Monday, February 04, 2013

Kita & Hujan

Kendari, Juni 2010.

Waktu itu sedang musim hujan. Setiap hari, matahari seolah senang bersembunyi dibalik awan hitam dan hujan lebih senang bermain mengiringi waktu yang berputar 24 jam dalam sehari. Setelah melewati masa-masa kritis Ujian Nasional, kami kembali disibukkan dengan persiapan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri atau SNMPTN. Lulus SMA itu antara bahagia dan sedih. Akhirnya, masa sekolah terlewati. Hal yang paling kusukai adalah terlepas dari seragam meski kadang-kadang aku merindukan saat-saat aku memakai seragam. Seragam sekolah yang selalu menjadi kontroversi dan angin tornado bagi kami, aktivis dakwah sekolah. Bagi yang ikhwan (laki-laki) mungkin tidak ada masalah. Tetapi, tidak bagi kami para akhwat (perempuan). Penampilan kami tentu sangat mencolok terutama pada saat pelajaran olahraga. Namun, setelah lulus tentu hal itu tidak akan kami alami lagi. Dan satu hal yang pasti, kami akan meninggalkan rohis sekolah yang sudah memberi kami begitu banyak kenangan. Kala mengingat saat-saat itu, tak terasa mata ini basah. Tiba-tiba saja air mata itu tidak terbendung. Hmm, masa-masa SMA.
 

Detik-detik menjelang ujian SNMPTN. Aku dan teman-temanku sibuk belajar untuk mempersiapkannya. Mimpi kami adalah masuk universitas dan tetap berdakwah seperti saat SMA. Namun, dengan sistem yang tidak mendukung, kami harus dibenturkan dengan kenyataan. Mengorbankan salah satunya. Dalam hati, aku hanya berpikir, aku hanya ingin berdakwah. Dan masuk universitas juga agar tetap bisa berdakwah. Namun, tidak semua teman halaqohku berpikiran sama. Salah seorang dari kami harus mundur karena terpaksa. Tuntutan keluarga dan tekanan yang dialaminya membuatnya harus mengorbankan dakwah meski itu berat sekali baginya. Dan kuakui, dia cukup kuat untuk menanggung semua beban itu.


Awalnya kami berempat. Namun, di akhir hanya ada kami bertiga. Aku, dan dua yang lain. Kesepian pasti kami rasakan. Dan sekarang aku bisa mengerti apa yang ada dipikiran musyrifahku pada saat itu. Beberapa kali ia tidak mengikuti halaqoh karena harus bimbingan belajar untuk SNMPTN. Sementara aku dan kedua temanku hanya berusaha semampu kami belajar sendiri dari buku yang kami beli.


Jumat sore. Adalah jadwal halaqoh kami. Sewaktu masih sekolah, kami biasanya halaqoh dengan seragam sekolah. Kitab pasti kami selipkan diantara buku-buku pelajaran yang membuat tas kami selalu penuh seperti orang mau pindah rumah. Apalagi saat menjelang UN. Kadang, aku merasa egois karena waktu itu halaqohnya selalu mepet dengan jadwal les di sekolah. Seolah halaqoh itu hanya mendapat waktu sisa kami saja. Ironis sekali.


Mendung. Namun, hujan belum juga turun. Setelah sejam halaqoh, kami bercanda dulu dengan anak-anak musyrifahku yang masih kecil-kecil.
“Pada gak pulang? Udah mau hujan lho,” kata musyrifahku, mencoba mengingatkan kami yang asik bermain dengan Aqilah dan adiknya.
“Hhe, iya Kak. Ini juga mau pulang kok,” kata Mala, temanku.


Setelah berpamitan, kami pun pulang. Di perjalanan pulang, seperti biasa kami melewatinya dengan bercanda mulai dari hal yang paling tidak penting sampai tentang cita-cita kami ke depan. Dan tidak ketinggalan, harapan agar teman kami itu bisa kembali halaqoh bersama kami.

Saat tengah asik bercanda, tiba-tiba rintik hujan turun.

“Eh, ayo cepat. Ntar kita kehujanan,” kataku pada Mala & Ifa.
“Baru juga hujan segini, Dit. Tenang aja, cuma gerimis,” kata Mala.
“Eh, kamu sih enak. Bentar lagi nyampe rumah. Lha, aku? Harus naik angkot dulu. Aku gak mau diomelin supirnya kalo basah,” kataku sambil mempercepat langkahku. Ifa yang jalannya paling lambat diantara kami hanya bisa pasrah.

Perlahan tapi pasti. Dan akhirnya menjadi deras.

“Tuh kan, aku bilang juga apa. Ayo, cepetan!,” kataku sambil berlari.
“Hei, tungguin Dit,” kata Mala.
“Tungguin. Jangan pada lari napa?” teriak Ifa.
“Yee, kamu sih udah kayak gini masih pake gaya tuan putri. Gak laku,” kataku pada Ifa.

Berlari di tengah hujan dan tertawa bersama. Hal terindah yang masih bisa kuingat dari teman-temanku. Karena sebulan setelah itu, kami semua masuk universitas. Hanya Mala yang tetap di Kendari. Ifa dan Fitri akhirnya diterima di universitas yang ada di Makassar. Sedangkan aku, aku di sini. Di tempat yang jauh.

Alhamdulillah, syukurku tak terkira karena kami masih bisa berdakwah di kampus kami sekarang. Masih bisa merasakan manisnya perjuangan dan indahnya berjama’ah. Kadang, terbersit rasa rindu untuk bertemu karena saat pulang ke rumah juga jarang bertemu. Beruntung, sekarang ada jejaring sosial. Kami masih tetap bisa berkomunikasi di sana meskipun sekarang kesibukan dan amanah dakwah kami berbeda.

I always proud of you ukhti. Now, all of you have surpassed me. I’m not as perfect as you all can see. I’m just a human being. And now, all of you can do better than me, right?
Someday, if we have chance to meet again, I hope we can be the best in this dakwah’s way. And of course we can see Khilafah in front of us. Uhibbukum fillah. Love you in Allah as always.


Special for Nur Mala Sari & Arisa Sativa L. Jazakumullah khairan katsir untuk kenangan terbaik yang selalu bisa jadi penyemangat.


El Liwa, February 2nd 2013.

Your sister in Allah.

Ditri Ayu R.A.L.