khilafah Rasyidah
yang kedua.
Khairunnisa,
March 16th 2014. Salam Perjuangan, Salam Revolusi.
Saudarimu,
Ditri
Ayu R.A.L.
Panggung
Politik Mahasiswi adalah acara yang diselenggarakan oleh Muslimah Hizbut Tahrir
Indonesia. Acara ini berlangsung di seluruh Indonesia selama bulan Maret.
