Kendari, Juni 2010.
Waktu itu sedang musim hujan. Setiap hari,
matahari seolah senang bersembunyi dibalik awan hitam dan hujan lebih
senang bermain mengiringi waktu yang berputar 24 jam dalam sehari.
Setelah melewati masa-masa kritis Ujian Nasional, kami kembali
disibukkan dengan persiapan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi
Negeri atau SNMPTN. Lulus SMA itu antara bahagia dan sedih. Akhirnya,
masa sekolah terlewati. Hal yang paling kusukai adalah terlepas dari
seragam meski kadang-kadang aku merindukan saat-saat aku memakai seragam.
Seragam sekolah yang selalu menjadi kontroversi dan angin tornado bagi
kami, aktivis dakwah sekolah. Bagi yang ikhwan (laki-laki) mungkin tidak
ada masalah. Tetapi, tidak bagi kami para akhwat (perempuan).
Penampilan kami tentu sangat mencolok terutama pada saat pelajaran
olahraga. Namun, setelah lulus tentu hal itu tidak akan kami alami lagi.
Dan satu hal yang pasti, kami akan meninggalkan rohis sekolah yang
sudah memberi kami begitu banyak kenangan. Kala mengingat saat-saat itu,
tak terasa mata ini basah. Tiba-tiba saja air mata itu tidak
terbendung. Hmm, masa-masa SMA.
Detik-detik menjelang ujian
SNMPTN. Aku dan teman-temanku sibuk belajar untuk mempersiapkannya.
Mimpi kami adalah masuk universitas dan tetap berdakwah seperti saat
SMA. Namun, dengan sistem yang tidak mendukung, kami harus dibenturkan
dengan kenyataan. Mengorbankan salah satunya. Dalam hati, aku hanya
berpikir, aku hanya ingin berdakwah. Dan masuk universitas juga agar
tetap bisa berdakwah. Namun, tidak semua teman halaqohku berpikiran
sama. Salah seorang dari kami harus mundur karena terpaksa. Tuntutan
keluarga dan tekanan yang dialaminya membuatnya harus mengorbankan
dakwah meski itu berat sekali baginya. Dan kuakui, dia cukup kuat untuk
menanggung semua beban itu.
Awalnya kami berempat. Namun, di
akhir hanya ada kami bertiga. Aku, dan dua yang lain. Kesepian pasti
kami rasakan. Dan sekarang aku bisa mengerti apa yang ada dipikiran
musyrifahku pada saat itu. Beberapa kali ia tidak mengikuti halaqoh
karena harus bimbingan belajar untuk SNMPTN. Sementara aku dan kedua
temanku hanya berusaha semampu kami belajar sendiri dari buku yang kami
beli.
Jumat sore. Adalah jadwal halaqoh kami. Sewaktu masih
sekolah, kami biasanya halaqoh dengan seragam sekolah. Kitab pasti kami
selipkan diantara buku-buku pelajaran yang membuat tas kami selalu penuh
seperti orang mau pindah rumah. Apalagi saat menjelang UN. Kadang, aku
merasa egois karena waktu itu halaqohnya selalu mepet dengan jadwal les
di sekolah. Seolah halaqoh itu hanya mendapat waktu sisa kami saja.
Ironis sekali.
Mendung. Namun, hujan belum juga turun.
Setelah sejam halaqoh, kami bercanda dulu dengan anak-anak musyrifahku
yang masih kecil-kecil.
“Pada gak pulang? Udah mau hujan lho,” kata musyrifahku, mencoba mengingatkan kami yang asik bermain dengan Aqilah dan adiknya.
“Hhe, iya Kak. Ini juga mau pulang kok,” kata Mala, temanku.
Setelah
berpamitan, kami pun pulang. Di perjalanan pulang, seperti biasa kami
melewatinya dengan bercanda mulai dari hal yang paling tidak penting
sampai tentang cita-cita kami ke depan. Dan tidak ketinggalan, harapan
agar teman kami itu bisa kembali halaqoh bersama kami.
Saat tengah asik bercanda, tiba-tiba rintik hujan turun.
“Eh, ayo cepat. Ntar kita kehujanan,” kataku pada Mala & Ifa.
“Baru juga hujan segini, Dit. Tenang aja, cuma gerimis,” kata Mala.
“Eh,
kamu sih enak. Bentar lagi nyampe rumah. Lha, aku? Harus naik angkot
dulu. Aku gak mau diomelin supirnya kalo basah,” kataku sambil
mempercepat langkahku. Ifa yang jalannya paling lambat diantara kami
hanya bisa pasrah.
Perlahan tapi pasti. Dan akhirnya menjadi deras.
“Tuh kan, aku bilang juga apa. Ayo, cepetan!,” kataku sambil berlari.
“Hei, tungguin Dit,” kata Mala.
“Tungguin. Jangan pada lari napa?” teriak Ifa.
“Yee, kamu sih udah kayak gini masih pake gaya tuan putri. Gak laku,” kataku pada Ifa.
Berlari
di tengah hujan dan tertawa bersama. Hal terindah yang masih bisa
kuingat dari teman-temanku. Karena sebulan setelah itu, kami semua masuk
universitas. Hanya Mala yang tetap di Kendari. Ifa dan Fitri akhirnya
diterima di universitas yang ada di Makassar. Sedangkan aku, aku di
sini. Di tempat yang jauh.
Alhamdulillah, syukurku tak terkira
karena kami masih bisa berdakwah di kampus kami sekarang. Masih bisa
merasakan manisnya perjuangan dan indahnya berjama’ah. Kadang, terbersit
rasa rindu untuk bertemu karena saat pulang ke rumah juga jarang
bertemu. Beruntung, sekarang ada jejaring sosial. Kami masih tetap bisa
berkomunikasi di sana meskipun sekarang kesibukan dan amanah dakwah kami
berbeda.
I always proud of you ukhti. Now, all of you have
surpassed me. I’m not as perfect as you all can see. I’m just a human
being. And now, all of you can do better than me, right?
Someday, if
we have chance to meet again, I hope we can be the best in this dakwah’s
way. And of course we can see Khilafah in front of us. Uhibbukum
fillah. Love you in Allah as always.
Special for Nur Mala
Sari & Arisa Sativa L. Jazakumullah khairan katsir untuk kenangan
terbaik yang selalu bisa jadi penyemangat.
El Liwa, February 2nd 2013.
Your sister in Allah.
Ditri Ayu R.A.L.