“It’s not about fate, it’s not about destiny. But it’s about choice”.
Pasti pada bingung. Apa maksudnya nih Author nulis kata-kata aneh kayak gitu? Eittt, jangan bingung dulu. Pertanyaan kalian akan terjawab seiring dengan waktu *mulai kumat gejenya* eh maksudnya seiring dengan membaca tulisan ini, hehe.
Di sub-bab My Story yang sebelumnya kita bicara tentang 3 pertanyaan yang pastinya pernah terbersit dalam benak kita. Masih ingat? Ya udah, kalo lupa diingatkan lagi. Tiga pertanyaan itu adalah tiga pertanyaan mendasar (uqdatul kubra) dalam diri manusia yang merupakan akar dari segala pertanyaan yang nantinya akan muncul seiring dengan terjawabnya tiga pertanyaan tadi. Bingung? Ya udah, mari kita bahas J
Tiga pertanyaan itu adalah, dari mana kita berasal; untuk apa kita hidup di dunia; dan mau kemana kita setelah mati. Ketika kita bisa menjawab tiga pertanyaan ini, maka segala pertanyaan lain dalam hidup kita akan terjawab dengan sendirinya. Kenapa? Ya, seperti yang Author bilang tadi, tiga pertanyaan ini adalah pertanyaan-pertanyaan mendasar (uqdatul kubra). Dari sini juga manusia akan menemukan sesuatu yang dinamakan keyakinan atau faith atau bahasa kerennya aqidah. Semuanya bukan takdir, semuanya bukan nasib, tapi merupakan pilihan. Kenapa? *lagi-lagi tanya kenapa* Karena kita semua bebas menjawab sesuai dengan apa yang kita pahami. Kita semua bebas menjawab sejauh mana akal kita bekerja untuk menjawabnya.
Terkait dengan jawabannya, pertanyaan ini punya 3 tipe jawaban. Tapi, sebelum itu mari kita coba jawab dulu. Setelah itu, kita cocokin jawaban kita. Termasuk tipe manakah kita? *hoho, udah kayak main teka-teki* Ok, langsung ke pertanyaannya *backsound menegangkan*
Dari mana kita berasal?
Mungkin, dulu ketika kita masih kecil kita selalu beranggapan bahwa kita berasal dari orang tua kita. Trus, orang tua kita berasal dari kakek-nenek kita, terus kakek-nenek kita berasal dari buyut kita, dan seterusnya sampai kita sendiri capek. Hingga akhirnya kita mikir, kayaknya semua itu gak ada dengan sendirinya. Buktinya? Alam semesta ini sangat luar biasa. Ada gunung, langit, sungai, awan. Kalo malam ada bulan dan bintang, kalo siang ada matahari. Semua teratur dan gak ada cacat sama sekali. Diri kita sendiri pun seperti itu. Bisa berdiri dengan dua kaki, punya mata yang bisa mengidentifikasi apa saja, punya telinga yang bisa mendengar suara jenis apapun dan banyak lagi. Hmm, berarti semua ini ada yang nyiptain. Gak mungkin ada dengan sendirinya. Kalo gitu, jawaban untuk pertanyaan pertama, kita berasal dari Sang Pencipta. Dan ternyata Pencipta itu gak hanya menciptakan. Tapi, Dia juga mengatur. Gak mungkin semua ini bisa berjalan tanpa ada pengaturan dari Dia. Iya apa iya?
Untuk apa kita hidup?
Kalo jawaban untuk pertanyaan ini pasti akan bermacam-macam. Ada yang mau nyari kebahagiaan, ada yang mau nyari kesejahteraan, dan lain sebagainya. Wajarlah, namanya juga manusia. Itu hanyalah perwujudan dari naluri mereka. Mana ada sih manusia yang pengen hidup susah? Gak ada. Semuanya nyari kebahagiaan. Cuma, standarnya aja yang beda-beda. Maka dari itu, jawaban untuk pertanyaan kedua ini juga beda.
Nah, kalo kita pikir-pikir lagi. Di awal kan kita udah ngejawab kalo kita itu adalah makhluk. Kenapa? Karena kita diciptakan. Dan ternyata kita tidak hanya diciptakan tapi kita juga diatur. Itu konsekuensi kita sebagai seorang makhluk. Mau gak mau, suka gak suka, kita harus siap diatur. Karena, Pencipta kita gak Cuma nyiptain tapi juga ngatur. Baik banget kan? Kita gak perlu capek-capek mikirin gimana kita harus ngatur diri kita. Kalo gitu, kita bisa ngambil kesimpulan dong bahwa kita hidup di dunia ini untuk diatur. Dan itu berarti kita harus menjalankan aturan dari Pencipta tadi dengan atau tanpa dipaksa. Trus, gimana dengan kebahagiaan dan kesejahteraan serta ketentraman? Kalo soal itu, kita tidak perlu khawatir. Semua kan udah diatur. Otomatis semua udah ada standarnya. Dan kalo pake standar itu, apa yang kita cita-citakan sebagai manusia pasti akan tercapai dengan sendirinya. Kenapa? Ya, karena standarnya jelas, dari Pencipta yang mengetahui segala seluk-beluk kita. Gak percaya? Silahkan diuji.
Mau kemana kita setelah mati?
Setelah kehidupan pasti ada kematian. Itulah hukum alam. Semua pasti percaya kan bakalan jadi penghuni kuburan? Oh, of course. Manusia itu sebenarnya adalah calon mayat. Pastinya. Semakin bertambahnya umur, sebenarnya kita makin dekat dengan sebuah gerbang bernama kematian *menyeramkan banget kata-katanya. Tapi, ini emang fakta. So, gak perlu takut* Kebangetan kalo ada yang percaya dia gak bakal mati. Berarti dia udah pantes jadi penghuni RSJ. Tapi, pembahasan kita bukan itu *kok malah jadi ngelantur kemana-mana ya? Wah, Authornya ngantuk nih*
Kita semua pasti sering lihat. Setiap hari ada yang lahir, tapi setiap hari pula ada yang meninggal. Begitu selalu. Lalu, pertanyaannya mau kemana kita setelah kehidupan ini? Apakah sekedar mati trus menyatu dengan tanah jadi jasad renik dan akhirnya jadi bahan bakar fosil? Kayaknya gak deh. Ya emang gak. Kenapa? Coba lihat lagi, jawaban kita sebelumnya. Yang pertama, kita ini diciptakan dan gak hanya diciptakan. Kita juga diatur. Kedua, kita hidup untuk diatur dan menjalankan peraturan dari Pencipta. Trus, ternyata kita punya time limit di dunia ini. Makanya, kita harus serius untuk diatur. Oh, kalo gitu nanti kita gak hanya sekedar mati dong? Yup, bener banget. Karena kita berasal dari Pencipta, berarti ketika kita meninggal kita akan kembali kepadaNya. Trus, apa kita Cuma dikembalikan? Pastinya gak. Kenapa? *tuh, pasti banyak kata kenapa* Karena kita makhluk yang diatur. Berarti kita kudu bertanggung jawab sama Pencipta sejauh mana kita tunduk sama aturanNya. Jadi, jawaban untuk pertanyaan ketiga adalah kita akan dikembalikan kepada Pencipta kita untuk mempertanggung jawabkan semua yang kita lakukan di dunia. Setuju kan? *harus setuju*
Nah, mari kita lihat 3 tipe jawaban dari 3 pertanyaan mendasar tadi.
Sosialisme-Komunisme
Paham Sosialisme-Komunisme ini punya jawaban terkait 3 pertanyaan tadi. Bahwasanya kita berasal dari materi; kita hidup untuk mencari kebahagiaan dengan standar materi alias standar kita sendiri. Suka-suka kita mau memaknai kebahagiaan itu seperti apa; dan setelah kehidupan ini kita akan menjadi materi. Whoa, fantastis kan? Ya, fantastis sesatnya karena paham ini gak percaya dengan adanya Pencipta yang mengatur kehidupan. Ia hanya percaya sama apa yang bisa diinderanya.
Kapitalisme-Sekularisme
Kalo paham ini jawabannya unik. Jawabannya adalah bahwa kita berasal dari Pencipta; tapi kita hidup untuk mencari kebahagiaan dengan standar materi. Sama kayak paham Soskom. Jadi, menurut paham ini, Pencipta itu gak usah ikut campur. Yang menjalani kehidupan kan dia sendiri. Ngapain Pencipta ikut campur? Gak ada urusan Dia dengan dunia ini. Urusan Pencipta itu nanti. Dan kemana setelah hidup ini jawabannya adalah kembali kepada Pencipta tapi Cuma kembali aja. Paham ini tuh lupa tujuan dia diciptakan. Ya iyalah, orang jawabannya aja ngawur. Berani-beraninya dia menggugat otoritas Pencipta untuk mengatur kehidupan. Emang dia siapa?
Islam
Nah, kalo yang ini jawabannya extraordinary. Islam menjawab bahwasanya kita berasal dari Pencipta. Kenapa? Karena, kita itu lemah, terbatas dan selalu butuh yang lain. Gak percaya? Buktiin aja sendiri. Trus, siapa Pencipta itu? Pencipta itu adalah Allah swt. (QS. Al-Araf [7] : 54). Karena kita adalah makhluk yang diciptakan maka kita hidup di dunia ini adalah untuk taat sama Pencipta kita yakni Allah swt. Apa bentuk ketaatan kita? Yaitu dengan beribadah kepadaNya. Gak hanya nyembah lho ya, tapi menjalankan semua aturan dari Allah (QS. Adz Dzariyaat [51] : 56). Terus, setelah kehidupan ini kita akan dikembalikan kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita selama di dunia, apakah kita benar-benar beribadah dengan ketaatan yang sempurna ataukah tidak dan ada balasan untuk kita (QS. al Anbiya [21] : 35).
Nah, itu tadi 3 tipe jawabannya. Semua jauh beda kan? Kira-kira, jawaban kita yang tadi mirip dengan tipe yang mana? Silahkan jawab sendiri. Sampai ketemu di sub-bab selanjutnya ^_^
To be continued..